Nama Untuk Anakku

Karena nama adalah do'a. Ungkapan itu yang mungkin telah mendorong jutaan pasangan suami istri untuk memberikan nama yang baik bagi buah hatinya. Nama yang mengandung do'a dan harapan agar kelak sang anak juga memiliki sifat yang sama dengan nama yang melekat padanya. Namun ternyata merancang sebuah nama tidak semudah yang dibayangkan. Berbagai ikhtiar pun dilakukan, ada yang sengaja membeli buku nama-nama bayi, ada yang mencari lewat internet, ada yang minta masukan nama kepada ustadz/ustadzah, ada yang konsultasi online, dan lain-lain. Jutaan nama baik yang berasal dari bahasa Arab, Sansekerta, Jawa, Sunda, dan suku-suku lain serta bahasa asing lainnya dirangkai sedemikian rupa agar menjadi nama yang indah. Namun jangan salah, alih-alih memberi nama indah pada anak, malah menjadi masalah di kemudian hari. Misalnya nama terlalu panjang, nama sulit dilafal, nama sulit dihafal dan nama ternyata mengandung makna keburukan.

Saya sendiri cenderung ingin memilih nama yang sederhana, mudah dilafal, memuat nama keluarga (nama ayah) dan tentunya juga mengandung makna yang baik. Dengan nama yang sederhana dan mudah dilafal, maka nama sang anak akan mudah dihapal. Hal ini juga memudahkan orang-orang sekitar baik itu keluarga, teman-temannya, atau tetangga untuk memanggil dan mengingat namanya. Jika sang anak mempunyai nama yang panjang, namun dia memiliki nama panggilan, itu juga akan memudahkan. Hanya saja orang-orang akan terus memanggil dan mengingat dia dengan nama panggilannya, lalu lupa dengan nama lengkapnya.

Lalu apa perlu menggandengkan nama ayah di belakang nama anak? Ya gak harus toh. Yang saya tahu di Malaysia banyak yang memberi nama anak yang nama belakangnya ditambah bin atau binti kemudian diikuti dengan nama ayahnya. Pernah saya ngobrol dengan seorang sahabat, jika kelak ia memiliki anak, ia ingin menggandengkan nama ayahnya dengan nama sang anak, asal nama ayahnya bagus. hehe.. boleh juga tuh. Ada juga yang tidak menggandengkan nama ayahnya dengan nama anaknya karena nama ayahnya cukup 'berat', contohnya apa ya? Beberapa alasan menggandengkan nama ayah dengan anak antara lain :
1. Akan menumbuhkan rasa menghormati di dalam jiwa anak
2. Menumbuhkan kepribadian sosialnya. Sebab, si anak dianggap dewasa dan merasa diberi penghormatan
(Diambil dari Pendidikan Anak Dalam Islam, Prof. Dr. Abdullah Nashih Ulwan).
Sebenarnya rada maksa juga sih pustaka ini diambil, soalnya yang dimaksud menggabungkan nama ayah dengan anak disini adalah memanggil nama ayah dengan nama anaknya yang diawali dengan kata Abu atau Ummu. Misalnya sang anak bernama Hurairah, maka Ayah dipanggil dengan nama Abu Hurairah, atau sang anak bernama Aufa, maka Ibunya dipanggil dengan nama Ummu Aufa. Tapi sekali lagi, tidak harus menggabungkan nama ayah dengan nama anak. Hal itu hanyalah sebuah pilihan. Dan yang susah adalah bagaimana menggabungkan nama tersebut agar terdengar indah dan tidak terkesan maksa. Ada yang punya dan mau berbagi pengalaman?

