Sosok Yang Membuatku Cemburu

Pertama kali tahu namanya ketika mentoring di SMA. Beberapa kali, oleh teteh mentor yang berbeda, namanya disebut. Namanya sederhana, seperti nama orang Sunda, ada pengulangan pada nama panjang. Yoyoh Yusroh, sederhana bukan?

Belum pernah saya bertemu dengannya, bahkan mencoba mencari tahu gambar wajahnya di internet pun tidak, sampai saya membaca buku yang satu ini “Yoyoh Yusroh, Mutiara Yang Telah Tiada”.

Membeli buku ini bukan tidak disengaja. Pada suatu pengajian, saya diingatkan lagi tentang kisah ummi, panggilan ustadzah yoyoh. Katanya ummi ini sibuk sekali. Dia adalah anggota dewan, pengurus yayasan sosial, murobbiyah, dan ibu dari 13 orang anak. Sekalipun agendanya padat, harus berda’wah dan mengunjungi banyak tempat, tapi makannya selalu terjaga. Jika ia diminta memilih masakan padang atau makanan siap saji, maka dia memilih masakan padang. Soda pun sangat dihindari. Alasannya adalah karena masakan siap saji, makanan yang mengandung msg, dan soda berbahaya bagi rahim perempuan, padahal rahim adalah tempat bersemayamnya calon manusia yang akan lahir ke dunia. Selalu saja ada cerita yang berbeda dari ustadzah yoyoh, dan semua cerita membuatku kagum. Karena itu, saat pergi ke toko buku, buku ini menjadi salah satu yang terpilih.

Lahir dari ibu seorang mubaligh dan bapak seorang guru ngaji membuat ummi tumbuh berkembang sebagai orang yang sangat perhatian dengan ilmu agama. Menemani bapak dan ibu berceramah, menjaga wirid harian, mengkhatamkan qur’an di bulan Ramadhan sudah menjadi keseharian ummi sejak kecil. Amalan tersebut tidak lantas meluntur saat ummi remaja, justru semakin meningkat. Mungkin bekalan itu pula yang membuat ummi menjadi pionir gerakan demonstrasi pada masa pemerintahan Orba. Ummi bersama ratusan pelajar saat itu mendemo Mendiknas agar menarik larangan berjilbab bagi muslimah di sekolah-sekolah umum.

Dari sekian banyak kisah yang disuguhkan, cerita yang paling berhasil membuatku cemburu antara lain :

Selama tiga periode tinggal di kompleks DPR, pohon-pohon yang ada di rumahnya tumbuh subur. Pohon jamblang berbuah lebat, pohon melati berbunga setiap hari, dan tanaman gelombang cinta banyak daunnya. Kebiasaannya adalah sering memberi salam dan mengajak bicara tumbuh-tumbuhan itu setiap paginya. (Ma, tanaman di depan rumah jarang sekali dika sapa..mereka rindu mama)

Ummi menjadikan ASI sebagai sarana untuk memperbanyak saudara. Berapa kali beliau menyusui anak muslimah yang lain. Tujuannya untuk menambah persaudaraan dengan mereka. Dari situ muncul ikatan nasab. Bahkan di Qatar pun, Ummi memiliki anak sepersusuan dan hal itu telah disampaikan kepada anak-anaknya ketika mereka telah cukup dewasa. (Tidak hanya menyempurnakan masa penyusuan putra dan putrinya, tapi ummi juga menyusui bayi-bayi lain. Sungguh suatu amal yang tidak pernah sedikit pun terlintas dalam benak saya. Subhanallah).

Suatu saat ummi dan Abi (suami Ustadzah Yoyoh) menengok seorang akhwat yang baru beberapa hari melahirkan. Akhwat tsb sedang menempuh studi master dan tinggal menunggu siding. Sang akhwat berkeinginan anaknya lahir setelah sidang. Namun Allah berkehendak lain, sang bayi lahir ketika akhwat ini menanti siding. Saat menengok , Ummi merasa sang akhwat panik. Ummi lalu meminta izin kepada Abi untuk ke kamar mandi sebentar. Sang suami menanti di ruang tamu. Satu jam belum juga keluar dari kamar mandi. Sang suami tetap sabar, tetapi rasa heran tetap muncul dalam dirinya. Dalam perjalanan pulang Ummi baru cerita bahwa Ummi melihat tumpukan popok yang belum dicuci. Ummi lalu mencuci semua popok itu. (Lihatlah, satu amalan lagi.. amalan yang luar biasa bukan?)

