Wednesday, May 13, 2009
Adakalanya Kerinduan Lebih Bermakna..
Dalam proses perkenalan dengan calon pasangan hidup, salah satu yang menjadi pertimbangan bagi setiap perempuan adalah apakah calon pasangannya berpenghasilan atau tidak, baik itu tetap maupun tidak tetap. Hal itu juga yang menjadi pertimbangan orang tua perempuan, selain agama tentunya, ketika calon menantunya datang mengajukan niat menikahi putrinya. Seperti halnya yang saya alami ketika dulu berkenalan dengan suami saya sekarang. Ia bekerja di bidang oil and gas dengan sistem on-off, 2 minggu di field (palembang) dan 12 hari off. Jadi selama sebulan, kami hanya bertemu sekitar 12 hari bahkan terkadang kurang. Kenyataan tersebut juga sudah dipertimbangkan, dalam arti ketika menikah berarti siap untuk ’ditinggal’.

Pada awalnya hal tersebut terasa biasa-biasa saja, sebab ketika ia di field, saya mengerjakan tesis di bandung, jadi tak terasa waktu cepat berlalu. Namun ada saja momen-momen yang membuat saya melow, merasa tidak tegar untuk berpisah. Mungkin terkesan konyol, tapi momen itu akhir-akhir ini semakin banyak dan mengantri. Momen itu adalah momen menghadiri undangan pernikahan teman. Kenapa bisa seperti itu?

Hampir di setiap undangan yang saya hadiri, saya selalu ditanya ”Dika sendiri?”, dan pertanyaan itu lebih tepat terdengar ”Dika gak sama suami?”. Hal itu tidak masalah pada awalnya, namun menjadi masalah ketika saya merasa memang sendirian di tengah para pasangan-pasangan baru yang juga datang ke undangan. Sempat ada yang nyeletuk ”Dika baru ditinggal suami 2 minggu aja udah ngelamun gitu” (ayo ngaku ini siapa :p). Masya Allah, rasa rindu saya pada suami saya semakin besar. Entah itu perasaan rindu atau sebenarnya hanya emosi cemburu melihat pasangan lain yang bisa datang bersama dan begitu mesra. Aneh bukan, padahal dari rumah niatnya adalah memenuhi undangan sahabat..tapi godaan syaitan yang menghembuskan rasa iri selalu mengintai di setiap tempat, setiap waktu.

Saat perjalanan pulang, yang tentunya sendirian, saya tuangkan kesedihan tersebut di sms dan saya kirimkan pada suami saya. Lama sms tak terjawab dan ada perasaan menyesal di hati saya, suami saya tidak bisa menemani saya karena sedang bekerja mencari nafkah dan kini saya membebaninya lagi dengan curahan emosi seperti itu. Astagfirullah, maaf Mas. Beberapa waktu setelah itu hp berbunyi, masuk sms jawaban dari suami saya ”Sabar ya, tidak semua yang terlihat indah itu sejatinya indah, adakalanya mungkin kerinduan kita lebih indah dari kebersamaan..i love u”..
Subhanallah Alhamdulillah, kalimat itu terasa seperti tetesan air di padang hati saya yang sedang kering terbakar rasa cemburu..sejuk sekali..dan saat itu juga saya merasa rindu yang sangat dalam yang kemudian mewujud dalam sebuah doa untuk dirinya. Ya adakalanya rasa rindu lebih bermakna dari sebuah kebersamaan..

Terimakasih ya Rabb,
Terimakasih Mas..

Labels:

 
posted by Dika at 8:05 AM | Permalink | 8 comments
Thursday, April 02, 2009
Sayap Garuda dan Cita Merpati
“Ibarat burung garuda, akan terbang tinggi apabila kedua sayapnya mengepak bersama-sama, laki-laki dan perempuan. Sekuat apapun satu sayap, kalau sayap yang satunya tidak dipergunakan secara maksimal, maka tentu kurang tinggi terbangnya”, begitulah quote seorang tokoh yang saya baca di koran lokal.

Membaca pesan tersebut saya teringat dengan cerita perjalanan saya sewaktu ke Magetan. Saat itu saya dan Mas Trian berkunjung ke beberapa saudara di Magetan dan Madiun. Salah satunya adalah Papuh dan Bupuh Paryadi.

Papuh adalah seorang tukang jamu yang sangat terkenal di desa Sambirembe. Setiap pagi, ia berangkat menjajakan jamu ke rumah-rumah dan kantor-kantor. Pelanggannya cukup banyak dan loyal. Papuh juga bekerjasama dengan para ahli pengobatan tradisional (dan alternatif) yang lain, diantaranya adalah tukang pijit dan akupunkturis. Setiap hari banyak pasien yang berkunjung ke rumah papuh sardi untuk konsultasi atau sekedar untuk mendapat jamu gratis, lumayan untuk menyegarkan badan.

