Thursday, August 27, 2015

Cerita Hamil Dan Melahirkan Di Aberdeen

Cerita ini saya bagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama berjudul “Hamil dan Pemeriksaan Rutin”, bagian kedua berjudul “Saat Melahirkan Tiba” dan bagian ketiga berjudul “Senangnya Punya Health Visitor”. Tulisan ini saya tujukan untuk teman-teman yang diberi anugerah kehamilan di Aberdeen, semoga cerita pengalaman ini bisa bermanfaat. Dan juga untuk Aidan, mujahid yang saya cintai. “Bunda yakin kisah ini kelak akan sampai padamu, Nak.”

Bagian pertama : Hamil dan Pemeriksaan Rutin

7 September 2014 pukul 12 siang adalah hari pertama kami di Aberdeen. Dingin, itulah kesan pertama saya ketika datang. Jelas saja saat itu di Aberdeen sedang musim gugur. Dijemput oleh seorang teman, kami lalu meluncur ke flat yang akan menjadi rumah kami selama setahun. Keesokan harinya secara bertahap kami mulai menjalani aktivitas rutin.

27 September 2014 adalah hari pertama saya haid dan ternyata itu menjadi haid yang terakhir karena di bulan Oktober tamu bulanan itu tidak muncul lagi. Test Pack menunjukkan 2 garis merah. Alhamdulillah saya positif hamil. Saya lalu menelepon GP dan memberitahu bahwa saya terlambat datang bulan. Mereka kemudian membuat jadwal pertemuan saya dengan midwife. Oya untuk membuat appointment pastikan sebelumnya kita (dan keluarga) sudah terdaftar di GP. Kami sendiri daftar ke Woodside Medical Centre (GP yang paling dekat dari rumah) sekitar seminggu setelah tiba di Aberdeen.

1 Desember 2014 awal jumpa dengan midwife di GP. Sarah Humphrey namanya. Sarah mewawancarai saya dengan beberapa pertanyaan seputar data diri dan keluarga serta riwayat kehamilan sebelumnya. Usia kandungan saya saat itu berdasarkan perhitungannya adalah 9w 1d. Usai wawancara saya dibekali buku panduan kehamilan “Ready, Steady, Baby” dan semacam buku medical record pre dan post natal yang memuat segala record kesehatan saya selama hamil dan melahirkan. Tak lupa Sarah menuliskan jadwal saya ke GP untuk konsultasi dengan midwife serta kapan saya harus ke Aberdeen Maternity Hospital untuk scan (USG).

ready steady baby

15 Desember 2014 adalah appointment kedua saya dengan Sarah. Darah dan urin saya diperiksa. Parameter yang diperiksa adalah Full Blood Count, Virology, HBa1C, HIV, Rubella, Sifilis, Hep-B, Sickle Cell Anaemia, Thalassemia dan pH urin. Ternyata yang diperiksa cukup banyak ya. Hasil tes darah tidak diserahkan kepada pasien, jadi pasien hanya akan dihubungi jika ada yang ganjil dengan hasilnya. Saya sendiri sempat dihubungi satu kali karena Hb saya rendah pada pemeriksaan darah ketiga di rumah sakit. Sejak saat itu setiap pertemuan dengan midwife, saya diminta untuk mengumpulkan urin untuk diperiksa pH nya. Terhitung sejak 1 Desember hingga melahirkan, total pertemuan saya dengan midwife hanya 7 kali. Alhamdulillah selama kehamilan ini saya sehat dan tidak sampai ‘ngidam’, bahkan masih bisa keliling 9 negara Eropa ketika usia kandungan 28 minggu. Alhamdulillah..