Ummi merintis sebuah yayasan. Namanya Yayasan Ibu Harapan. Salah satu produknya adalah pesantren Ummu habibah. Pesantren ini merupakan pesantren bagi para penghapal Qur’an (Hafizh). Mungkin terkesan biasa saja, karena toh sudah banyak pesantren semacam ini di beberapa kota. Tapi yang membuatnya berbeda adalah lokasi pendirian pesantren ini. Markazul Qur’an ini terletak di komplek perumahan Ibu Aminah, Ibunda Ummi. Ummi ingin di hari tuanya, Ibunda dikelilingi oleh para Hafizh Qur’an. Pendirian pesantren ini merupakan warisan dari ummi sekaligus hadiah ummi untuk ibunda tercinta. (Maafkan dk Ma, jangankan menghadiahkan seribu hafizh untuk menemanimu, hapalan Qur’an yang dulu terangkai dengan cita-cita agar kelak engkau peroleh mahkota cahaya pun belum dk tuntaskan..)

Hari itu, Rabu 18 Mei 2011, Ummi dan keluarga yang sedang dalam perjalanan pulang dari Yogya mengalami kecelakaan. Singkat cerita para korban dilarikan ke rumah sakit terdekat. Saat itulah takdir Allah menjemput, Ummi wafat pada pukul 03.30 di Rumah Sakit Mitra Plumbon, Cirebon.

Pukul 10.00 jenazah Ummi tiba di Komplek Rumah Jabatan Anggota DPR. Ratusan orang telah menunggu kedatangannya. Mereka menanti dalam haru, isak tangis dan gema takbir. Sungguh bukan hanya mereka yang merasa kehilangan, beberapa perwakilan dari Negara tetangga, Negara-negara Asean, mujahidin dan mujahidah Palestina pun turut menyampaikan takziyah atas kepergian Ummi. (Lingkaran kebaikannya terlalu luas.. hingga menembus sekat benua.. ah, bahkan tetangga 1 RW pun aku belum kenal)

Sekali lagi, puncak dari segala kisahnya yang membuatku semakin kagum dan semakin cemburu. Bukan, bukan kata-kata hikmah atau amalan sholeh, bukan pula untaian syair atau pidatonya yang berbobot, tapi puncak dari pencapaian cita-cita seorang muslim di dunia, khusnul khotimah. Ya, seulas senyum manis menghiasi wajah pucat jenazah ummi. Senyum yang menandakan perjuangannya sepanjang hayat telah berjumpa pahala yakni keridhaan Rabb yang ia selalu tinggikan kalimatnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jahe dan Khasiat Anti Bakteri

Jahe adalah rempah-rempah yang banyak digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Tanaman ini selain digunakan sebagai bumbu dapur juga berkhasiat sebagai obat. Ciri khas jahe terdapat pada aroma dan rasanya yang tajam. Aroma pada jahe disebabkan oleh adanya minyak atsiri terutama golongan seskuiterpenoid sebanyak lebih dari 3 %. Sedangkan rasa yang pedas disebabkan oleh adanya senyawa gingerol dan shogaol. Di Indonesia, jahe diracik menjadi suatu minuman penghangat badan yang dikenal dengan nama wedang jahe. Minuman ini sangat bermanfaat untuk mengusir dingin terutama bagi mereka yang tinggal di daerah pegunungan.

Zingiberis officinale, nama latin tanaman jahe merupakan tanaman yang tumbuh tegak dan merumpun dengan tinggi mencapai 30 cm – 1m. Jahe biasanya ditanam pada dataran rendah sampai dataran tinggi (daerah subtropis dan tropis) pada ketinggian 1500 m diatas permukaan laut. Menurut Farmakope Belanda, Zingiber rhizoma (rimpang jahe) yang berupa umbi Zingiber officinale mengandung 6% bahan obat-obatan yang sering dipakai sebagi rumusan obat-obatan atau sebagai obat resmi di 23 negara. Menurut daftar prioritas WHO, jahe merupakan tanaman obat-obatan yang paling banyak dipakai di dunia.

Terdapat tiga jenis jahe yang popular di pasaran yaitu jahe gajah, jahe kuning dan jahe merah. Jahe gajah merupakan jahe yang paling disukai di pasaran internasional. Bentuknya besar gemuk dan rasanya tidak terlalu pedas. Daging rimpang berwarna kuning hingga putih. Jahe kuning merupakan jahe yang banyak dipakai sebagai bumbu masakan, terutama untuk konsumsi lokal. Rasa dan aromanya cukup tajam. Ukuran rimpang sedang dan berwarna kuning. Jahe merah merupakan jahe yang sering digunakan sebagai bahan dasar jamu karena kandungan minyak atsirinya tinggi dan rasanya paling pedas. Ukuran rimpangnya kecil berwarna merah, dengan serat lebih besar dibanding jahe biasa.