”Bagaimana Papuh bisa tertarik pada usaha Jamu?”, tanya saya. Semua berawal dari putrinya yang ketika obat-obat modern saat itu tak mempan mengobati penyakitnya, papuh sardi membawa putrinya pada ahli obat-obatan tradisional dan ternyata sembuh. Sebelum akhirnya terjun ke jamu, papuh juga telah mengenyam pengalaman di perusahaan farmasi di Jakarta. Itu pula yang menjadi bekal dasar pemahaman beliau tentang obat-obatan. Papuh belajar terus menerus tentang jenis tanaman obat, khasiat dan cara pengolahannya. Tidak hanya untuk satu penyakit, dengan izin Allah jenis penyakit komplikasi pun dapat beliau tangani dengan kombinasi ramuan tanaman obat buatannya.

Jika pagi papuh berangkat menawarkan jamu, sore hingga malam ia berperan sebagai tabib yang siap menerima pasien kapan saja. Pekerjaan yang padat dan mulia ini tentu tak dapat beliau lakukan sendiri tanpa istri tercinta, Bupuh Paryadi. Wanita bersahaja ini adalah sang asisten teladan, dimana setiap resep yang dibuat papuh akan segera dibuat oleh bupuh. Jadi agenda bupuh setiap pagi adalah memanaskan periuk dan mengekstrak tanam-tanaman untuk dijadikan jamu yang akan diantarakan papuh ke rumah-rumah, ke kantor-kantor. Jika papuh sedang ’praktek’, maka agenda seperti undangan atau berkunjung ke rumah saudara, bupuh lah yang berangkat. Namun untuk wisuda atau agenda besar putra-putrinya, papuh dan bupuh akan datang bersama-sama. Bupuh bahkan sempat pergi keluar kota tanpa papuh, ia rela karena papuh dibutuhkan oleh masyarakat.

Satu jam cerita yang mengalir dari sepasang insan berusia senja namun bersahaja dan sarat pelajaran ini sungguh tak terasa. Berbagai nasehat pun tak lupa untuk mereka bagi. Tapi bagi saya, kisah hidup mereka saja sudah menjadi nasehat berharga. Bagaimana mungkin selama puluhan tahun hidup bersama tapi tak pernah ada pertengkaran, padahal mereka hanya memiliki sedikit waktu untuk bersama? Waktu mereka habis dipakai untuk memenuhi kepentingan orang lain. Meski tak dipungkiri ada rasa cemburu, tapi mereka selalu berhasil menepisnya. Duhai, mulia sekali kedua orang tua kami ini. Apa kami sanggup? Selalu itu yang ada dalam benak saya ketika menemukan sesuatu yang luar biasa dari kehidupan seseorang atau sepasang suami istri. Pertanyaan yang sama dan selalu ingin dijawab dengan kata ”Ya kami insya Allah sanggup”.

Jika papuh Paryadi adalah sayap kanan dari seekor garuda, maka bupuh adalah sayap kirinya, seperti quote diatas tentang kerjasama pria dan wanita. Mereka akan terbang tinggi dengan kepakan yang kuat karena keduanya saling mengisi, saling mendukung dan saling percaya.

Dan kami ingin mengikuti langkahnya dengan menjadi sepasang merpati yang meski sayapnya tak kuat mengepak, tapi sayap kami yang saling berpadu, saling menguatkan dan saling melindungi dapat membawa kami ke langit tinggi.

Labels:

 
posted by Dika at 10:33 AM | Permalink | 3 comments
Saturday, March 21, 2009
Menulis Artikel Ilmiah Populer Yuk
Menurut Arswendo Atmowiloto, aktivitas mengarang itu mudah. Namun beberapa pihak berpendapat bahwa menulis itu gampang-gampang susah. Jika dibandingkan dengan aktivitas menulis artikel ilmiah, maka menulis artikel ilmiah populer lebih sulit lagi, sebab hingga kini tidak ada ’guideline’ yang baku dalam penulisan artikel ilmiah populer. Setiap media memiliki gaya tulisan yang menjadi ciri khasnya masing-masing. Penulis yang ingin agar tulisannya dimuat dalam suatu media harus belajar mengenali karakter media tersebut.


Menulis artikel ilmiah populer adalah seni menemukan, meramu sudut pandang yang baru, unik dan cerdas dari suatu fakta serta menggugah rasa ingin tahu dan belajar pembaca awam.


Mengapa menulis ?