Adapun makna sebuah nama adalah hal yang paling utama. Banyak kisah dimana anak-anak setelah dididik sekian lama ternyata memiliki sifat yang sama dengan arti namanya. Misalnya ketika diberikan nama Farah yang artinya riang gembira, ia menjadi anak yang periang dibandingkan saudara-saudaranya yang lain. Dan makna inilah yang menjadi harapan bagi kedua orang tua. Sahabat saya Sesq, memberi nama putranya Farouq Hafizhuddin dengan harapan ia mampu membedakan mana yang benar dan yang salah sejak dini dan kelak tumbuh sebagai pemuda yang hanif dan adil (copas dari notenya sesQ..hehe), dan memang sejak kami masih muda..halah..sahabat saya yang satu ini ingin anaknya kelak faham akan Al Qur'an. Dan harapan itu terangkum dalam nama indah putranya sekarang. Lain lagi dengan sahabat saya yang lain, Anisa. Nama putrinya adalah Khaylannisa Azzahra. Yang saya tahu, Icha atau anisa ini suka banget dengan nama az zahra. Apa icha terinspirasi dengan kehidupan Fatimah Azzahra? wah kita tanya langsung aja ya.. :). Lalu ada nama Rausyan Fikri Luqman, putra pasangan Megawati (Echa) dengan Lucky Lukman. Begitu mendengar nama ini, saya langsung berpikir, "pas banget".. karena ada nama tengah fikri disana. Menurut saya, echa dan lucky memang para pemikir sejati, cerdas, tajam dan berwawasan luas.. jadi wajar kalau mereka kelak ingin putranya juga bisa nyambung kalo ngobrol tentang masalah ekonomi, politik atau industri.hehe..CMIIW ya cha. Dan ratusan nama lainnya yang mengandung ratusan makna sehingga kelak menjadi ratusan kepribadian yang akan mewarnai dunia ini, dengan warna yang indah.

Ah, sahabat-sahabat sudah berhasil merangkai nama bagi putra-putri mereka. Dan kini tengah berikhtiar mendidik putra-putrinya dengan nama yang melekat kepadanya. Kini giliran kami dan sahabat-sahabat kami yang lain yang tengah atau akan menanti kelahiran bayi mungilnya untuk juga merangkai nama dengan harapan akan menjadi nama yang diridhoi.. Semangat!!

-Untuk Sesq, Icha, Echa-Lucky, maap ya nama putra-putrinya jadi bagian note ini. koreksi kalo salah ya..=)

Bahkan Ibu Pun Suka Cerita Anak

Tak terasa usia kandungan saya sudah menginjak 36 minggu. Detik-detik kritis menjelang due date semakin menegangkan. Rasanya baru sedikit yang dipersiapkan. Beberapa kali saya hubungi teman2 yang sudah terlebih dahulu melahirkan. Saya tanya pengalaman mereka tentang pra, proses dan pasca melahirkan. Ada yang lancar, ada pula yang tidak sesuai dengan rencana. Jadi teringat dengan note sesQ, bahwa proses melahirkan adalah rezeki masing-masing ibu dan calon ibu. Kita hanya bisa berharap dan berencana sedangkan takdir adalah kuasa-Nya.

Berbicara tentang menunggu kelahiran, akhir-akhir ini saya punya kebiasaan baru. Sebenarnya tidak terlalu baru karena sejak usia kandungan sekitar 5 atau 6 bulan saya juga melakukannya. Namun sekarang lebih rutin karena saya memiliki cukup banyak waktu a.k.a nganggur di rumah, apalagi ketika sedang ditinggal pergi suami ke Palembang. Dan sebuah iklan produk susu ibu hamil berhasil memengaruhi saya, katanya suatu kebiasaan baik jika ibu bisa membacakan cerita dan memperdengarkan musik klasik 2 kali sehari. Di tengah-tengah aktivitas harian ibu rumah tangga, kegiatan rutin 2 kali sehari itu saya kerjakan. Diam2 saya merasakan manfaat lebih dari kegiatan itu bagi diri saya pribadi, terutama kegiatan membacakan cerita pada janin.