6 Januari 2015 adalah jadwal scanning pertama di Aberdeen Maternity Hospital. Scanning dilakukan oleh sonographer di lantai pertama lalu hasilnya kami bawa ke lantai kedua untuk dikonsultasikan dengan dokter spesialis kandungan. Berbeda dengan di Indonesia dimana scan dan konsultasi hasil, keduanya dilakukan oleh obgyn. NHS (National Health Service) UK umumnya hanya menganjurkan scanning sebanyak 2 kali yaitu pada saat usia 10-12 minggu dan 20 minggu. Namun mengingat saya mempunyai riwayat keguguran di kehamilan kedua maka saya dianjurkan dokter untuk scan 4 kali yaitu pada usia 15, 25, 30 dan 36 minggu. Mengapa dianjurkan? Karena disini pasien berhak memilih untuk tidak di-scanning. Oya, peraturan di Aberdeen Maternity Hospital adalah pasien dilarang menanyakan jenis kelamin janin saat di-scanning. Jadi kalau penasaran ingin tahu jenis kelamin calon bayi, maka kita bisa scanning di private clinic yang tentunya berbayar. Entah apa dasar dari peraturan ini, padahal rumah sakit di Glasgow saja masih membolehkan, padahal sama-sama di Scotland. Karena jenis kelamin janin masih rahasia maka saya dan Mas Trian menyiapkan 2 nama untuk bayi laki-laki dan perempuan. Dan kami sepakat kalau nama bayi kami nanti baik laki-laki atau perempuan harus mengandung unsur Scottish..hehe.

hospital

29 Juni 2015 adalah due date saya berdasarkan perhitungan midwife dengan siklus 28 hari. Sarah sudah membuatkan appointment lagi tanggal 30 Juni jika due date saya lewat. Benar saja saya harus bertemu Sarah lagi karena hingga tanggal 30 Juni pagi kontraksi belum terasa. Saya ditawari untuk di sweep yaitu pemeriksaan internal dimana midwife akan memasukkan jarinya ke dalam servik, dengan begitu membran kantung bayi akan terpisah dengan servik. Pemisahan ini akan menghasilkan hormon prostaglandin yang akan memicu kontraksi. Saya pikir daripada menunggu hingga minggu ke 42, lebih baik saya terima saja tawarannya, toh aman juga kan.

Bagian kedua : Saat Melahirkan Tiba
Tanggal 1 Juli 2015 bertepatan dengan 14 Ramadhan 1436 H sekitar pukul 1 dini hari, ketuban saya ‘rembes’. Oh mungkin ini adalah reaksi setelah kemarin midwife melakukan pemeriksaan internal. Saya duduk di lantai menunggu kontraksi datang sambil menemani Mas Trian sahur. Tapi hingga subuh (sekitar jam 2) tidak ada kontraksi sama sekali. Akhirnya saya berganti pakaian, berwudhu dan sholat berjamaah dengan Mas Trian.

Usai sholat subuh saya coba berbaring, mengumpulkan tenaga untuk melahirkan yang mungkin saja terjadi hari itu. Namun meski mata terpejam, saya tetap tidak bisa tidur. Kontraksi lalu muncul jam 4 pagi, rutin tiap 3 menit sekali. Saya biarkan Mas Trian tidur karena dia belum sempat tidur sejak isya dan tarawih. Puasa di musim summer membuat pola tidur kami berubah. Jam 5 saya bangunkan Mas Trian dan memberitahunya kalau kontraksi sudah mulai rutin dan saya rasa sebaiknya kami ke hospital jam 6 nanti.

Mas Trian menelepon Labour Ward Aberdeen Maternity Hospital dan menceritakan kondisi saya. Mereka bertanya berapa menit sekali saya kontraksi, berapa lama, apa saya masih bisa menahan rasa nyeri. Mungkin jika masih bisa tahan atau kontraksi masih lemah saya belum diizinkan ke rumah sakit. Tapi mengingat saya sudah pecah ketuban sejak semalam dan kontraksi mulai rutin 3 menit sekali, akhirnya pihak rumah sakit mengizinkan saya untuk datang.