Lalu mengapa menulis? Beberapa alasan yang mengemuka diantaranya adalah menulis merupakan salah satu bentuk pengamalan ilmu pengetahuan. Banyak para pakar yang mengisi kolom-kolom dalam media dengan tulisan ilmiah yang bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, menulis juga dapat memberikan income tambahan, menambah popularitas, dan menjadi kredit poin bagi mereka yang pada institusinya mensyaratkan karya tertentu berupa tulisan untuk rekomendasi kenaikan pangkat. Manfaat yang dirasakan langsung oleh penulis melalui aktivitas menulisnya adalah bertambahnya pengetahuan. Lagi-lagi mengapa? Menulis artikel ilmiah populer tidak sama dengan menulis diary atau buku harian karena dalam prosesnya membutuhkan referensi yang banyak dan up to date serta analisis yang tajam. Sehingga penulis akan membuka lebih banyak buku, jurnal, koran atau majalah yang mendukung tulisannya.


Bagaimana memulainya?

Sebelum anda memulai menulis, sebaiknya jawab dulu pertanyaan-pertanyaan (4W + 1H) berikut.

1. WHAT (media apa yang dipilih dan ide apa?)
2. WHO (kepada siapa tulisan ditujukan?)
3. WHEN (Kapan hal itu terjadi dan berapa lama pembaca meluangkan waktu)
4. WHERE (dimana terjadinya?)
5. HOW (Bagaimana tulisan disampaikan/gaya penulisan)

Setelah anda menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, siapkanlah topik tulisan anda. Pilihan topik harus didasari pada seberapa penting gagasan itu, bagaimana mempertajam gagasan agar lebih fokus, apakah gagasan terikat dengan waktu, apakah gagasan itu segar dan unik dan apakah gagasan itu layak diterbitkan.


Tubuh artikel ilmiah populer

Artikel ilmiah populer secara umum terdiri dari judul, pendahuluan, pembahasan dan penutup. Berikut penjelasan masing-masing bagian artikel tersebut :

1. Judul

Judul adalah ’wajah’ tulisan. Seseorang biasanya akan membaca suatu tulisan karena tertarik dengan judulnya. Oleh karena itu judul haruslah menarik dan memikat, singkat dan padat, jelas dan spesifik serta membuat penasaran.

2. Pendahuluan

Dapat berupa pendahuluan kejutan, pelukisan, anekdot, pertanyaan, kutipan atau quote dari orang lain, misalnya dari tokoh-tokoh sejarah, atau amanat langsung dari penulis.

3. Pembahasan

Adalah bagian utama tulisan, dimana topik dibahas lebih mendalam. Pendahuluan dapat dipecah menjadi beberapa sub judul sebagai peluang bagi pembaca untuk beristirahat atau untuk penegasan suatu paragraf.

4. Penutup

Merupakan kesimpulan dari isi tulisan yang dapat berupa saran, imbauan, ajakan dan sebagainya.

Setelah itu lakukan pemeriksaan ulang terhadap tulisan untuk meyakinkan bahwa tulisan sudah layak dikirim.


Syarat artikel ilmiah populer

Satu hal yang penting dalam penulisan artikel ilmiah populer adalah kejujuran. Tulisan harus berisi pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan, apalagi jika terkait dengan hajat hidup pembaca, misalnya tulisan dengan topik kesehatan. Beberapa percobaan atau penelitian yang menjadi referensi tulisan mungkin saja salah, atau terjadi manipulasi data yang dikenal dengan istilah intellectual crime. Oleh karena itu, menulis artikel ilmiah populer tidak bisa jika tidak melandaskan diri pada keikhlasan berbagi ilmu.


Mulai darimana?

Darimana saya harus mulai? Mulailah dari bagian yang paling mudah, mulai dengan bahasa sendiri, dan yakinlah bahwa writting a paper is as important as facts. Jadi, mulailah sekarang.


(Resume acara Semiloka “Menulis Artikel Ilmiah dan Artikel Ilmiah Populer” Farmasi ITB – 12 Juli 2007)


Bagaimana, apa sahabat-sahabat tertarik untuk menulis artikel ilmiah populer? Mudah-mudahan berawal dari rutin menulis catatan harian ringan di blog atau di buku, maka lama kelamaan kita akan tergerak untuk menulis sesuatu yang lebih serius, lebih ilmiah tapi tetap membumi. Meski terkadang pada pelaksanaannya tidak sesuai dengan guideline diatas, toh kita tetap mendapat pelajaran dari penelusuran referensi, wawancara tokoh dan lain-lain.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, manfaat menulis juga dapat menambah penghasilan yaitu jika dimuat di majalah-majalah, atau harian media massa tertentu. Bidik saja media-media tertentu, amati tema yang diusungnya, kenali gaya penulisannya, bila perlu kenali pimrednya :), dan kirim segera tulisan Sahabat. Dan ingat, uang itu hanyalah sebuah resiko baik, ketika tulisan itu dibuat dengan hati dan niat berbagi ilmu maka resiko itu, baik dan buruk akan kita terima.