Dalam sebuah hadist riwayat Thabrani, Rasulullah SAW bersabda "Didiklah anak-anak kalian pada tiga hal : mencintai Nabi, mencintai keluarganya dan membaca Al-Qur'an". Berangkat dari hadist ini, saya coba pilihkan buku cerita dengan tema kisah hidup nabi muhammad SAW, kisah para nabi dan asmaul husna. Niatnya agar cerita-cerita pertama yang ia dengar adalah cerita bertema islam, bukan tentang kisah 1001 malamnya aladdin atau yang lain. Pernah juga tertarik untuk membeli buku cerita rakyat indonesia yang sarat dengan petuah, tapi uangnya gak cukup..hehe.

Cerita pun dimulai. Membaca cerita seolah-olah ada anak di depan kita mendengarkan sungguh menggelikan. Terkadang tangan pun ikut bergerak seirama dengan percakapan dalam cerita tersebut. Intonasi dibuat semenarik mungkin. Karena semakin menarik, semakin kuat ia menendang perut kita. Entah ia mengerti atau tidak yang pasti mungkin ia juga merasa geli mendengar suara ibunya yang bervariasi tak karuan..hehe. Membacakan cerita adalah bentuk komunikasi antara ibu dengan janin yang katanya banyak manfaatnya. Meskipun belum ada riset yang membuktikan bahwa membacakan cerita pada janin membuatnya bisa membaca di usia yang lebih dini, tapi kegiatan ini dapat menimbulkan rasa tenang pada janin. Dan manfaat lebih yang saya rasakan adalah saya jadi tahu tentang fragmen kisah para nabi yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Misalnya bahwa nabi Luth adalah putra Harun, adik nabi Ibrahim; Siti Sarah hamil ketika Nabi Ibrahim berusia 100 tahun; Ya'qub memiliki empat istri yang dari semua istrinya itu ia mempunyai 12 anak yang dikenal dengan asbath. Dari asbath ini lahir beberapa nabi seperti musa, harun, ilyas, ilyasa', daud, sulaiman, zakariya, yahya, isa dan yunus. Ada juga kisah nabi Ayyub yang memiliki seorang istri yang sabar bernama Siti Rahmah. Saat membaca kisah Ayyub yang terkenal dengan kesabarannya menghadapi ujian yang bertubi-tubi ini, air mata tiba-tiba mengalir. Tidak hanya karena teringat akan memori kisah Nabi Ayyub yang luar biasa tapi juga pengorbanan seorang istri untuk membuktikan kesetiaanya pada suami dan kecintaannya pada Allah. Tak terasa mulut ini bebisik pelan sambil mengelus perut yang semakin besar "Nak, bunda ingin menemani ayah seperti siti rahmah
menemani nabi Ayyub".. Dan berbagai fragmen kisah para nabi dan rasul lainnya yang menambah khasanah sejarah islam saya. Alhamdulillah..

Jadi, para calon ibu dan para ibu, janganlah bosan untuk menceritakan kisah-kisah hikmah pada janin atau putra-putri kita. Tema apapun itu, insya Allah kita niatkan untuk kebaikan mereka, dan pada akhirnya kita sendiri pun merasakan manfaatnya. Karena ketika janin sering dibacakan cerita maka ketika ia telah melihat dunia, ia akan terlelap dengan kisah yang kita ceritakan saat ia masih dalam kandungan, insya Allah. Kalo ibu, apa yang ibu ceritakan kepada mereka?

Mudik Yang Pertama

Tampak terlambat sekali memposting tulisan ini. Sebab idul fitri sudah sebulan lebih berlalu. Namun banyak cerita yang menggantung menunggu untuk dirangkai. Mudik kali ini adalah mudik pertama bagi saya. Setelah menikah dengan seorang lelaki jawa, otomatis mudik menjadi bagian yang harus saya jalani. Sempat ragu untuk mudik sebab kandungan telah beranjak 7 bulan. Dan sebenarnya dokter pun tidak menyarankan. Namun selama sang bunda merasa nyaman dan dapat mengontrol segala sesuatunya maka mudik sah-sah saja untuk dilakukan. Memang mudik adalah suatu fenomena yang luar biasa. Terlepas dari kebiasaan menyambung silaturahmi yang tentu baik untuk dilestarikan, mudik juga memiliki sisi buruk. Sisi buruk tersebut bisa dihindari, namun ada pula yang tak mungkin untuk dihindari.