Jam 6 pagi taksi datang. Kami antar Safa terlebih dahulu ke rumah Mbak Lita, salah seorang teman sekaligus tetangga di Aberdeen. Sudah sejak lama kami memberi tahu Safa kalau bunda nanti melahirkan, Safa akan diantar jemput sekolah oleh Mbak Lita dan menginap di flatnya. Kebetulan anak-anaknya memang akrab dengan Safa, sehingga kami tidak terlalu khawatir dengan proses adaptasi Safa selama menginap disana.

Setelah mengantar Safa, taksi membawa kami ke rumah sakit. Begitu tiba di rumah sakit, kami diantar langsung ke ruang bersalin oleh seorang midwife jaga. Dia mewawancarai saya seperti mereka mewawancarai Mas Trian. Lalu dia memeriksa tekanan darah dan suhu badan saya serta denyut jantung janin. Dia kemudian mengatakan bahwa sebentar lagi ada pergantian bidan jaga. Saya akan diperiksa lebih lanjut oleh Amanda, midwife yang bertugas pada shift berikutnya.

Jam 8 pagi, Amanda dan salah seorang Midwife student dari RGU (Robert Gordon University) memeriksa saya. Seperti biasa mereka memeriksa tekanan darah, suhu badan dan juga denyut jantung janin. Saya bertanya kapan pemeriksaan internal dilakukan, maksudnya periksa ‘pembukaan’. Karena biasanya di Indonesia bidan akan memeriksa status ‘pembukaan’ tiap beberapa jam sekali. Amanda kemudian memeriksa status pembukaan saya. Masih bukaan 1 jawabnya. Arrggh, padahal sudah nyeri tapi masih bukaan satu. Rasa sakit makin bertambah setelah Amanda mengatakan bahwa pemeriksaan berikutnya 4 jam lagi. Tapi saya tidak diminta pulang. Saya diizinkan tinggal dan menggunakan berbagai fasilitas di ruang bersalin. Saya pilih Birthing Ball karena katanya duduk sambil bergoyang-goyang di birthing ball membantu mempercepat proses persalinan.

Waktu terasa begitu lambat. Setiap jam midwife student memeriksa kondisi saya dan janin. Sampai suatu saat saya merasa begitu sakit lalu meminta gas and air sebagai pain killer. Agak asing memang karena dua kali pengalaman melahirkan di Indonesia saya tidak pernah diberi pain killer. Dengan teratur saya lakukan inhale dan exhale dengan bantuan selang gas and air sambil perlahan melafazkan takbir. Ternyata gas and air ini hanya mampu mengurangi rasa sakit beberapa menit saja. Lalu saya pindah ke tempat tidur dan berharap dengan posisi berbaring rasa sakit akan berkurang. Tapi justru berbaring membuat saya lebih sakit dan keinginan untuk mengejan semakin kuat. Saya belum berani mengejan mengingat pemeriksaan pembukaan yang kedua belum dilakukan. Takutnya alih-alih mengejan, perineum saya malah sobek atau kepala janin belum turun. Tapi keinginan mengejan sudah tidak bisa ditahan lagi. Saya lantas mengambil posisi kneeling atau berlutut di atas tempat tidur sambil menyandarkan kepala dan tangan saya ke bantal. Posisi melahirkan ini adalah hasil konsultasi saya dengan midwife community selama hamil.

Midwife student yang melihat saya sudah mengambil posisi kneeling segera memanggil Amanda. Mereka kemudian bergegas menyiapkan segala perlengkapan melahirkan. Tanpa pemeriksaan status pembukaan yang kedua saya langsung mengejan begitu kontraksi tiba. Mas Trian mengusap punggung saya perlahan. Entah berapa kali saya sudah mengejan tapi kepala bayi belum mau keluar. Durasi kontraksi begitu singkat sehingga meski kontraksi telah usai, nafas saya untuk mengejan masih bersisa. “Listen to your body, Dika”, tiba-tiba Amanda mengingatkan, membuat saya tersadar bahwa melahirkan adalah komunikasi antara wanita dengan tubuhnya, hanya ia yang tahu kapan saat yang tepat untuk mengejan dan kapan berhenti. Saya tatap mata Mas Trian lalu meminta maaf. Bagi saya melahirkan selalu menjadi momen yang sangat emosional. Dan saya bahagia karena setiap momen itu Mas Trian selalu ada di samping saya.