Selamat mencoba..!!


Labels: ,

 
posted by Dika at 10:50 PM | Permalink | 1 comments
Friday, March 20, 2009
Menjadi Ayah
Suatu hari, saya dan keluarga berkunjung ke rumah Ua di Garut. Kami datang untuk menghadiri pernikahan saudara di sana. Malam sebelumnya diadakan pengajian sederhana, mengundang warga desa dan tokoh masyarakat. Setelah pengajian itu berakhir, saya terlibat dengan pembicaraan menarik dengan sepupu ipar saya. Apa pasal? Ia menyatakan sebuah keinginan yang sudah diimpikannya sejak lama, sudah sejak 10 tahun lalu, rentang waktu yang sama dengan usia perkawinannya. ”Aa ingin punya anak, Dika”.


Dalam waktu 10 tahun itu, berbagai macam usaha dilakukan, terapi ke dokter dan lain sebagainya, namun sepupu saya tak kunjung hamil. Meski begitu lama menanti, mereka tidak pernah putus asa. Satu kalimat tawakal yang Aa katakan ”Pasti semua ini ada hikmahnya, mungkin Aa dan Teteh belum waktunya menjadi orang tua. Allah yang paling tahu kapan waktu yang tepat.”


Senyap..

Untaian nasehat yang ingin saya sampaikan untuk menguatkannya tertelan kembali. Saya berhadapan dengan seorang tukang cukur rambut berpendidikan rendah namun kekuatan keyakinannya pada Allah dan tawakalnya membuat saya seperti berhadapan dengan seorang ustadz. Jika saya (dan atau suami saya) berada dalam posisinya, apakah akan setegar itu? Laa yukallifullahu nafsan illa wus aha..


Adakah laki-laki yang tidak ingin menjadi seorang ayah? Menimang putra-putrinya dalam dekapan, mengajarnya menunggang kuda, menceritakan kisah-kisah sahabat nabi, mengajaknya bermain di pantai, mengajarnya Iqro, menggelitiknya dan mengatakan ” i love u, son.. i love u, sweety”


Januari 2009, impian itu menjadi kenyataan. Alhamdulillah, aa dan teteh dikaruniakan anak perempuan yang cantik dan sehat. Mereka memberinya nama ”Hilya Az zahra”, nama yang ’tak biasa’ di kalangan masyarakat kampung kecil di kota Garut. Tapi bagi mereka nama itu menggambarkan perasaan dan cita-cita mereka. Semoga Hilya selalu menjadi permata hati yang menyejukkan Aa dan teteh dan kelak menjadi perempuan setegar Az zahra, putri tercinta Rasulullah SAW. amin

Labels:

 
posted by Dika at 11:59 AM | Permalink | 2 comments
Thursday, February 12, 2009
Perjalanan Ke Magetan
Empat hari setelah menikah, saya dan suami beserta keluarga Bandung berangkat ke Magetan untuk menghadiri acara ngunduh mantu yang diadakan pada malam jum’at dan malam sabtu. Kami berangkat pukul 8 malam dengan menggunakan mobil travel jenis travello. Perjalanan yang amat melelahkan, namun segala lelah itu sirna ketika kami sampai dan disambut dengan hangat oleh keluarga di Magetan. Meski komunikasi terus menjadi kendala sejak awal kedatangan hingga kepulangan kami, maklum kami adalah dua keluarga yang berbeda suku, berbeda budaya dan tentunya berbeda kebiasaan.

Acara sudah berlangsung sejak pagi, puncak acaranya adalah sore hingga malam. Banyak tamu yang berdatangan membawa perbekalan seperti beras, minyak, gula, kelapa sebagai hadiah. Hal itu merupakan kebiasaan masyarakat di daerah Glodok, Magetan, yang mungkin kebiasaan itu juga terjadi di daerah-daerah lain di nusantara. Gotong royong yang masih tertanam dalam masyarakat, semoga tidak akan tergerus arus zaman. Acaranya berupa kesenian semacam kasidahan lalu ditutup dengan tablig dari seorang mubaligh Madiun. Jujur, saya harus berusaha keras untuk terjaga karena selain hari telah beranjak malam, bahasa yang digunakan membuat saya tidak konsentrasi.

Sabtu pagi yang cerah setelah sarapan, kami berjalan-jalan ke tempat wisata yang terkenal di Magetan. Namanya adalah Telaga Sarangan. Subhanallah, indah tak terkira, sebuah telaga besar yang dikelilingi gunung-gunung hijau, Gunung Lawu namanya. Angin besar mendorong air permukaan telaga, membentuk ombak-ombak kecil yang menantang kami untuk berspeed boat. Hanya saya, Mas Trian, adik dan ibu saya yang menjawab tantangan tersebut. Dengan gagah Icha, Mas Trian dan saya bergantian mengemudikan speed boat tersebut. Setelah itu kami mencoba berkuda mengelilingi telaga yang sayang tidak bisa ditumpagi oleh 2 orang. :) Pesan saya jika teman-teman pergi ke Magetan jangan lupa untuk mampir ke Telaga Sarangan dan rasakan sensasinya :).