Sudah menjadi cerita biasa bahwa arus mudik telah merenggut ratusan nyawa. Umumnya mereka yang menggunakan kendaraan secara ugal-ugalan, tidak menaati peraturan, kurang persiapan menjadi korban dari fenomena tahunan ini di Indonesia. Sungguh memilukan jika niat mulia menjaga tali silaturahmi diakhiri dengan tragedi kecelakaan hanya karena faktor human error yang sebenarnya dapat dihindari. Suasana lebaran yang ceria menjadi pilu karena jerit dan tangis kehilangan.

Sisi buruk yang tidak dapat dihindari adalah harga tiket setiap jenis angkutan yang melambung tinggi, hingga dua kali lipat. Lebaran lalu, saya menggunakan jasa kereta api dari bandung ke madiun dengan harga tiket yang sama dengan bandung ke surabaya. Artinya harga tiket dibuat flat menyesuaikan dengan harga tiket dengan jarak paling jauh. Artinya lagi jika saya membeli tiket dengan jurusan bandung-madiun maka PT. KAI akan diuntungkan dengan adanya pembelian tiket terusan madiun-surabaya. Harga tiket kereta api bisa menyamai harga tiket pesawat di hari biasa, tapi tetap saja ludes tak tersisa.

Beberapa waktu sebelum berangkat, saya sempat ditegur dosen pembimbing agar tidak berangkat mudik. Jangan sampai ikut-ikutan menjadi korban kenaikan harga tiket yang menggila. Padahal silaturahmi bisa dilakukan kapan saja, tidak harus menunggu lebaran. Apalagi saya sedang mengandung, ungkapnya. Tapi rencana mudik ini sudah dipertimbangkan dengan matang, dan persiapannya pun sudah baik, jadi ya bismillah aja..:)

Alhamdulillah, akhirnya bisa bertemu dengan ibu dan bapak, serta saudara-saudara suami saya dari Magetan. Desa yang cukup panas, namun masih terbentang sawah hijau yang luas di sekelilingnya. Banyak kisah baru selama kami tinggal di desa jawa timur ini. Yang baru bagi saya tentu adalah kebiasaan-kebiasaan dan kehidupan masyarakat jawa yang berbeda dengan sunda. Inilah gambaran keseharian kami selama mudik..

Berjalan pagi bersama ibu

Menatap burung-burung di atas sawah

Di arena kolam renang banyu biru

Rindu Masa Itu

Beberapa hari lalu, saat di rumah, tak sengaja saya menemukan sebuah kertas dalam binder suami saya. sobekan kertas berukuran sekitar 15x8 cm, yang dipotong dengan apik di pinggir-pinggirnya. kertas itu tampak sedikit lusuh dengan coretan-coretan di baliknya. Memang hanya potongan kertas biasa, tapi tulisan yang terdapat pada kertas tersebut membuat saya termenung dan rindu akan suatu masa.. masa dimana kami sama-sama berjuang untuk meraih kecintaan Allah.

Ketika kita mengambil sebuah keputusan tentu akan ada resikonya. Bahkan tak jarang terjadi perubahan-perubahan yang signifikan saat keputusan itu diambil. Ada perubahan yang mengarah pada kebaikan, ada pula yang mengarah pada keburukan. Tentu kita tidak ingin perubahan yang kedua, yang justru mengurangi kualitas pribadi kita. Bahkan kalo bisa, saat keputusan itu diambil, kita menjadi pribadi yang jauh lebih berkualitas.