Untuk kontraksi yang kesekian kalinya saya menarik nafas dalam lalu mengejan dengan kuat hingga lahirlah bayi kami ke dunia pada pukul 10.41 BST (British Summer Time). “Alhamdulillah, laki-laki Bunda”, ucap Mas Trian. Air mengalir pelan dari sudut mata sendunya. Dia bahagia. Begitu pun saya.  Terimakasih ya Allah, telah menghadirkan Aidan, bayi laki-laki mungil di tengah keluarga kami. Aidan Shifanan Asmoro, itulah nama yang kami pilih jika yang lahir adalah bayi laki-laki.

IMG_20150701_114417

Seperti prosedur rumah sakit pada umumnya, bayi yang baru saja lahir diperiksa nilai APGAR nya lalu dibersihkan secukupnya kemudian diletakkan di atas perut ibunya untuk IMD dan juga menjaganya agar tetap hangat. Selama Aidan IMD, Amanda menjahit perineum saya yang robek derajat 2. Gas and air saya gunakan untuk mengurangi rasa sakit meski sebelum dijahit saya sudah mendapat bius lokal. Selesai dijahit, Aidan kemudian ditimbang beratnya dan diukur panjangnya. Hasilnya berat 3,340 kg dan panjang 53 cm.

aidan

Sekitar 1 jam pasca melahirkan saya berjalan ke kamar mandi untuk bersih-bersih diri dan berganti pakaian. Masih di ruang bersalin Aidan dibersihkan kembali dan dipakaikan baju oleh midwife student. Setelah bersih baru Mas Trian mengadzaninya.

Jam 2 siang, dua dokter anak datang ke ruang bersalin untuk memberi Aidan vitamin K dan imunisasi BCG. Amanda mengatakan bahwa dokter anak yang lain akan datang lagi sekitar jam 5 sore untuk memeriksa status kesehatan Aidan. Sambil menunggu, saya gunakan waktu untuk beristirahat dan memberi kabar kelahiran Aidan kepada keluarga dan teman-teman. Jam 5 sore seorang dokter keturunan India datang dan memeriksa kondisi Aidan. Semua terlihat normal katanya sehingga saya dan Aidan diperbolehkan untuk pulang. Saya dan Mas Trian cukup kaget karena kami sudah mempersiapkan diri untuk menginap di rumah sakit namun ternyata cukup 12 jam saja kami di rumah sakit. Saya bersyukur bisa pulang karena tidak perlu berpisah dengan Mas Trian dan bisa bertemu lagi dengan Safa setelah melahirkan. Peraturan di Aberdeen Maternity Hospital adalah pasien tidak boleh ditunggui hingga lewat malam, meski tamu itu adalah suami sendiri.

Sebelum pulang, Amanda memberi kami beberapa dokumen penting, diantaranya adalah dokumen untuk aplikasi birth register ke city council dan dokumen Transfer of Care from Hospital to Community yang berisi rekam medik saya dan Aidan selama proses melahirkan. Setelah serah terima dokumen tak lupa kami berfoto bersama Amanda serta midwife student yang begitu sabar dan gesit membantu saya melahirkan. Thanks a lot, Amanda.
bunda ayah

