Mudik Yang Pertama

Tampak terlambat sekali memposting tulisan ini. Sebab idul fitri sudah sebulan lebih berlalu. Namun banyak cerita yang menggantung menunggu untuk dirangkai. Mudik kali ini adalah mudik pertama bagi saya. Setelah menikah dengan seorang lelaki jawa, otomatis mudik menjadi bagian yang harus saya jalani. Sempat ragu untuk mudik sebab kandungan telah beranjak 7 bulan. Dan sebenarnya dokter pun tidak menyarankan. Namun selama sang bunda merasa nyaman dan dapat mengontrol segala sesuatunya maka mudik sah-sah saja untuk dilakukan. Memang mudik adalah suatu fenomena yang luar biasa. Terlepas dari kebiasaan menyambung silaturahmi yang tentu baik untuk dilestarikan, mudik juga memiliki sisi buruk. Sisi buruk tersebut bisa dihindari, namun ada pula yang tak mungkin untuk dihindari.

Sudah menjadi cerita biasa bahwa arus mudik telah merenggut ratusan nyawa. Umumnya mereka yang menggunakan kendaraan secara ugal-ugalan, tidak menaati peraturan, kurang persiapan menjadi korban dari fenomena tahunan ini di Indonesia. Sungguh memilukan jika niat mulia menjaga tali silaturahmi diakhiri dengan tragedi kecelakaan hanya karena faktor human error yang sebenarnya dapat dihindari. Suasana lebaran yang ceria menjadi pilu karena jerit dan tangis kehilangan.

Sisi buruk yang tidak dapat dihindari adalah harga tiket setiap jenis angkutan yang melambung tinggi, hingga dua kali lipat. Lebaran lalu, saya menggunakan jasa kereta api dari bandung ke madiun dengan harga tiket yang sama dengan bandung ke surabaya. Artinya harga tiket dibuat flat menyesuaikan dengan harga tiket dengan jarak paling jauh. Artinya lagi jika saya membeli tiket dengan jurusan bandung-madiun maka PT. KAI akan diuntungkan dengan adanya pembelian tiket terusan madiun-surabaya. Harga tiket kereta api bisa menyamai harga tiket pesawat di hari biasa, tapi tetap saja ludes tak tersisa.

Beberapa waktu sebelum berangkat, saya sempat ditegur dosen pembimbing agar tidak berangkat mudik. Jangan sampai ikut-ikutan menjadi korban kenaikan harga tiket yang menggila. Padahal silaturahmi bisa dilakukan kapan saja, tidak harus menunggu lebaran. Apalagi saya sedang mengandung, ungkapnya. Tapi rencana mudik ini sudah dipertimbangkan dengan matang, dan persiapannya pun sudah baik, jadi ya bismillah aja..:)

Alhamdulillah, akhirnya bisa bertemu dengan ibu dan bapak, serta saudara-saudara suami saya dari Magetan. Desa yang cukup panas, namun masih terbentang sawah hijau yang luas di sekelilingnya. Banyak kisah baru selama kami tinggal di desa jawa timur ini. Yang baru bagi saya tentu adalah kebiasaan-kebiasaan dan kehidupan masyarakat jawa yang berbeda dengan sunda. Inilah gambaran keseharian kami selama mudik..

Berjalan pagi bersama ibu

Menatap burung-burung di atas sawah

Di arena kolam renang banyu biru

Rindu Masa Itu

Beberapa hari lalu, saat di rumah, tak sengaja saya menemukan sebuah kertas dalam binder suami saya. sobekan kertas berukuran sekitar 15x8 cm, yang dipotong dengan apik di pinggir-pinggirnya. kertas itu tampak sedikit lusuh dengan coretan-coretan di baliknya. Memang hanya potongan kertas biasa, tapi tulisan yang terdapat pada kertas tersebut membuat saya termenung dan rindu akan suatu masa.. masa dimana kami sama-sama berjuang untuk meraih kecintaan Allah.

Ketika kita mengambil sebuah keputusan tentu akan ada resikonya. Bahkan tak jarang terjadi perubahan-perubahan yang signifikan saat keputusan itu diambil. Ada perubahan yang mengarah pada kebaikan, ada pula yang mengarah pada keburukan. Tentu kita tidak ingin perubahan yang kedua, yang justru mengurangi kualitas pribadi kita. Bahkan kalo bisa, saat keputusan itu diambil, kita menjadi pribadi yang jauh lebih berkualitas.