Secara empiris, jahe diketahui berkhasiat merangsang kelenjar pencernaan sehingga baik untuk membangkitkan nafsu makan. Minyak jahe yang berisi gingerol, berkhasiat mencegah dan mengobati mual dan muntah. Jahe segar yang ditumbuk halus juga dapat digunakan sebagai obat luar untuk mengatasi mulas. Beberapa khasiat jahe juga telah dibuktikan secara ilmiah melalui penelitian di laboratorium. Gingerol pada jahe bersifat antikoagulan, yaitu mencegah penggumpalan darah. Jadi mencegah tersumbatnya pembuluh darah, penyebab utama stroke dan serangan jantung. Jahe dapat mencegah mual melalui proses blokade serotonin, yaitu senyawa kimia yang dapat menyebabkan perut berkontraksi, sehingga timbul rasa mual.

Tidak hanya itu, jahe ternyata berkhasiat sebagai antibakteri. Bakteri Escherichia coli dan Bacillus subtilis yang bersifat patogen terhadap saluran pencernaan manusia dapat dihambat pertumbuhan koloninya dengan ekstrak jahe. Namun ekstrak jahe lebih aktif menghambat pertumbuhan koloni bakteri B.subtilis dibandingkan dengan bakteri E.coli (Nursal, 2006). Bakteri E.coli dapat menyebabkan gastroentritis pada manusia, sedangkan B.subtilis dapat menyebabkan kerusakan pada makanan kaleng yang juga dapat menyebabkan gastroentritis pada manusia yang mengkonsumsinya.

Jenis bakteri patogen lain yang dapat dihambat pertumbuhannya adalah bakteri penyebab tuberkulosis, bakteri periodontal yang menyebabkan periodontitis, dan bakteri yang menyerang saluran pernafasan. Ekstrak etanol rimpang jahe merah menunjukkan aktivitas antituberkulosis terhadap M.tuberkulosis galur H37Rv, Labkes-232, dan Labkes-450 masing-masing pada minggu ke-2,2 dan 3 (Neng, 2006). Melalui metode tertentu pada uji penapisan antibakteri, kita dapat mengetahui pada minggu keberapa aktivitas penghambatan pertumbuhan koloni bakteri terjadi. Ekstrak rimpang jahe dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dan Gram negatif seperti bakteri yang menyerang saluran pernafasan, diantaranya Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes, Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae (Akoachere et.al, 2002). [10]-gingerol dan [12]-gingerol, yaitu senyawa yang berhasil diisolasi dari rimpang jahe menunjukkan aktivitas antibakteri yang kuat secara in vitro melawan bakteri anaerob yang menyebabkan periodontitis pada rongga mulut manusia (Park, 2008).

Dari satu tanaman jahe, Yang Maha Kuasa menyediakan beragam manfaat untuk kesehatan manusia. Kini tinggal bagaimana usaha manusia memanfaatkannya dan tugas peneliti untuk terus mengeksplorasi manfaat dan pengembangannya guna mencapai hasil yang optimal.

Sumber :
Fisheri, Neng, 2006, Uji Aktivitas Ekstrak Etanol dan Fraksi Rimpang Jahe Merah (Zingiber officinale Rosc. Var. Sunti. Val.) Terhadap Mycobacterium tubeculosis Galur H37Rv, Galur Labkes-232, Galur Labkes-450, Beberapa Bakteri Lain, dan Jamur, Sekolah Farmasi ITB.

Park, Miri, 2008, Antibacterial Activity of [10]-Gingerol and [12]-Gingerol isolated from Ginger Rhizome Against Periodontal Bacteria, Phytother. Res. 22, 1446–1449.

Akoachere, 2002, Antibacterial Effect of Zingiber officinale and Garcinia kola on Respiratory Tract pathogens, East African Medical Journal, 79(11):588-92.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bijak Mengkonsumsi Obat Anti Nyeri

Pemahaman bahwa obat akan selalu bermanfaat baik bagi manusia kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun adalah salah. Kenyataan menunjukkan bahwa obat memiliki dua sisi berlawanan. Di satu sisi ia dapat memberi manfaat dan di sisi yang lain dapat membahayakan bagi penggunanya. Obat hanya akan memberi manfaat apabila digunakan secara tepat. Pada dosis yang dianjurkan, obat memiliki dua jenis efek yaitu efek yang diinginkan atau efek terapi dan efek yang tidak diinginkan yaitu efek samping. Semakin tinggi dosis, efek samping akan lebih terasa namun tidak semua pengguna obat merasakan efek tersebut. Hal ini bergantung pada kepekaan pengguna.

Obat anti nyeri merupakan obat yang ditujukan untuk mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri, misalnya pada sakit kepala, sakit kepala pada migren, sakit gigi, nyeri otot, nyeri haid (dismenorea primer). Beberapa obat anti nyeri atau analgesik memiliki khasiat sebagai penurun demam (antipiretik) dan mengurangi proses peradangan (anti inflamasi). Obat ini digolongkan sebagai obat anti inflamasi non steroid (OAINS). Obat anti nyeri yang beredar sebagai obat bebas adalah untuk sakit yang bersifat ringan, sedangkan untuk sakit yang berat (misalnya sakit karena batu empedu, kanker) perlu menggunakan jenis obat keras yang membutuhkan pemeriksaan dokter.