Dari telaga, kami melanjutkan perjalanan ke kampung Gandu untuk makan siang. Kampung Gandu adalah daerah di kota magetan yang menjadi sentra penjualan ayam panggang, 3 ayam panggang yang rasanya gurih dan sedikit pedas habis tak tersisa (tentunya tidak dengan tulang :)). Ayam panggang ini adalah makanan pertama terlezat yang kami cicipi di Jawa Timur. Rasa dan komposisi bumbu yang berbeda antara Jawa Barat dan Jawa Timur belum dapat kami tolerir (kecuali mas trian). Kenapa pertama? Karena bagi saya hanya ada 2 makanan terlezat disana. Tapi apapun makanan yang disuguhkan tidak pernah kami sisakan.

Acara selanjutnya adalah pagelaran wayang kulit yang dikomandoi oleh seorang dalang Jember. Ingat makanan pertama yang lezat tadi? Makanan kedua terlezat adalah rawon hangat. Sengaja saya tidak pakai nasi dulu agar dapat merasakan nikmatnya kuah yang berisi segala bumbu kecuali kencur ini. Apalagi ditambah daging yang empuk. Oya, pegelaran wayang kulit adalah acara yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Magetan. Tak heran jika penonton yang jumlahnya ratusan bersedia berdiri menikmati kesenian khas Jawa, karena kursi hanya cukup untuk keluarga dan beberapa undangan. Seperti biasa saya meraba-raba arti dan alur cerita yang katanya bahasa yang dipakai jauh lebih halus daripada bahasa jawa sehari-hari. Saya menikmati fragmen cerita tentang jenis-jenis kebobrokan moral yang terjadi di Indonesia yang mesti kita hindari. Pesan yang dibungkus dengan gaya komedi sambil ditingkahi keterampilan dalam menggerakkan dan memutar-mutar wayang sangat disukai penonton. Hanya sebentar kami menonton karena rasa kantuk sudah menggelayuti.

Akhirnya hari kepulangan keluarga Bandung tiba. Saya dan mas Trian masih di tempat untuk bersilaturahmi dengan sanak saudara di Magetan. Banyak petuah kami dapatkan dari para wong tuo, nasehat yang sangat bijak yang mungkin terangkum dalam buku tapi nuansa silaturahmi membuat semua terasa berbeda. Nasehat tentang kerukunan dalam rumah tangga, manajemen keluarga, gizi anak, obat-obat bahan alam (nyambung dengan bidang yang saya ambil), keprofesian, mengambil keputusan, ruqyah hingga mengajak ke dalam kebaikan kami dapatkan dalam satu hari, sungguh berharga. Teringat hadist Rasulullah bahwa silaturahmi dapat menambah rezeki dan panjang umur. Rezeki itu bagi kami adalah untaian nasehat dari orang-orang tua tersebut terhadap kami. Senang sekali..Alhamdulillah.

Pada hari terakhir kami berdua sempatkan untuk berjalan-jalan pagi menyusuri sawah yang terbentang luas dan ladang tebu yang tidak jauh dari rumah magetan. Menyaksikan kumpulan burung-burung kecil pemakan padi, matahari yang malu-malu terbit menerobos arak-arakan awan, petani-petani yang melintasi jalan berbatu dengan sepeda kumbang tempo dulu adalah pemandangan yang baru saya jumpai. Indah..indah..

Setelah berjalan-jalan, kami membereskan isi koper dan bersiap-siap untuk pulang. Banyak nasehat mengalir mengantarkan kepergian kami dari bibir mungil ibunda mas Trian, saya coba rekam sebagaimana halnya ketika ibu saya menasehati saya sebelum ia beranjak pergi meninggalkan Magetan.

Dengan menggunakan bus Sumber kencono, kami berangkat ke terminal Madiun lalu berganti taksi karena bus tidak melewati stasiun. Kereta pun melaju pukul 10.16 membawa kami menuju Bandung. Dan sepanjang perjalanan, yang merupakan pengalaman perjalanan pertama saya melintasi kota-kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah di siang hari, saya menyaksikan kembali jutaan hektar sawah yang terbentang luas. Indonesia yang kaya, sayang paradoks dengan kondisi masyarakatnya.