Bagian ketiga : Senangnya Punya Health Visitor
“Jangan keluar rumah dulu sebelum 40 hari ya. Kaki jangan ditekuk, harus selonjor. Kaki jangan gantung.”, nasehat ibu mertua saya di ujung telepon. “Mas Trian tolong bilang ke Dika jangan banyak kerja dulu. Kelihatannya aja Dika sehat tapi ‘dalamnya’ masih luka”, kalau ini nasehat ibu saya pada Mas Trian. Ya begitulah orang tua, meski bahagia mereka tentu khawatir dengan anaknya yang melahirkan di luar negeri, jauh dari keluarga besar mereka di Indonesia. Saya pun sempat khawatir  dan bertanya pada diri sendiri ‘apakah saya mampu?’. Tapi melihat pengalaman teman-teman yang hamil dan melahirkan di luar negeri, saya menjadi yakin kalau saya insya Allah bisa menjalaninya. Alhamdulillah Mas Trian juga tinggal menulis tesis dan tidak ada jadwal kuliah rutin jadi bisa optimal membantu pekerjaan rumah tangga. Safa juga terlihat senang dengan kehadiran Aidan. Dia belajar menenangkan adiknya ketika menangis, bernyanyi dan menciumnya setiap saat. Meski tetap saja saya harus menyiapkan banyak ide permainan untuk Safa, mengingat saat itu dia masih libur sekolah.

aidan safa

2 Juli adalah kunjungan pertama midwife ke rumah kami. Di Scotlandia (atau mungkin juga di seluruh UK), dalam rentang 10 hari pasca melahirkan, midwife akan datang ke rumah untuk memeriksa kesehatan ibu dan bayi. Midwife mengukur berat badan Aidan dan mewawancarai saya seputar nifas, breastfeeding, frekuensi ganti popok dan lain-lain. Selama 10 hari, midwife datang berkunjung sebanyak 4 kali. Setelah itu giliran Health Visitor (HV) yang bertugas memantau perkembangan saya dan Aidan. HV bertugas untuk mensupport dan mengedukasi keluarga pasca kelahiran sampai 5 tahun usia anak.

Health Visitor kami bernama Sheena Wilson. Dia ramah dan informatif. Dia menjelaskan tentang tugasnya kepada kami. Dari ceritanya saya jadi tahu bahwa HV sebenarnya adalah nurse atau midwife  yang telah menjalani program training ‘health nursing/health visiting’. Sheena sendiri sudah 6 tahun bekerja sebagai midwife community dan beberapa tahun bekerja di rumah sakit sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi health visitor. Alasannya adalah midwife community hanya memantau pasien selama hamil dan melahirkan, sedangkan HV bertugas memantau pasien beserta keluarganya selama 5 tahun. Kami senang sekali setiap Sheena datang karena itu artinya kami jadi tahu berat badan Aidan terbaru ..hehe. Dan setiap ada permasalahan dengan perkembangan kesehatan Aidan kami punya partner ahli untuk sharing. Andai saja setiap keluarga di Indonesia memiliki HV tentu masalah-masalah seputar pengasuhan anak sedikit demi sedikit dapat teratasi. Mudah-mudahan saja, suatu saat nanti di Indonesia.

aidan 2

Tuesday, May 26, 2015


Lima tahun berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin, Bunda menatap matamu yang bening dan bibir merahmu yang mungil. Masih segar dalam ingatan detik-detik menjelang kehadiranmu. Begitu kau tiba, kami gemakan kalimat Allah di telinga kanan dan kirimu. Kami panjatkan doa yang abadi tersemat dalam namamu. Safa Emira Asmoro, itulah nama yang kami pilih untukmu. Yang artinya pemimpin wanita yang suci, lembut dan penuh kasih. Betapa bahagianya kami memilihkan 'Safa' sebagai nama depanmu. Sebab dengan nama itu semoga kau dan juga kami selalu ingat bahwa hidup itu adalah rangkaian perjuangan. Bahwa kemenangan itu adalah sebuah hadiah yang diberikan kepada mereka yang teguh berupaya. Seperti air zam zam yang Allah hadiahkan kepada Siti Hajar di tengah rasa haus yang mencekik setelah ia berlari.. berlari ke bukit Safa dan Marwah. 

Kini 5 tahun telah kita lewati. Sebentar lagi Safa akan menjadi seorang kakak. Kakak yang lembut dan penuh kasih sayang. Kakak yang menjadi teladan dan pemimpin adik-adiknya kelak dan juga muslimah di luar sana. Doakan Ayah dan Bunda agar selalu istiqomah membangun keluarga kecil kita dalam bingkai surga. 