OAINS selain memiliki efek terapi seperti yang telah disebutkan diatas juga memiliki efek samping pada berbagai organ, diantaranya adalah saluran cerna, ginjal, kulit dan hati. Tak ada satupun OAINS yang sama sekali aman, bahkan aspirin yang merupakan obat yang paling sering digunakan dan cukup efektif, mempunyai efek samping yang lebih sering dan lebih berbahaya jika diberikan dalam dosis yang berlebihan.

Mekanisme kerja utama OAINS adalah menghambat aktivitas enzim siklooksigenase dalam sintesis prostaglandin. Hambatan sintesis prostaglandin merupakan salah satu faktor yang berperan dalam mengurangi reaksi peradangan. Padahal berdasarkan penelitian, prostaglandin mempunyai peranan penting untuk mempertahankan mukosa saluran cerna terhadap pengaruh sekitarnya. Banyak zat iritan yang didapatkan pada mukosa saluran cerna yang merusak epitel bila sekresi prostaglandin terganggu. Hal ini yang menjadi dasar mengapa efek samping dari penggunaan OAINS yang menghambat siklooksigenase 1 atau COX-1 seperti aspirin, indometasin, natrium diklofenak, piroksikam, asam mefenamat adalah tukak lambung.

Berdasarkan studi epidemiologi, resiko relatif terjadinya tukak lambung akibat penggunaan OAINS termasuk rendah. Meskipun demikian, seringnya obat ini dikonsumsi dapat menyebabkan komplikasi tukak lambung. Komplikasi timbul akibat perbedaan respon individu terhadap OAINS. Jadi jika seorang penderita mengalami ulserasi (luka pada lambung) setelah penggunaan OAINS tertentu, tidak selalu berarti ulserasi akan kambuh jika ia menelan OAINS lain. Penggunaan OAINS harus benar-benar tepat, oleh karena itu jika anda benar-benar memerlukan OAINS konsultasikan pada dokter atau apoteker. Dokter dan apoteker berperan penting dalam mengoptimalkan pemilihan OAINS dan menjamin penggunaannya secara rasional dan tepat.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan OAINS adalah:
1. Konsultasikan dengan dokter atau apoteker mengenai riwayat penyakit sehingga pemilihan OAINS yang tepat akan lebih optimal. Selain itu, ceritakan juga riwayat obat yang telah digunakan selama ini. OAINS yang sudah pernah digunakan dan dapat ditoleransi dengan baik merupakan pilihan yang utama. Tetapi jika belum pernah menggunakan OAINS, dokter atau apoteker akan merekomendasikan suatu OAINS berdasarkan faktor-faktor seperti indikasi, profil efek samping, kebutuhan jadwal pemberian dan biaya.
2. OAINS diminum setelah makan untuk mengurangi efek samping terhadap lambung
3. Apabila terjadi gejala-gejala komplikasi saluran cerna seperti kembung, mual, nyeri lambung, feses berwarna kehitaman atau muntah berwarna seperti kopi maka segera sampaikan pada dokter
4. Jika anda mengkonsumsi obat lain seperti warfarin, siklosporin, antihipertensi golongan penghambat ACE seperti kaptopril, enalapril, lisinopril serta fenitoin maka sampaikan pada dokter. Obat-obat tersebut dapat berinteraksi negatif dengan OAINS.

Jika anda benar-benar membutuhkan OAINS dan memiliki riwayat tukak lambung maka solusi diantaranya adalah mengkonsumsi OAINS salut enterik, misalnya enteric-coated aspirin karena salutan mencegah tablet larut di lambung dan obat diserap cukup banyak di dalam usus kecil. Selain itu penggunaan mesoprostol, suatu derivate dari prostaglandin E1, bisa mengurangi tukak yang disebabkan oleh OAINS dan efektif dalam segi biaya bilamana OAINS diperlukan pada pasien-pasien yang beresiko tinggi mengalami pendarahan saluran cerna, misalnya wanita-wanita tua dan pasien-pasien yang mempunyai riwayat tukak lambung. Penghambat pompa proton, misalnya omeprazol, juga efektif dalam mengurangi toksisitas saluran cerna yang dipicu oleh OAINS.

Sekarang telah berkembang OAINS yang lebih selektif menghambat siklooksigenase-2 atau COX-2. Untuk mengurangi efek samping terhadap lambung dan ginjal, OAINS selektif COX-2 merupakan pilihan utama, karena COX-2 tidak terdapat pada mukosa lambung atau sel ginjal tetapi lebih banyak terdapat di otak. Obat-obat golongan ini yang telah dikembangkan dan banyak digunakan adalah meloxicam, nimesulide, celecoxib dan rofecoxib.