Mungkin teman-teman juga pernah merasakan sendiri perubahan itu, baik sebagai subjek maupun objek. Saat mengambil keputusan menikah misalnya. Tak sedikit mereka yang berkomentar bahwa setelah menikah mereka menjadi lebih 'hidup' atau justru menjadi 'tidak berdaya' dengan sebuah tanggung jawab baru sebagai istri atau suami. Tak sedikit pula mereka yang berkomentar bahwa si anu setelah menikah menjadi beda, si anu menjadi lebih dewasa, atau si anu menjadi kurang produktif dll.

Saya sendiri juga merasakan perubahan itu, dan perubahan itu terasa kentara setelah kertas yang berisi tulisan suami saya, saya temukan tak sengaja. Tulisan itu adalah syair yang pernah kami kumandangkan bersama sahabat-sahabat kami di kampus. Syair yang memompa semangat juang kami, mengalir bersama darah kami yang hangat, bertekad untuk membangun negeri, menyelamatkan akhirat kami, menjadi matahari untuk umat yang kegelapan.

Kami prajurit-prajurit Allah
Yang dakwah telah menjadi nafas
Yang wajah Allah menjadi kerinduan
Yang air mata negerinya
menjadi kegelisahan

Dengan kepala tegak
kami akan terus berderap
melangkah maju
menjadi ksatria terdepan
pengusung panji Dien ini!!

1000 mentari kampusku

Hingga seluruh manusia di bawah langit
Memuja-Nya

Kini setelah tidak lagi menjadi mahasiswa, tidak lagi bersinggungan dengan aktivitas-aktivitas kampus yang gegap gempita, semangat itu tak lagi menggema. Sungguh perubahan status, dari mahasiswa menjadi wisudawan, dari wisudawan menjadi karyawan bahkan tak jarang pengangguran adalah suatu perubahan alamiah, yang insya allah akan terus terjadi. Tapi apakah suatu fondasi yang telah tertancap kuat di selama di kampus harus pupus hanya karena perubahan status, perubahan lingkungan? Padahal aktivitasnya adalah sama sepanjang hayat, yakni menyeru kepada kebaikan (da'wah), hanya saja bentuknya yang berubah. Apalagi setelah menikah, yang kekuatannya bertambah menjadi 2, bahkan 5 hingga 10 dengan keberadaan mujahid-mujahid kecil, seharusnya semangat itu akan semakin menyala.

Semua tentu membutuhkan proses. Adaptasi membutuhkan sebuah effort, apalagi proses adaptasi setelah menikah adalah ikhtiar yang selamanya. Selalu ada kejutan-kejutan baru dalam kehidupan rumah tangga kita, dari pribadi pasangan hidup kita. Dengan perubahan status ini, Allah hendak menguji kualitas niat dan tekad kita, yang kita kumandangkan dengan terang-terangan atau kita tanamkan sembunyi-sembunyi dalam sanubari kita. Tekad itu adalah menjadi pribadi yang shalih hingga akhir hayat.

Karena itu, adik-adik yang kini masih menjalankan aktivitas da'wah di kampus, nikmatilah kelelahan itu. Nikmati ketika harus rapat di pagi buta, ketika harus survey untuk outbond, ketika harus menyebarkan pamflet di sela-sela kuliah, saat harus memasak dengan asap yang mengepul kejam saat pesantren, saat harus berargumen dalam debat kandidat pemimpin dan saat-saat yang lain. Karena masa itu akan sangat kalian rindukan di masa yang akan datang.

Perubahan status, peran, lingkungan semoga tidak menggoyahkan semangat dan niat kita. Karena perubahan itu pasti terjadi, dan akan berubah menjadi seperti apakah kita?