20.10..Stasiun Utara Bandung

Bandung gerimis malam itu, tetesan airnya menyentuh lembut kepala kami. Seakan mengucapkan salam, ”Selamat datang di dunia nyata, saatnya kembali untuk bekerja”. Ya, saya harus siap merelakan suami pergi mencari penghidupan dan saya kembali melanjutkan penelitian yang dua pekan tertunda.

Labels:

 
posted by Dika at 6:05 AM | Permalink | 14 comments
Tuesday, January 20, 2009
Mereka Bilang Aku Beruntung

Mereka bilang aku beruntung, mendapatkan calon suami ‘orang jawa’ yang katanya terkenal sangat ulet, pekerja keras dan pantang menyerah. Bukan berarti menafikan suku lain yang tentunya secara personal pasti ada yang memiliki sifat-sifat di atas, bahkan lebih baik. Tapi secara komunal, karakter-karakter tersebut melekat pada pria jawa. Untuk hal ini memang saya tidak punya ’textbook’nya, tapi begitulah orang-orang berbicara.

Mereka bilang aku beruntung, mendapatkan calon suami yang bekerja di perusahaan besar, oil company, terdengar gagah bukan? Sebulan mendapat gaji yang cukup besar, dan mungkin sangat besar untuk saya yang dibesarkan di lingkungan serba sederhana. Bahkan jika saya minta berlian, hal itu bukan hal sulit baginya. Tinggal pilih dan gesek, berlian langsung dapat saya pakai.

Mereka bilang aku beruntung, mendapatkan calon suami yang sudah mempunyai rumah. Cukup besar untuk keluarga kecil dan lokasinya strategis. Rumah bagi sebagian kalangan merupakan indikasi kemandirian seseorang, apalagi dengan jerih payah sendiri tanpa sepeserpun bantuan dari orangtua. Dan tidak perlu menunggu lama untuk mengisi rumah itu dengan perabotan rumah tangga lengkap.

Ya, tidak sedikit mereka yang bilang aku beruntung menikah dengan seorang pria karena alasan-alasan tadi. Benarkah aku beruntung?

Bagaimana jika calon suamiku yang sekarang bukan orang jawa? Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, apakah aku masih beruntung? Padahal seorang jawa pun tentu memiliki kelemahan dan non jawa pun memiliki kelebihan.

Bagaimana jika calon suamiku bukan karyawan oil company? Dengan gaji yang hanya mencukupi kebutuhan pokok untuk sandang, pangan dan papan yang sederhana dan meski tak sanggup membeli berlian, apakah aku masih beruntung? Padahal banyak orang-orang kaya yang tidak puas dengan hidupnya hingga akhirnya muncul korupsi dimana-mana. Dan korupsi itu bukan sulap, terjadi karena bujuk rayu sang istri.

Bagaimana jika calon suamiku belum berkesempatan membeli rumah? Dengan gajinya yang ’pas’ hanya mampu mengontrak sepetak rumah dengan perabotan seadanya, apakah aku masih beruntung? Padahal banyak mereka yang tinggal di istana namun tak lebih dari sebuah sangkar emas, sepi.

Tak dapat kupungkiri bahwa hal-hal tersebut di atas adalah nikmat dari-Nya yang menempatkanku pada kursi orang beruntung. Tapi apa hanya itu? Padahal tidak semua keberuntungan itu dinilai dengan serba serbi materi. Teringat pada baginda Rasulullah SAW yang menjadikan agama sebagai kriteria pertama dalam memilih jodoh. Sedangkan harta adalah hal yang kesekian. Teringat pula pada perkataan seorang sahabat ”bagi saya, agama seseorang hanya dapat kita nilai dari akhlaknya, tidak hatinya”. Karena hati adalah rahasia seseorang dengan Rabb-nya.

Jadi apakah aku beruntung? Kembali aku meluruskan niat dan menelusuri jejak-jejak peristiwa bertemu dengannya kemudian memilihnya dengan sadar dan sepenuh jiwa. Ingin sekali kunyatakan, bahwa jika suatu saat kenikmatan-kenikmatan itu tadi lenyap, kembali pada pemilik hakikinya, aku akan berusaha untuk terus berada di sampingnya, mendukungnya dan mencintainya. Selama agama menjadi imam dalam rumah tangga kami nantinya dan masing-masing menunaikan kewajiban yang melekat setelah akad terucap maka aku ingin selalu mengatakan ”aku beruntung menikah dengannya”.

Labels:

 
posted by Dika at 11:20 AM | Permalink | 19 comments
Monday, January 12, 2009
Langkah Baru

Alhamdulillah, saya sedang menuju sebuah langkah baru yang besar dalam kehidupan. Langkah baru tersebut ditandai juga dengan pembuatan weblog baru, sebagai perpaduan dua insan blogger.