Tidak ada OAINS yang ideal. Penting untuk membiasakan diri dengan beberapa jenis obat ini dan menentukan OAINS yang paling sesuai untuk anda, tentunya dengan tetap berkonsultasi dengan dokter atau apoteker anda. Mengkonsumsi obat anti nyeri dengan bijak pada akhirnya akan menghindarkan anda dari resiko efek samping yang merugikan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

The Hidden Face Of Iran

Buku yang “recommended” ini, kata 3an, memang memikat luar biasa. Novel ini merupakan catatan perjalanan keluarga Irlandia berkewarganegaraan Amerika Serikat untuk mencari pembantu rumah tangganya sewaktu mereka tinggal 10 tahun di Teheran. Terence Ward dengan sangat apik menggambarkan perjalanannya yang penuh petualangan bersama kedua orang tuanya, Donna dan Patrick, serta ketiga saudara laki-lakinya, Kevin, Chris dan Richard. Dibesarkan di Iran, pada tahun 1960an, Terrence Ward dan seluruh anggota keluarganya tidak mampu melupakan ikatan erat yang menyatukan mereka dengan Hassan, sang koki keluarga, pengurus rumah tangga dan pemandu budaya mereka.

Setelah meninggalkan Iran selama 30 tahun, Ward kembali ke negara itu bersama seluruh anggota keluarganya untuk melakukan pencarian terhadap Hassan. Masa lalu yang indah yang mereka habiskan selama 10 tahun di negara Khomeini itu benar-benar menyentuh. Kasih sayang yang terjalin antara keluarga “barat”, yang notabene dianggap sebagai sosok jahat dibelakang Shah Pahlavi, digambarkan dengan sempurna. Bagaimana tidak, setelah berselang 30 tahun mereka bertekad mencari Hassan dan keluarganya di suatu desa tak terkenal di negara Iran yang berada dalam instabilitas politik pasca revolusi dan perang. Sinting, begitulah kesan pemandu sewaan mereka, Avo, selama perjalanan panjang itu.


Novel dengan tebal 579 halaman terbitan Rajut Publishing ini dilengkapi dengan foto keluarga Ward, masa kecil mereka bersama Hassan sekeluarga, perjalanan menembus jantung Iran, persepolis yang unik itu, dll. Tapi sayang, hitam putih.


Untuk mencapai Tudeskh, mereka harus melintasi kota Shiraz, Sivand, Yazd, Gurun Dasht-e Lut dan pegunungan Zagros. Masing-masing tempat memiliki cerita tersendiri yang membuat mereka tidak akan pernah melupakan Iran. Seperti di Shiraz, mereka mengenal Hafez, sang pujangga persia yang syairnya melekat di hati setiap penduduk Iran selama enam abad terakhir. Bangsa Iran memuja para pujangga mereka habis-habisan. Rumi, Hafezh dan Attar ketiganya berakar dari tradisi sufi yang menurutnya dapat disejajarkan dengan Dante, Shakespeare dan Yeats. Kemudian di Yazd, mereka mempelajari kebencian bangsa Iran terhadap Arab dari asisten pemandu mereka, Akbar. Kemunculan istilah Syiah dan Sunni yang hingga kini masih menjadi konflik yang selalu berkobar menjadi jurang pemisah yang tidak bisa dijembatani. Tak hanya itu, di Yazd mereka mendapat kesempatan menonton taziyeh, drama yang melukiskan penderitaan Husein, cucu Baginda Rasul dan putra Ali, yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan muharram. Pada tahun 680 bulan muharram, Husein bersama para pengikutnya menjadi korban pembantaian di Karbala. Beberapa orang wanita dan anak-anak yang bertahan hidup diseret ke Damaskus bersama kepala Husein untuk ditunjukkan kepada sang khalifah Yazid. Karena itu, jangan heran jika anda berkunjung ke Iran di 10 hari bulan muharram, anda akan lihat pemandangan muram di sepanjang jalan dan di setiap rumah. Dengan informasi yang kaya tentang budaya, sejarah, revolusi (yang dikomandoi Ayatulloh Khomeini) dan sastra, Ward menggambarkan perjalanannya dengan baik.