Mungkin teman-teman juga pernah merasakan sendiri perubahan itu, baik sebagai subjek maupun objek. Saat mengambil keputusan menikah misalnya. Tak sedikit mereka yang berkomentar bahwa setelah menikah mereka menjadi lebih 'hidup' atau justru menjadi 'tidak berdaya' dengan sebuah tanggung jawab baru sebagai istri atau suami. Tak sedikit pula mereka yang berkomentar bahwa si anu setelah menikah menjadi beda, si anu menjadi lebih dewasa, atau si anu menjadi kurang produktif dll.

Saya sendiri juga merasakan perubahan itu, dan perubahan itu terasa kentara setelah kertas yang berisi tulisan suami saya, saya temukan tak sengaja. Tulisan itu adalah syair yang pernah kami kumandangkan bersama sahabat-sahabat kami di kampus. Syair yang memompa semangat juang kami, mengalir bersama darah kami yang hangat, bertekad untuk membangun negeri, menyelamatkan akhirat kami, menjadi matahari untuk umat yang kegelapan.

Kami prajurit-prajurit Allah
Yang dakwah telah menjadi nafas
Yang wajah Allah menjadi kerinduan
Yang air mata negerinya
menjadi kegelisahan

Dengan kepala tegak
kami akan terus berderap
melangkah maju
menjadi ksatria terdepan
pengusung panji Dien ini!!

1000 mentari kampusku

Hingga seluruh manusia di bawah langit
Memuja-Nya

Kini setelah tidak lagi menjadi mahasiswa, tidak lagi bersinggungan dengan aktivitas-aktivitas kampus yang gegap gempita, semangat itu tak lagi menggema. Sungguh perubahan status, dari mahasiswa menjadi wisudawan, dari wisudawan menjadi karyawan bahkan tak jarang pengangguran adalah suatu perubahan alamiah, yang insya allah akan terus terjadi. Tapi apakah suatu fondasi yang telah tertancap kuat di selama di kampus harus pupus hanya karena perubahan status, perubahan lingkungan? Padahal aktivitasnya adalah sama sepanjang hayat, yakni menyeru kepada kebaikan (da'wah), hanya saja bentuknya yang berubah. Apalagi setelah menikah, yang kekuatannya bertambah menjadi 2, bahkan 5 hingga 10 dengan keberadaan mujahid-mujahid kecil, seharusnya semangat itu akan semakin menyala.

Semua tentu membutuhkan proses. Adaptasi membutuhkan sebuah effort, apalagi proses adaptasi setelah menikah adalah ikhtiar yang selamanya. Selalu ada kejutan-kejutan baru dalam kehidupan rumah tangga kita, dari pribadi pasangan hidup kita. Dengan perubahan status ini, Allah hendak menguji kualitas niat dan tekad kita, yang kita kumandangkan dengan terang-terangan atau kita tanamkan sembunyi-sembunyi dalam sanubari kita. Tekad itu adalah menjadi pribadi yang shalih hingga akhir hayat.

Karena itu, adik-adik yang kini masih menjalankan aktivitas da'wah di kampus, nikmatilah kelelahan itu. Nikmati ketika harus rapat di pagi buta, ketika harus survey untuk outbond, ketika harus menyebarkan pamflet di sela-sela kuliah, saat harus memasak dengan asap yang mengepul kejam saat pesantren, saat harus berargumen dalam debat kandidat pemimpin dan saat-saat yang lain. Karena masa itu akan sangat kalian rindukan di masa yang akan datang.

Perubahan status, peran, lingkungan semoga tidak menggoyahkan semangat dan niat kita. Karena perubahan itu pasti terjadi, dan akan berubah menjadi seperti apakah kita?