Saya berharap rekan-rekan akan sudi mengunjungi weblog kami, http://triandika.net

Weblog tersebut tidak akan serta merta menghapus jejak blog kisah ini (dan blog 3an). Akan ada saatnya kami menulis di blog bersama, dan ada kalanya kami menulis di blog sendiri.

Demikian sebuah langkah baru dimulai, terima kasih banyak atas partisipasi dan apresiasi nya selama ini. Do'akan pernikahan kami dan seterusnya berjalan dengan baik, amin.

Labels:

 
posted by Dika at 6:00 PM | Permalink | 5 comments
Tuesday, December 30, 2008
Karena Aku Begitu Cantik
Saat pertama melihat cover buku ini, saya sungguh terkesan. Bersampul tebal, berwarna biru keunguan, dan ada sepotong cermin yang diletakkan dengan bersahaja di tengahnya. Saat saya melihat bayangan di cermin itu, kemudian melihat judulnya, saya tersenyum-senyum sendiri… “Luar biasa ini buku”, gumam saya. Sungguh bukan karena ‘narsis’, tapi karena kagum dengan pewajah sampul yang tampaknya ingin merefleksikan judul buku dan kisah didalamnya pada cover buku tersebut.

Azimah Rahayu adalah seorang penulis yang namanya cukup terkenal, meski mungkin tidak seterkenal Mbak Helvy Tiana Rosa, atau adiknya Asma Nadia. Tapi beberapa karyanya ada yang menjadi best seller dan sebagian besar memang senada dengan judul buku yang saya beli kali ini. Pagi Ini Aku Cantik Sekali (Syamil, 2003), Hari Ini Aku Makin Cantik (Syamil, 2005) dan Karena Aku Begitu Cantik (Sygma Publishing, 2008) adalah karyanya yang saya sebut tadi dengan senada.

Hanya satu orang yang memberi komentar atas buku ini. Kalo misalnya novel-novel bestseller internasional dikomentari oleh The New York Times, The Wall Street Journal, The Boston Globe, atau mungkin novel-novel Indonesia dulu dikomentari oleh Ahmad Tohari misalnya, maka tulisan Mbak Azi ini hanya dikomentari oleh seorang perempuan, yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia tulis menulis. Tapi dalam komentarnya yang cukup panjang, terefleksikan kecerdasan dan kecantikan tersendiri dari sang komentator, dia adalah Sandrina Malakiano Fatah. Dan di buku inilah, ia terdorong untuk menceritakan sebagian kisahnya saat mempertahankan keyakinan untuk mengenakan jilbab, hingga akhirnya ia keluar dari salah satu stasiun televisi terkemuka yang telah mengangkat namanya.

Karena Aku Begitu Cantik merupakan catatan harian seorang muslimah yang ditulis dengan apik dan sederhana. Dengan mudah siapapun akan langsung mendapatkan pesan dari setiap artikel yang ditulis Mbak Azi ini. Masing-masing tulisan dikelompokkan dalam bab yang diberi judul nama-nama bunga. Ada melati, mawar, sakura, anggrek, teratai dan anyelir. Entah apa dasar pembagian kelompok-kelompok bunga ini, tapi saya rasa, pengelompokkan ini adalah strategi sang penulis untuk mengajak kita pada sisi terdalam alasan pembuatan judul buku ini. Dan saya yakin, setiap kita pernah mengalami hal yang sama dengan apa yang diceritakan, namun tidak setiap kita memiliki kemampuan yang sama untuk menuliskannya menjadi mutiara-mutiara hikmah seperti ini. Ada yang mengungkapkannya melalui lisan dengan cara curhat, ada yang menuliskannya dalam buku diary lalu merahasiakannya, ada yang menulisnya di blog lalu mempublishnya, ada pula yang menuliskannya lalu diterbitkan dalam sebuah buku.

Saya habiskan membaca buku ini dalam beberapa hari. Dan di setiap akhir bab, saya mengambil jeda sambil termenung, lalu saya tutup buku itu. Menatap cermin dan lagi-lagi..saya tersenyum. Setiap bab yang saya selesaikan dengan santai, sambil menikmati bagian-demi bagian tulisan mbak Azi membuat saya semakin paham mengapa judul buku ini “Karena Aku Begitu Cantik”.