Hanya berbekal foto keluarga Ghasemi (Hasan, Fatimeh istrinya, Ali putranya dan Khorsid Ibunya) dan sedikit informasi tentang ciri khas desa tudeskh, keluarga Irlandia ini mencari sang koki. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, mereka akhirnya menemukan gerbang itu, Tudeskh!. Tapi mereka mendapat informasi bahwa Hassan dan Fatimeh sudah meninggal. Putus asa mulai menggelayuti perasaan mereka, kecuali donna, sang Ibu. Dengan kakinya yang pincang, ia berjalan menapaki jalan kecil desa tudeskh untuk bertanya tentang keberadaan Hassan. Ia tunjukkan foto itu pada setiap orang yang ia tanya. Hingga akhirnya seorang pria bertubuh besar mempertemukan mereka dengan Khorsid, ibunda Hassan. Setelah 30 tahun, mereka kembali menatap wajah khorsid, kini dengan atmosfer histeria. Dengan segera, Ward bersaudara melakukan perjalanan ke Isfahan untuk bertemu dengan Hassan yang telah pindah. Pertemuan yang mengharu biru itu dapat membuat anda tersenyum dan merasa gemuruh tersendiri. Sungguh indah dan langka..

Yang paling menyenangkan dari bagian buku ini adalah perjalanannya yang membuat iri, dan hari-hari keluarga Ward bersama Hassan. Di Iran, terkenal tradisi Taarof (taaruf), yaitu perjamuan istimewa yang dilakukan tuan rumah terhadap tamu-tamu mereka. Prinsip taarof “yang berlebihan” (menurut saya), adalah tuan rumah tidak boleh makan bersama tamu, tamu tidak boleh menolak setiap makanan yang disajikan tuan rumah meski sudah kenyang. Istilahnya “makan atau mati”..hehe. Bahkan Ward menambahkan “New Food For Life-Ancient Persian and Modern Iranian Cooking and Ceremonies” dalam daftar bibliografi yang disarankan. Coba baca, dan anda tiba-tiba akan merasakan lezatnya masakan-masakan itu dengan bumbu persianya yang kental.
Bersama Hassan, mereka kembali menapaki masa lalu yang indah sambil berjalan-jalan di kota Isfahan yang cantik. Hassan adalah Baba mereka yang selalu membacakan puisi, merawat bunga-bunga di taman dan pendongeng yang tiada duanya. Setelah 30 tahun, Ward, Chris dan Kevin meminta Hassan untuk mendongeng kembali. Dengan gayanya yang sama, ia mulai membacakan puisi Hafez, Sa’adi dan berdongeng kisah Nasrudin Hoja sang jenaka-bijak. Entahlah, mungkin di Indonesia, atau mungkin kita sendiri sangat jarang mendengarkan dongeng atau puisi dari orang tua. Padahal “inspiring word” tersebut yang memberi kekuatan pada Ward bersaudara untuk menghadang rintangan guna menemui Baba tercinta mereka. Bukankan kekuatan itu terletak pada kelembutan..?


Ikatan diantara Hassan yang beragama Islam dan keluarga Ward yang beragam katolik merupakan ikatan kemanusiaan yang tidak dapat diputus oleh simbol. Kejahatan politik, kecurangan dan nafsu kekuasaan para pemimpinlah yang memisahkan jarak mereka, tapi tidak hati mereka. Bukankan Islam adalah rahmat bagi semesta alam? Dengan penuh kejujuran, ward menampakkan simpatik yang sangat dalam pada Hassan, yang selalu terbangun setiap jam 3 malam untuk berdoa, selalu memenuhi panggilan azan dan masuk ke mesjid (setelah meminta ward kecil bersaudara menunggu di luar) sambil menyerukan Allohuakbar, Allohuakbar, Alloh Maha Besar. Peperangan yang panjang dengan Irak telah membuat guratan-guratan tua di wajah Hassan, sehingga ketampanan persianya memudar. Selama perang, Hassan bekerja sebagai kepala koki dapur umum yang bekerja 20 jam dalam sehari, berhadapan dengan gumpalan asap dan panas tungku masak. Dengan kondisi sekejam itu, tanpa jaminan pulang tuk dapat bertemu istri dan putra-putrinya, ia tetap menyisakan kearifan Iranian, melankolik seorang muslim.

Tiba saatnya bagi mereka untuk berpisah. Ward sekeluarga melanjutkan perjalanan ke Teheran, ke rumah masa lalu mereka. Yang mengesankan dari cerita itu adalah pengalaman mereka ke pasar mewah yang ada di Teheran. Di tengah hiruk pikuk pasar, mereka mendapati poster dalam bahasa Inggris yang berbunyi ”Mereka yang beriman tidak akan dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Alloh” (Q. 24/37). Adakah nasehat ini terpampang di pasar tempat ibunda kita belanja, atau Kota kembang dan gerbang marema nya Bandung yang ribut dengan tawar menawar dan sesakan para rojali (rombongan jarang meuli)? Ah.. :P


Catatan perjalanan lintas budaya ini ditutup dengan kisah 30 burung Attar menemukan Phoenix atau simorgh dalam bahasa persia dan kenyataan terakhir keluarga Ward, yaitu kematian Donna yang kemudian diikuti Patrick saat akan melakukan perjalanan kembali ke Iran. Ward telah membuat penduduk Iran menyambut hangat pesan kemanusiaan dalam bukunya, bahkan di kota-kota Eropa dan Amerika ia mendapat keramahan khas persia. Yang terpenting adalah bukunya telah membuat para pembaca mendapat keberanian untuk mengunjungi negara mereka yang telah lama hilang. Sungguh bermanfaat, itulah kekuatan tulisan.