Berteman Jakarta

Sudah lima kali ini saya melewati jalan dan tempat yang sama menuju Rawasari, Jakarta Timur, tempat saya memeriksakan hasil penelitian akhir tesis. Perjalanan Bandung-Jakarta, Jakarta-Bandung seperti perjalanan ke toilet saja, sering dan cepat. Dua kali perjalanan saya mulai dari Stasiun Depok Baru, sebab saat itu saya sedang berada di rumah, di Beji Depok (bukan di Bandung). Naik kereta KRL memang bukan hal yang baru, tapi sejak saat itu KRL menjadi bagian dari keseharian perjalanan saya. Pertama-tama saya kikuk, canggung untuk ikut berjejal bersama mereka yang sudah terlebih dahulu lama berteman Jakarta, berkawan dengan KRL dan deru mesinnya. Sudah barang tentu jika saya berangkat KRL pukul 10.00, maka saya harus rela berdiri, bergelantung pada ring-ring yang terpancang pada besi atap gerbong. Menelusuri Jakarta dengan KRL adalah petualangan sederhana yang kerap menyambangi hari-hari saya di Depok-Jakarta. Dari depok ke pondok cina, dari pondok cina ke UI, dari UI ke UP, dari UP ke lenteng agung, dari lenteng agung ke seterusnya….hingga sampai di manggarai. Bagaimana caranya supaya nama-nama stasiun itu dapat dihapal ya? Dan pastinya orang-orang tidak salah atau kelewatan untuk turun di stasiun tujuan. Itu karena mereka terbiasa..nanti kamu juga akan terbiasa, begitu kira-kira gumam saya dalam hati.

Dari Manggarai ke Rawasari naik taksi. Ya saat angkot sulit diandalkan, atau kita mengutamakan kecepatan di kota Jakarta, maka taksi bisa jadi solusi yang termudah dan tercepat.

Setelah urusan di Rawasari selesai, ingin sekali saya melanjutkan perjalanan berteman dengan Jakarta. Setidaknya saya tau jalan-jalan utama menuju tempat-tempat penting. Seperti jalan menuju kantor suami misalnya, atau mall yang bisa jadi tempat bersua dengan sahabat. Dari rawasari menuju Pancoran, naik angkot hingga Jl. Ahmad Yani, lalu naik bis ’bekas’ jepang 43, yang kecepatannya bukan kepalang, dan angin yang masuk begitu bebas, sampai kampus UKI. Nyebrang melewati jembatan penyeberangan, naik lagi bis ’bekas’ jepang 46 hingga sampai tugu pancoran. Nyebrang...dan berhati-hati.

Suatu hal yang mungkin lumrah bagi mereka yang telah lama tinggal di Jakarta. Tapi tidak bagi saya. Entah kenapa, saat menjalani petualangan mengenal jakarta seperti ini, ada suatu perasaan senang, puas.. Dan setelah berhasil mencapai tujuan, selalu ada kalimat kemenangan yang saya bisikan pada manusia kecil yang setia menemani saya bertualang ”Alhamdulillah, kita sampai, Sayang”.

Berteman Jakarta semoga tak hanya kemarin dan hari ini saja, karena Insya Allah cita-cita dan impian yang berada di depan dimulai dari kota ini, kota yang saya sebut kota petualangan.

Karena Cinta

Ada beberapa tingkatan motivasi seseorang melakukan suatu hal, dan motivasi paling tinggi adalah karena cinta. Menjelang akhir tahun perkuliahan saya, ada beberapa kejadian yang membuat saya merenung dan mencoba bercermin diri. Akhir tahun perkuliahan adalah waktu yang penuh dengan aktivitas di lab (terutama farmasi), apalagi kalau bukan mengerjakan tugas akhir (TA). Tugas akhir dianggap sebagai sesuatu yang menyeramkan karena harus bertemu dengan dosen-dosen yang biasanya dihindari, harus cari data, kirim sample ke luar kota, belum kalo hasilnya jelek bisa diminta ulang lagi.. dan lain-lain. TA adalah tugas individu, bukan tugas kelompok, yang artinya segala persiapan, hipotesis, dana, manajemen pengerjaan dilakukan sendirian, kecuali jika tergabung dalam sebuah proyek. Karena itu segala macam resiko ya ditanggung sendiri.