Artikel yang paling saya sukai adalah Sahabat, Jikalah Pada Akhirnya dan Nikmatilah Karena Ini Pun Akan Berlalu. Berperan lagaknya seorang trainer, Mbak Azi ini berkali-kali memompa motivasi kita untuk mencintai diri sendiri dan mencintai Allah yang telah membuat keadaan kita begitu sempurna, meski sempurna menurut kita belum tentu sempurna menurut-Nya. Ini secuil tulisannya dalam bentuk puisi :

Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,

Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti


Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Mengapa tidak dinikmati saja,

Sedang ratap tangis tidak akan mengubah apa-apa


Jikalah luka kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,

Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama


Jikalah benci dan marah akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Mengapa mesti diumbar sepuas rasa,

Sedang menahan diri adalah lebih berpahala


Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Mengapa mesti tenggelam di dalamnya,

Sedang tobat itu lebih utama


Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,

Sedang kedermawanan justru akan melipatgandakannya


Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Mengapa mesti membusung dada,

Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia


Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama,

Sedang memberi akan lebih banyak memiliki arti


Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Mengapa mesti dirasakan sendiri,

Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna


Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya

Mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,

Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta


Duhai, indah nian bukan? Sederhana, sarat makna. Sahabat bisa temukan arti judul ”Karena Aku Begitu Cantik” dengan mengeksplore buku ini sendiri. Nah bagaimana dengan kaum adam? Haruskah judul ini dibuat lebih general? Tidak harus seperti itu, kalau mau silakan baca saja dan coba perhatikan bayangan yang terpantul dari cermin itu, apa sahabat juga ikut tersenyum? :p

Labels: ,

 
posted by Dika at 9:21 AM | Permalink | 6 comments
Monday, December 22, 2008
Pasien Pintar dan Dokter Cerdas?
Miris, itu kesan pertama yang saya baca dari beberapa halaman buku tentang kesehatan yang berjudul Pasien Pintar & Dokter Bijak. Buku itu, tak sengaja ditemukan sahabat saya, nongki, saat kami sedang berjalan-jalan menyusuri rak-rak buku diskon di Gramedia. Pasalnya, kami rasakan suatu ketidakadilan pada pandangan seorang (atau mungkin banyak) dokter terhadap peran seorang apoteker. Bisa saja pandangan tersebut tidak subjektif, tapi suatu pandangan yang dibuat sistematis yang dijadikan sebuah dasar teori yang berlaku turun temurun di kalangan para dokter (CMIIW).

Berikut ini adalah petikan dari buku tersebut :




Perhatikan kalimat, “Sebaiknya tidak mengajukan pertanyaan kepada apoteker mengenai kegunaan obat tertentu. Seringkali apoteker memberikan penjelasan yang keliru yang justru membuat pasien menjadi panik. Hal ini termasuk pelanggaran wewenang apoteker...”
(sebenarnya ingin bilang, ”plis atuh lah, trus untuk apa kita jumpalitan belajar farmakologi dan farmakoterapi?”)

Jika anda menjadi seorang pasien, apa tanggapan anda terhadap informasi di atas? Saya cukup yakin bahwa anda tidak akan lagi berlama-lama di apotek atau IFRS, apalagi untuk berkonsultasi perihal penggunaan obat. Karena paradigma masyarakat Indonesia (dan begitu yang saya dapatkan pula di bangku kuliah), bahwa pengaruh seorang dokter terhadap pasien sangat begitu besar. Apoteker hanyalah sebagai tenaga pembuat obat yang bertugas membaca resep, meracik obat, membungkusnya dan mendapat uang. Namun alhamdulillah, paradigma itu sedikit demi sedikit berubah, dengan upaya dari berbagai pihak, seperti ISFI dan tentunya apoteker-apoteker itu sendiri.

Ada juga kalimat yang membuat kami spontan tertawa, antara penasaran dengan kebenarannya dan rasa tidak percaya.


Dulu saya sempat berpikir, tulisan dokter itu memang harus jelek agar pasien tidak bisa membaca. Ada juga kasus dimana tulisan dokter tersebut hanya bisa dibaca oleh apoteker di apotek tertentu, sehingga pasien tidak boleh tidak, harus beli obat ke apotek tersebut. Tapi pada dasarnya, tulisan dokter harus jelas agar tidak menimbulkan penafsiran yang salah. Untuk hal ini, saya sepakat dengan penulis buku di atas.

Satu lagi mengenai peran berbagai tenaga kesehatan dalam menangani pasien. Hubungan berbagai peran ini dibuat sangat apik oleh penulis dalam bentuk diagram (baik direct maupun timbal balik). Sayangnya, tenaga kesehatan disana hanya ada dokter dan perawat. Lalu dimana apoteker?

Labels: ,

 
posted by Dika at 4:31 PM | Permalink | 12 comments
Friday, December 19, 2008
Novel-Novel Saat Ini

Semua tentang 'cinta' dan semua bergambar 'wanita'. Inikah novel-novel paling banyak digemari saat ini?



Edisi Lama..................Edisi Baru


Pun, salah satu novel yang saya gemari dimana 'wanita tidak menjadi sentral cerita' kini berganti 'baju' mengikuti trend novel saat ini..Berarti sesuatu kah?

Labels:

 
posted by Dika at 8:57 AM | Permalink | 9 comments