Berteman Jakarta

Sudah lima kali ini saya melewati jalan dan tempat yang sama menuju Rawasari, Jakarta Timur, tempat saya memeriksakan hasil penelitian akhir tesis. Perjalanan Bandung-Jakarta, Jakarta-Bandung seperti perjalanan ke toilet saja, sering dan cepat. Dua kali perjalanan saya mulai dari Stasiun Depok Baru, sebab saat itu saya sedang berada di rumah, di Beji Depok (bukan di Bandung). Naik kereta KRL memang bukan hal yang baru, tapi sejak saat itu KRL menjadi bagian dari keseharian perjalanan saya. Pertama-tama saya kikuk, canggung untuk ikut berjejal bersama mereka yang sudah terlebih dahulu lama berteman Jakarta, berkawan dengan KRL dan deru mesinnya. Sudah barang tentu jika saya berangkat KRL pukul 10.00, maka saya harus rela berdiri, bergelantung pada ring-ring yang terpancang pada besi atap gerbong. Menelusuri Jakarta dengan KRL adalah petualangan sederhana yang kerap menyambangi hari-hari saya di Depok-Jakarta. Dari depok ke pondok cina, dari pondok cina ke UI, dari UI ke UP, dari UP ke lenteng agung, dari lenteng agung ke seterusnya….hingga sampai di manggarai. Bagaimana caranya supaya nama-nama stasiun itu dapat dihapal ya? Dan pastinya orang-orang tidak salah atau kelewatan untuk turun di stasiun tujuan. Itu karena mereka terbiasa..nanti kamu juga akan terbiasa, begitu kira-kira gumam saya dalam hati.

Dari Manggarai ke Rawasari naik taksi. Ya saat angkot sulit diandalkan, atau kita mengutamakan kecepatan di kota Jakarta, maka taksi bisa jadi solusi yang termudah dan tercepat.

Setelah urusan di Rawasari selesai, ingin sekali saya melanjutkan perjalanan berteman dengan Jakarta. Setidaknya saya tau jalan-jalan utama menuju tempat-tempat penting. Seperti jalan menuju kantor suami misalnya, atau mall yang bisa jadi tempat bersua dengan sahabat. Dari rawasari menuju Pancoran, naik angkot hingga Jl. Ahmad Yani, lalu naik bis ’bekas’ jepang 43, yang kecepatannya bukan kepalang, dan angin yang masuk begitu bebas, sampai kampus UKI. Nyebrang melewati jembatan penyeberangan, naik lagi bis ’bekas’ jepang 46 hingga sampai tugu pancoran. Nyebrang...dan berhati-hati.

Suatu hal yang mungkin lumrah bagi mereka yang telah lama tinggal di Jakarta. Tapi tidak bagi saya. Entah kenapa, saat menjalani petualangan mengenal jakarta seperti ini, ada suatu perasaan senang, puas.. Dan setelah berhasil mencapai tujuan, selalu ada kalimat kemenangan yang saya bisikan pada manusia kecil yang setia menemani saya bertualang ”Alhamdulillah, kita sampai, Sayang”.

Berteman Jakarta semoga tak hanya kemarin dan hari ini saja, karena Insya Allah cita-cita dan impian yang berada di depan dimulai dari kota ini, kota yang saya sebut kota petualangan.

Karena Cinta

Ada beberapa tingkatan motivasi seseorang melakukan suatu hal, dan motivasi paling tinggi adalah karena cinta. Menjelang akhir tahun perkuliahan saya, ada beberapa kejadian yang membuat saya merenung dan mencoba bercermin diri. Akhir tahun perkuliahan adalah waktu yang penuh dengan aktivitas di lab (terutama farmasi), apalagi kalau bukan mengerjakan tugas akhir (TA). Tugas akhir dianggap sebagai sesuatu yang menyeramkan karena harus bertemu dengan dosen-dosen yang biasanya dihindari, harus cari data, kirim sample ke luar kota, belum kalo hasilnya jelek bisa diminta ulang lagi.. dan lain-lain. TA adalah tugas individu, bukan tugas kelompok, yang artinya segala persiapan, hipotesis, dana, manajemen pengerjaan dilakukan sendirian, kecuali jika tergabung dalam sebuah proyek. Karena itu segala macam resiko ya ditanggung sendiri.