Nah ada yang menarik dari ciri-ciri rekan-rekan yang sedang mengerjakan tugas akhir. Mungkin ini adalah pandangan yang subjektif, tapi mungkin teman-teman bisa share disini juga, baik sebagai subjek atau objek. Rekan-rekan yang sedang tugas akhir saking concern dengan tugasnya sendiri, ia bisa lupa dengan rekan-rekannya yang lain. Misalnya, setelah menggunakan alat, ia tidak mencucinya lagi sehingga alat menjadi rusak, atau setelah menggunakan alat di ruangan tertentu, ia membiarkan barang-barang berceceran di ruangan tersebut, atau saking kepepetnya bisa jadi suatu barang diambil begitu saja tanpa meminta atau bertanya terlebih dahulu (bukankah itu namanya mencuri?), atau saking bingung dengan data tugas akhirnya dia sibuk merecoki temannya yang juga sedang berkutat dengan tugas akhir. Dari populasi kecil itu, saya melihat bahwa ketika seseorang sedang “kepepet”, manusia bisa jadi sangat egois. Hal kecil saja, membereskan kembali barang-barang yang telah digunakan bisa terlupa. Lalu siapa yang terkena imbasnya? Para karyawan lab yang harus senang hati menyisakan waktu dalam seminggu untuk urusan cuci mencuci barang yang bukan bekas dipakainya. “Kan karyawan memang tugasnya untuk itu” pikir sebagian orang. (oh my god, plis atuh lah).

Saat kita kepepet, mungkin kita menjadi bagian dari kumpulan orang-orang egois tersebut, karena kita berlaku sebagai subjek. Lain halnya pendapat seorang objek, atau tepatnya pemerhati seperti dosen. Suatu hari saya sedang di lab instrumen bersama dengan pembimbing tesis untuk menjalankan alat HPLC. Ia perhatikan keadaan sekitar kemudian mengkritik penempatan suatu alat yang menurutnya salah. Wajar saja, sebab yang ia lihat adalah electrode pH meter dalam keadaan steady yang dicelup ke dalam aquadest yang warnanya sudah keruh. Entah berapa abad tidak diganti..dan saya juga termasuk orang-orang yang tak ambil pusing, toh saya gak pernah pakai. Namun setelah itu, Pak Krasno, pembimbing saya mengatakan dengan sangat dalam, “Hal ini gak akan terjadi kalo mahasiswa farmasi mencintai farmasi”.

Saya seperti tersadarkan, betapa masih banyak orang-orang yang mengerjakan sesuatu bukan atas keinginan pribadi, apalagi karena cinta. Karena jika sesuatu dikerjakan atas dasar cinta, maka sesuatu yang sulit akan mudah, sesuatu yang repot akan enteng dan sesuatu yang berkaitan dengan apa yang ia cintai takkan sempat ia lewatkan begitu saja.

Sedang belajar mencintai peran baru dan mencintai bidang farmasi..

Hujan

Hujan
Sedari tadi dinanti
Oleh bumi yang mati
Kering terbakar matahari
Ditambah sapuan angin

Awan kelabu bergumpalan
Di langit bulan Juli
Mengajak burung-burung tuk menari
Berpesta dengan hujan sore hari

Apa gerangan kabar darinya yang gerimis?
Tetesannya adalah rahmat dan kabar gembira
Bagi kehidupan..
Sayup terdengar bisikannya kepada tanah
”aku diutus oleh Sang Maha Pengasih, kawan”

Terimakasih hujan
Telah menemaniku berpuisi
Bisikanmu kubaca selalu
Di lembaran surat Sang Pengutusmu itu

Mengungkap Fakta Kolesterol

Penyakit stroke dan jantung jarang terpisahkan dengan faktor resiko yang satu ini yakni kolesterol. Ya, kolesterol yang tinggi dapat menyumbat pembuluh darah atau aterosklerosis. Penyumbatan ini dapat menghambat aliran darah ke organ-organ utama, misalnya jantung (penyakit jantung koroner) dan otak (stroke). Di Indonesia, terdapat sekitar 36 juta penduduk atau sekitar 18% dari total penduduk Indonesia yang menderita kelainan lemak darah ini. Dari jumlah tersebut, 80% pasien meninggal mendadak akibat serangan jantung, dan 50%-nya tidak menampakkan gejala sebelumnya. Namun jangan salah, kolesterol tidak selamanya ‘jahat’. Kolesterol adalah lemak kompleks yang terdapat dalam aliran darah atau berada dalam sel tubuh yang sebenarnya dibutuhkan untuk pembentukan dinding sel, metabolisme vitamin-vitamin yang larut lemak (vitamin A,D,E,K), sebagai bahan baku pembentukan vitamin D dan hormon-hormon steroid (termasuk di dalamnya hormon progesteron, estrogen dan testosteron). Secara alami kolesterol bisa dibentuk oleh tubuh sendiri yakni di dalam hati, selebihnya didapat dari makanan hewani, seperti daging, unggas, ikan, margarin, keju dan susu. Kolesterol yang berada dalam zat makanan yang kita makan dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Tetapi, sejauh pemasukan ini seimbang dengan kebutuhan, tubuh kita akan tetap sehat. Kolesterol yang normal harus di bawah 200 mg/dL. Apabila di atas 240, maka beresiko tinggi terkena serangan jantung atau stroke. Kolesterol sendiri tidak larut dalam darah, untuk itu perlu berikatan dengan pengangkutnya yaitu lipoprotein diantaranya low density lipoprotein (LDL) dan high density lipoprotein (HDL).