Perjalanan yang mencerahkan telah lama menjadi pintu gerbang penemuan terhadap diri sendiri dan makna kehidupan. Bagi kami, perjalanan ini adalah petualangan besar terakhir keluarga kami, yang telah berhasil sepenuhnya mengubah diri kami. Seperti burung-burung Attar, jalan kami untuk menemukan keluarga Ghasemi membawa kami berhadapan dengan cinta..lebih jauh dari dunia politik dan sangkaan tak berdasar. Jauh lebih dalam daripada bumi dan lebih tinggi daripada langit. Jauh melewati kematian dan kelahiran kembali. Jauh dari setiap kebalikannya. Ketika pertama kali turun dari pesawat di Shiraz dan menginjakkan kaki di dataran tinggi Fars, kami tidak tahu bahwa berabad-abad sebelumnya, seorang pujangga abadi, Rumi, telah memetakan tujuan akhir kami :

Jauh melebihi Apa yang benar Dan apa yang salah Tersebutlah sebentang tanah Aku akan menemuimu disana -Jalaludin Rumi-

-30 Juni 2007-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bila Perempuan Tidak Ada Dokter

Di dunia ini, ada jutaan perempuan yang hidup di kota-kota dan desa-desa ‘yang tidak ada dokter’ atau kalaupun ada, layanan kesehatan di daerah itu umumnya tidak terjangkau. Oleh karena itu banyak di antara mereka yang menderita, bahkan banyak pula yang meninggal, hanya karena tidak terjangkaunya layanan perawatan dan pengobatan, serta tidak tersedianya informasi yang memadai tentang seluk beluk kesehatan perempuan. Untuk merekalah buku ini ditulis. Bagaimanakah faktanya di Indonesia ?


Lalu mengapa PEREMPUAN? Jawaban dari pertanyaan ini langsung anda dapatkan di Bab I, karena “kesehatan perempuan adalah persoalan masyarakat”. Bila seorang perempuan sehat, ia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan pekerjaannya sehari-hari, memenuhi banyak peran yang dimilikinya dalam keluarga dan masyarakat serta membangun hubungan yang memuaskan dengan orang lain. Setiap perempuan mempunyai hak atas perawatan kesehatan yang utuh sepanjang hidupnya, tidak hanya sebatas perannya sebagai istri dan ibu. Selain itu, kesehatan seorang perempuan bukan saja dipengaruhi oleh keunikan ragawi semata, melainkan juga dipengaruhi oleh seluruh kondisi sosial, kebudayaan dan ekonomi dimana dia berada. Intinya, jika kesehatan perempuan membaik, semua orang yakni perempuan itu sendiri, keluarganya, serta masyarakatnya akan menikmati manfaatnya.

Seorang perempuan yang sehat memiliki peluang untuk mengangkat segenap potensinya. Suami dan anak-anaknya akan terpelihara dengan baik, ups,, maksudnya akan sehat, bahkan ia akan memberikan sumbangan besar bagi masyarakat di sekitarnya, baik itu kegiatan sosial, politik, budaya, pendidikan dan lain-lain. Oleh karena itu, wajar jika problem kesehatan perempuan dianggap sebagai masalah yang hampir selalu menyangkut orang lain. Kesehatan perempuan bukan hanya urusan perempuan yang bersangkutan, melainkan menjadi problema masyarakat seutuhnya.

Paradigma dimana perempuan ‘tidak setara’ dengan laki-laki ternyata tidak hanya menyangkut masalah peran, tapi juga kesehatan. Menurut penulisnya, ketidaksetaraan ini mengakibatkan kondisi seperti di bawah ini :
1. Lebih banyak perempuan didera kemiskinan ketimbang lelaki
2. Lebih banyak perempuan yang kekurangan pendidikan serta keterampilan untuk menunjang penghidupan mereka sendiri ketimbang laki-laki
3. Lebih banyak perempuan yang kekurangan akses ke informasi dan layanan kesehatan yang penting dibanding laki-laki
4. Lebih banyak perempuan kurang memegang kendali atas pengambilan keputusan-keputusan mengenai kesehatan dasar mereka sendiri ketimbang laki-laki

Benarkah? Seorang perempuan India bernama Chetna, memaparkan kisahnya dalam buku ini. Sebagian besar wilayah pedesaan di India, perempuan minum susu lebih sedikit ketimbang suami dan anak lelaki mereka, lagipula mereka baru makan bila semua lelaki dalam keluarganya telah dilayani. Biasanya ini mengakibatkan terbatasnya makanan yang diperoleh perempuan dan pola ini menunjukkan dengan gamblang seberapa rendah nilai perempuan itu di mata lingkungannya. Pengorbanan yang lambat laun akan ‘membunuh’ semua anggota keluarganya bukan? Jadi teringat tentang puisi perempuan, ah sakit sekali mendengarnya, rasanya tidak adil.