Nah ada yang menarik dari ciri-ciri rekan-rekan yang sedang mengerjakan tugas akhir. Mungkin ini adalah pandangan yang subjektif, tapi mungkin teman-teman bisa share disini juga, baik sebagai subjek atau objek. Rekan-rekan yang sedang tugas akhir saking concern dengan tugasnya sendiri, ia bisa lupa dengan rekan-rekannya yang lain. Misalnya, setelah menggunakan alat, ia tidak mencucinya lagi sehingga alat menjadi rusak, atau setelah menggunakan alat di ruangan tertentu, ia membiarkan barang-barang berceceran di ruangan tersebut, atau saking kepepetnya bisa jadi suatu barang diambil begitu saja tanpa meminta atau bertanya terlebih dahulu (bukankah itu namanya mencuri?), atau saking bingung dengan data tugas akhirnya dia sibuk merecoki temannya yang juga sedang berkutat dengan tugas akhir. Dari populasi kecil itu, saya melihat bahwa ketika seseorang sedang “kepepet”, manusia bisa jadi sangat egois. Hal kecil saja, membereskan kembali barang-barang yang telah digunakan bisa terlupa. Lalu siapa yang terkena imbasnya? Para karyawan lab yang harus senang hati menyisakan waktu dalam seminggu untuk urusan cuci mencuci barang yang bukan bekas dipakainya. “Kan karyawan memang tugasnya untuk itu” pikir sebagian orang. (oh my god, plis atuh lah).

Saat kita kepepet, mungkin kita menjadi bagian dari kumpulan orang-orang egois tersebut, karena kita berlaku sebagai subjek. Lain halnya pendapat seorang objek, atau tepatnya pemerhati seperti dosen. Suatu hari saya sedang di lab instrumen bersama dengan pembimbing tesis untuk menjalankan alat HPLC. Ia perhatikan keadaan sekitar kemudian mengkritik penempatan suatu alat yang menurutnya salah. Wajar saja, sebab yang ia lihat adalah electrode pH meter dalam keadaan steady yang dicelup ke dalam aquadest yang warnanya sudah keruh. Entah berapa abad tidak diganti..dan saya juga termasuk orang-orang yang tak ambil pusing, toh saya gak pernah pakai. Namun setelah itu, Pak Krasno, pembimbing saya mengatakan dengan sangat dalam, “Hal ini gak akan terjadi kalo mahasiswa farmasi mencintai farmasi”.

Saya seperti tersadarkan, betapa masih banyak orang-orang yang mengerjakan sesuatu bukan atas keinginan pribadi, apalagi karena cinta. Karena jika sesuatu dikerjakan atas dasar cinta, maka sesuatu yang sulit akan mudah, sesuatu yang repot akan enteng dan sesuatu yang berkaitan dengan apa yang ia cintai takkan sempat ia lewatkan begitu saja.

Sedang belajar mencintai peran baru dan mencintai bidang farmasi..

Hujan

Hujan
Sedari tadi dinanti
Oleh bumi yang mati
Kering terbakar matahari
Ditambah sapuan angin

Awan kelabu bergumpalan
Di langit bulan Juli
Mengajak burung-burung tuk menari
Berpesta dengan hujan sore hari

Apa gerangan kabar darinya yang gerimis?
Tetesannya adalah rahmat dan kabar gembira
Bagi kehidupan..
Sayup terdengar bisikannya kepada tanah
”aku diutus oleh Sang Maha Pengasih, kawan”

Terimakasih hujan
Telah menemaniku berpuisi
Bisikanmu kubaca selalu
Di lembaran surat Sang Pengutusmu itu

About Me

My Photo
Dika Amelia Ifani
Yang ingin terus berbagi kisah agar setiap penggalannya menjadi warna warni cahaya pelangi yang menghiasi dunia
View my complete profile