Ayah dan Bunda yang selalu mencintaimu 
#26 Mei 2015

Tuesday, January 17, 2012

Sosok Yang Membuatku Cemburu

Pertama kali tahu namanya ketika mentoring di SMA. Beberapa kali, oleh teteh mentor yang berbeda, namanya disebut. Namanya sederhana, seperti nama orang Sunda, ada pengulangan pada nama panjang. Yoyoh Yusroh, sederhana bukan?

Belum pernah saya bertemu dengannya, bahkan mencoba mencari tahu gambar wajahnya di internet pun tidak, sampai saya membaca buku yang satu ini “Yoyoh Yusroh, Mutiara Yang Telah Tiada”.

Membeli buku ini bukan tidak disengaja. Pada suatu pengajian, saya diingatkan lagi tentang kisah ummi, panggilan ustadzah yoyoh. Katanya ummi ini sibuk sekali. Dia adalah anggota dewan, pengurus yayasan sosial, murobbiyah, dan ibu dari 13 orang anak. Sekalipun agendanya padat, harus berda’wah dan mengunjungi banyak tempat, tapi makannya selalu terjaga. Jika ia diminta memilih masakan padang atau makanan siap saji, maka dia memilih masakan padang. Soda pun sangat dihindari. Alasannya adalah karena masakan siap saji, makanan yang mengandung msg, dan soda berbahaya bagi rahim perempuan, padahal rahim adalah tempat bersemayamnya calon manusia yang akan lahir ke dunia. Selalu saja ada cerita yang berbeda dari ustadzah yoyoh, dan semua cerita membuatku kagum. Karena itu, saat pergi ke toko buku, buku ini menjadi salah satu yang terpilih.

Monday, May 17, 2010

Jahe dan Khasiat Anti Bakteri

Jahe adalah rempah-rempah yang banyak digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Tanaman ini selain digunakan sebagai bumbu dapur juga berkhasiat sebagai obat. Ciri khas jahe terdapat pada aroma dan rasanya yang tajam. Aroma pada jahe disebabkan oleh adanya minyak atsiri terutama golongan seskuiterpenoid sebanyak lebih dari 3 %. Sedangkan rasa yang pedas disebabkan oleh adanya senyawa gingerol dan shogaol. Di Indonesia, jahe diracik menjadi suatu minuman penghangat badan yang dikenal dengan nama wedang jahe. Minuman ini sangat bermanfaat untuk mengusir dingin terutama bagi mereka yang tinggal di daerah pegunungan.

Zingiberis officinale, nama latin tanaman jahe merupakan tanaman yang tumbuh tegak dan merumpun dengan tinggi mencapai 30 cm – 1m. Jahe biasanya ditanam pada dataran rendah sampai dataran tinggi (daerah subtropis dan tropis) pada ketinggian 1500 m diatas permukaan laut. Menurut Farmakope Belanda, Zingiber rhizoma (rimpang jahe) yang berupa umbi Zingiber officinale mengandung 6% bahan obat-obatan yang sering dipakai sebagi rumusan obat-obatan atau sebagai obat resmi di 23 negara. Menurut daftar prioritas WHO, jahe merupakan tanaman obat-obatan yang paling banyak dipakai di dunia.

Bijak Mengkonsumsi Obat Anti Nyeri

Pemahaman bahwa obat akan selalu bermanfaat baik bagi manusia kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun adalah salah. Kenyataan menunjukkan bahwa obat memiliki dua sisi berlawanan. Di satu sisi ia dapat memberi manfaat dan di sisi yang lain dapat membahayakan bagi penggunanya. Obat hanya akan memberi manfaat apabila digunakan secara tepat. Pada dosis yang dianjurkan, obat memiliki dua jenis efek yaitu efek yang diinginkan atau efek terapi dan efek yang tidak diinginkan yaitu efek samping. Semakin tinggi dosis, efek samping akan lebih terasa namun tidak semua pengguna obat merasakan efek tersebut. Hal ini bergantung pada kepekaan pengguna.