LDL bertugas untuk mengirimkan kolesterol dari hati ke dalam sel-sel tubuh yang memerlukan seperti sel otak, sel otot jantung dan lain-lain agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Jenis kolesterol ini berbahaya, karena dapat menyebabkan pelekatan kolesterol di dinding pembuluh darah, sehingga sering disebut juga sebagai kolesterol “jahat”. Bila kadar LDL terlalu tinggi, maka akan menyebabkan penyumbatan pada bagian dalam pembuluh darah (aterosklerosis), yang kemudian dapat meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke. Kolesterol LDL yang optimal adalah bila kadarnya dalam darah dibawah 100 mg/dL. Kolesterol LDL 100-129 mg/dL dimasukkan ke dalam kategori normal, 130-159 mg/dL merupakan batas tertinggi, sedangkan di atas 160 mg/dL disertai faktor resiko lain seperti merokok, gemuk, diabetes, tidak olahraga perlu segera diberi obat.

HDL bertugas untuk mengambil kelebihan kolesterol dalam tubuh untuk dibawa kembali ke hati yang selanjutnya akan diuraikan lalu dibuang ke dalam kantung empedu sebagai asam (cairan) empedu. Jenis kolesterol ini sering disebut sebagai lemak yang “baik”, sebab dapat membersihkan dan mengangkut timbunan lemak dari dinding pembuluh darah ke hati. Kolesterol HDL yang ideal harus lebih tinggi dari 40 mg/dL untuk pria, atau di atas 50 mg/dL untuk wanita. HDL kolesterol yang rendah dapat disebabkan oleh kebisaan merokok, badan terlalu gemuk dan kurang gerak.

Selain kedua bentuk kolesterol diatas, terdapat satu lagi jenis lemak yang disebut trigliserida. Trigliserida adalah satu jenis lemak dalam darah dan berbagai organ dalam tubuh. Meningkatnya kadar trigliserida dalam darah juga dapat meningkatkan kadar kolesterol. Orang yang sakit jantung, diabetes, atau obesitas biasanya mempunyai kadar trigliserida yang tinggi. Trigliserida dalam darah yang normal harus di bawah 150 mg/dL. Beberapa orang mempunyai trigliserida yang tinggi lantaran penyakit lain atau keturunan. Bila memang ada faktor keturunan, maka gaya hidup harus diubah, mulai dari diet rendah lemak, olahraga teratur, menurunkan berat badan, tidak merokok, juga tidak minum alkohol, bahkan dianjurkan mengurangi konsumsi karbohidrat (misalnya nasi, mie atau roti) sampai kurang dari 50% dari jumlah kalori total. Dalam sebuah penelitian dalam Journal of The American Heart Association yang dilakukan selama 7 tahun dengan melibatkan 11 ribu lebih responden, diketahui bahwa 487 responden yang mengalami stroke ringan mempunyai kadar trigliserida yang tinggi dan kolesterol HDL yang rendah. Oleh karena itu, dalam pemeriksaan kadar lemak darah rutin, trigliserida selalu diukur bersamaan dengan kolesterol, karena ternyata trigliserida juga dapat menjadi faktor resiko aterosklerosis.

Kolesterol tinggi atau hiperkolesterolemia bisa menimpa siapa saja. Orang yang bertubuh gemuk bukan berarti mempunyai kadar kolesterol lebih tinggi daripada orang bertubuh kurus. Kadar kolesterol sangat bergantung kepada jenis makanan yang dikonsumsi. Selain itu, hiperkolesterolemia tidak hanya diderita oleh orang tua saja, bahkan usia anak-anak pun atau remaja bisa mengalaminya. Pembentukan plak (sumbatan pada pembuluh darah) dapat dijumpai pada anak-anak, dan kejadiannya meningkat seiring dengan pertambahan usia. Oleh karena itu, upayakan kolesterol darah di bawah 170 mg/dL dan kolesterol LDL paling tinggi 110 mg/dL untuk anak dan remaja.

Sebagian besar hiperkolesterolemia tidak menimbulkan gejala. Kadar kolesterol yang tinggi menyebabkan aliran darah menjadi kental sehingga oksigen menjadi kurang, akibatnya gejala yang timbul adalah gejala kekurangan oksigen seperti sakit kepala dan pegal-pegal. Namun, karena banyak yang tanpa gejala, maka dianjurkan untuk periksa kadar lemak darah rutin minimal 1 tahun sekali. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui hiperkolesterolemia sedini mungkin sehingga dapat mencegah penyakit yang diakibatkan. Agar kolesterol total, LDL dan trigliserida terkontrol maka perlu pengaturan asupan makanan dan melakukan aktivitas. Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengurangi kolesterol dalam makanan diantaranya pilih minyak nabati seperti minyak jagung atau minyak soya (kedelai) daripada minyak hewani; gantikan daging dengan tahu, kacang atau sayuran; pilih daging kurus daripada daging sosis atau daging kaleng; buang lemak pada daging dan pisahkan kulit dari ayam dan bebek; pilih susu rendah lemak (low fat) daripada susu fullcream; kurangi masak dengan cara menggoreng, lebih baik mengkukus, rebus, bakar atau panggang; batasi konsumsi makanan goreng yang kaya lemak hanya dua kali per minggu; hindari makanan babi, kambing, jeroan, atau yang banyak mengandung lemak; batasi makan udang, kepiting atau kerang; jauhi kue yang banyak krim atau minyak; carilah buah segar setiap hari; banyak mengkonsumsi makanan kaya serat seperti sayur, buah-buahan, padi-padian dan kacang-kacangan. Selain mengontrol asupan makanan, berolahraga secara teratur dapat menurunkan kadar kolesterol total dan meningkatkan kadar kolesterol HDL. Olahraga membantu membakar kolesterol/lemak dalam tubuh menjadi energi.

Berbagai fakta bahwa kolesterol sering menjadi faktor resiko penyakit yang mematikan seperti jantung koroner dan stroke semoga menjadi motivasi agar kita mengatur pola hidup lebih sehat. Terlebih lagi setelah mengetahui bahwa kolesterol juga memiliki manfaat bagi tubuh dan dapat dikontrol melalui pemilihan menu makanan dan ragam aktivitas. Jika kadar kolesterol anda sudah terlanjur tinggi, sebaiknya anda mencoba berbagai tips diatas dan menghindari faktor-faktor yang dapat memperburuk kesehatan anda. Salam sehat :)..

Waspada Kolesterol Pada Anak

Mungkinkah anak anda mengalami hipekolesterol? Jawabannya adalah mungkin. Kolesterol berlebih dapat terjadi pada siapa saja, tidak hanya orang tua, bahkan anak-anak atau remaja pun bisa mengalaminya. Tingginya kadar kolesterol pada anak-anak dapat menimbulkan terjadinya penyakit jantung dan stroke setelah mereka dewasa. Berdasarkan penelitian Bogalusa Heart Study dan PDAY research group, proses plak (penimbunan lemak) dalam pembuluh darah (aterosklerosis) telah dimulai sejak masa anak-anak dan dipercepat oleh adanya gangguan hiperkolesterolemia. Anak-anak dapat mengalami kolesterol tinggi (hiperkolesterolemia) apabila mengonsumsi makanan lemak jenuh tinggi, lemak trans, kolesterol tinggi, karbohidrat sederhana dan karbohidrat olahan tinggi. Hal ini terutama terjadi pada anak yang kegemukan (obesitas). Selain itu anak bisa terkena kolesterol tinggi apabila orang tuanya mempunyai riwayat kolesterol tinggi, pernah menderita penyakit jantung koroner atau stroke. Para orang tua yang kadar kolesterolnya tinggi, lebih dari 200 mg/dL, perlu memeriksakan kadar kolesterol anaknya sejak dini.