Obat anti nyeri merupakan obat yang ditujukan untuk mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri, misalnya pada sakit kepala, sakit kepala pada migren, sakit gigi, nyeri otot, nyeri haid (dismenorea primer). Beberapa obat anti nyeri atau analgesik memiliki khasiat sebagai penurun demam (antipiretik) dan mengurangi proses peradangan (anti inflamasi). Obat ini digolongkan sebagai obat anti inflamasi non steroid (OAINS). Obat anti nyeri yang beredar sebagai obat bebas adalah untuk sakit yang bersifat ringan, sedangkan untuk sakit yang berat (misalnya sakit karena batu empedu, kanker) perlu menggunakan jenis obat keras yang membutuhkan pemeriksaan dokter.

The Hidden Face Of Iran

Buku yang “recommended” ini, kata 3an, memang memikat luar biasa. Novel ini merupakan catatan perjalanan keluarga Irlandia berkewarganegaraan Amerika Serikat untuk mencari pembantu rumah tangganya sewaktu mereka tinggal 10 tahun di Teheran. Terence Ward dengan sangat apik menggambarkan perjalanannya yang penuh petualangan bersama kedua orang tuanya, Donna dan Patrick, serta ketiga saudara laki-lakinya, Kevin, Chris dan Richard. Dibesarkan di Iran, pada tahun 1960an, Terrence Ward dan seluruh anggota keluarganya tidak mampu melupakan ikatan erat yang menyatukan mereka dengan Hassan, sang koki keluarga, pengurus rumah tangga dan pemandu budaya mereka.

Setelah meninggalkan Iran selama 30 tahun, Ward kembali ke negara itu bersama seluruh anggota keluarganya untuk melakukan pencarian terhadap Hassan. Masa lalu yang indah yang mereka habiskan selama 10 tahun di negara Khomeini itu benar-benar menyentuh. Kasih sayang yang terjalin antara keluarga “barat”, yang notabene dianggap sebagai sosok jahat dibelakang Shah Pahlavi, digambarkan dengan sempurna. Bagaimana tidak, setelah berselang 30 tahun mereka bertekad mencari Hassan dan keluarganya di suatu desa tak terkenal di negara Iran yang berada dalam instabilitas politik pasca revolusi dan perang. Sinting, begitulah kesan pemandu sewaan mereka, Avo, selama perjalanan panjang itu.

Bila Perempuan Tidak Ada Dokter

Di dunia ini, ada jutaan perempuan yang hidup di kota-kota dan desa-desa ‘yang tidak ada dokter’ atau kalaupun ada, layanan kesehatan di daerah itu umumnya tidak terjangkau. Oleh karena itu banyak di antara mereka yang menderita, bahkan banyak pula yang meninggal, hanya karena tidak terjangkaunya layanan perawatan dan pengobatan, serta tidak tersedianya informasi yang memadai tentang seluk beluk kesehatan perempuan. Untuk merekalah buku ini ditulis. Bagaimanakah faktanya di Indonesia ?


Lalu mengapa PEREMPUAN? Jawaban dari pertanyaan ini langsung anda dapatkan di Bab I, karena “kesehatan perempuan adalah persoalan masyarakat”. Bila seorang perempuan sehat, ia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan pekerjaannya sehari-hari, memenuhi banyak peran yang dimilikinya dalam keluarga dan masyarakat serta membangun hubungan yang memuaskan dengan orang lain. Setiap perempuan mempunyai hak atas perawatan kesehatan yang utuh sepanjang hidupnya, tidak hanya sebatas perannya sebagai istri dan ibu. Selain itu, kesehatan seorang perempuan bukan saja dipengaruhi oleh keunikan ragawi semata, melainkan juga dipengaruhi oleh seluruh kondisi sosial, kebudayaan dan ekonomi dimana dia berada. Intinya, jika kesehatan perempuan membaik, semua orang yakni perempuan itu sendiri, keluarganya, serta masyarakatnya akan menikmati manfaatnya.