Hiperkolesterolemia ada yang diturunkan kepada anak (familial) dan ada yang tidak (poligenik). Hiperkolesterol poligenik terjadi karena beberapa gen pengatur berat badan tidak berfungsi dengan baik. Kasus semacam ini lebih banyak daripada kasus hiperkolesterol familial. Hiperkolesterol familial terjadi karena kekurangan gen yang mengatur reseptor kolesterol “jahat” LDL di hati.

Hiperkolesterolemia pada anak bisa muncul ketika usia lima tahun tanpa gejala. Oleh karena itu untuk mengetahuinya perlu pemeriksaan darah sejak dini. Pemeriksaan ini dapat dimulai saat usianya dua tahun, terutama bagi anak yang memiliki resiko tinggi kolesterol. Anak yang mempunyai orangtua menderita penyakit jantung koroner atau kolesterol tinggi harus mempunyai kadar kolesterol total kurang dari 170 mg/dL dan kadar kolesterol LDL kurang dari 110 mg/dL, nilai tersebut termasuk kategori normal. Anak yang mempunyai kadar kolesterol lebih dari 200 mg/dL dan atau kadar LDL kolesterol melebihi 130 mg/dL dikategorikan sebagai kelompok beresiko. Kadar lemak darah yang berada di antara nilai normal dan beresiko dianggap intermediet.

Bagi anak-anak yang kadar kolesterolnya dikategorikan sebagai normal, tidak ada tindakan khusus yang dianjurkan kecuali merencanakan melakukan pemeriksaan kolesterol total setiap lima tahun. Sedangkan bagi mereka yang kadar kolesterolnya tergolong intermediet dan beresiko perlu dilakukan pemeriksaan kadar lemak darah yang hasilnya kemudian ditindaklanjuti sesuai analisa.

Anak-anak dengan usia kurang dari dua tahun tidak perlu mengurangi lemak dan kolesterol dalam makanan sebab mereka sedang berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan sehingga memerlukan energi yang tinggi, selain itu kadar lemak mereka masih belum menetap akibat kebutuhan kolesterol yang relatif tinggi.

Anak-anak dengan kolesterol normal hendaknya diberikan pemahaman mengenai nutrisi dan pola makan yang baik dengan harapan bahwa mereka dapat membiasakan diri mengonsumsi makanan-makanan sehat. Edukasi ini juga penting untuk diberikan pada anak-anak yang kadar kolesterolnya tergolong intermediet. Selain edukasi, kepada kelompok ini perlu pula dimulai tindakan diet dan penatalaksanaan terhadap faktor-faktor resiko lain yang mungkin diidap sang anak. Sedangkan bagi mereka yang memiliki kadar kolesterol-LDL yang beresiko, penatalaksanaan yang dilakukan adalah diet. Diet yang dianjurkan adalah sebaiknya mengonsumsi makanan pokok berasal dari biji-bijian seperti nasi atau roti gandum. Lauk pauk hewani dan nabati berupa ikan, ayam tanpa kulit, daging tanpa lemak, kacang-kacangan, tahu, tempe ditambah sayuran. Anak-anak juga mulai diperkenalkan kebiasaan mengonsumsi buah-buahan dan menghindari snack yang sarat kolesterol seperti coklat. Selain itu, anak-anak sebaiknya menggunakan susu rendah lemak sebagai sumber kalsium dan protein.

Pemberian obat-obatan baru dipertimbangkan pada anak usia lebih dari 10 tahun dengan kegagalan diet selama 6-12 bulan. Anak usia 5-10 tahun diberikan pengobatan bila kadar kolesterol total lebih dari 300 mg/dL. Berdasarkan penelitian, obat penurun kolesterol secara umum aman untuk anak-anak. Namun tetap saja penggunaannya harus di bawah anjuran dan pengawasan dokter dan apoteker.

About Me

My Photo
Dika Amelia Ifani
Yang ingin terus berbagi kisah agar setiap penggalannya menjadi warna warni cahaya pelangi yang menghiasi dunia
View my complete profile