Buku ini sangat cocok baik untuk pekerja kesehatan maupun masyarakat umum yang ingin membantu mengatasi masalah kesehatan perempuan. Di dalamnya terdapat ragam informasi tentang upaya preventif, kuratif dan rehabilitatif kesehatan perempuan yang dilengkapi dengan ilustrasi (gambar dan kisah) –-meski sedikit ‘maksa’. Jika dibandingkan dengan buku “Dokter di Rumah Anda”, memang buku ini kurang lengkap dan kurang informatif. Tapi keunggulannya adalah filosofis ‘kekuatan=kesehatan perempuan’ yang menjadi kebaikan bagi semua orang, yang menjadi dasar dari pembuatan buku ini.

Hal yang menarik lagi selain dari perawatan pada perempuan hamil, menyusui, perempuan usia senja, perempuan penyandang cacat, kesehatan seksual perempuan, keluarga berencana, kekerasan terhadap perempuan, obat-obatan dan masih banyak lagi (biar penasaran..:p ), ada satu bahasan yang selalu ada di setiap bab dalam buku ini yakni “Berkarya demi perubahan”.

Keadaan perempuan di sebagian pedesaan di India (atau mungkin juga terjadi di negeri antah berantah ini dan belahan dunia lainnya) tidak harus terjadi jika kita mampu 1)mengawali perubahan dalam keluarga, 2)Mengupayakan perubahan dalam masyarakat.

“Membesarkan anak-anak bagi dunia yang lebih baik”, adalah salah satu dari gagasan perubahan dalam keluarga. Bagaimana peran ibu di dalamnya ?
1. Ajarkan kepada anak laki-laki agar bersikap baik dan penuh kasih sayang, sehingga kelak mereka akan menjadi suami, ayah dan saudara yang baik
2. Ajari anak perempuan agar menghargai diri mereka sendiri, sehingga mereka akan mendapatkan rasa hormat pula dari orang lain
3. Ajari anak lelaki agar berbagi pekerjaan rumah tangga, umpamanya mencuci piring, menyapu bahkan memasak, serta tanamkan rasa bangga dalam hati mereka bila mereka mereka mengerjakan tugas-tugas itu bersama dengan kakak atau adik perempuan mereka, sehingga kelak istri dan anak perempuan mereka tidak tertimpa beban kerja yang terlalu berat dan membahayakan kesehatan
4. Ajari anak perempuan agar mandiri, dengan cara memberikan kesempatan pada mereka untuk menamatkan pendidikan atau mempelajari keterampilan-keterampilan yang berguna untuk mencari nafkah sendiri..(hmm,,)
5. Ajari anak laki-laki untuk menghormati semua perempuan, dan agar mereka menjadi pasangan yang bertanggung jawab….
Lalu bagaimana mengupayakan perubahan dalam masyarakat? Diantaranya adalah:
1. Berbagi informasi
Bagi perempuan memang tidak berat, apalagi yang sudah terbiasa bergosip..ups :p. Tapi terkadang perempuan sulit atau malu untuk mengungkapkan masalah kesehatan pribadinya
2. Membentuk kelompok2 bantuan
3. Berupaya lebih mandiri
Misalnya dengan proyek-proyek yang membantu perempuan untuk memperoleh uang sendiri.
4. Mengembangkan proyek-proyek swadaya masyarakat
Contohnya adalah gerakan sabuk hijau di Kenya yang melibatkan banyak perempuan. Pencetusnya yang juga seorang perempuan mendapatkan nobel perdamaian.

Nah, bagaimana kesehatan dan kekuatan anda sekarang, wahai kaum hawa? Siapkah menjadi guru bagi dunia, karena ketahanan suatu negara bergantung pada kekuatanmu, begitu sabda Rasulullah terkasih. Dan engkau wahai kaum adam, masihkah engkau memberikan susu yang bersisa untuk istrimu? Atau mengapa tak kau bantu juga ibu, kakak dan adik perempuanmu memasak di dapur sesekali saja? :) Selamat sehat..!!

-22 Agustus 2007-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Masyitoh

Membaca buku ini benar-benar membuat saya tidak bisa berhenti. Selain bahasanya yang agak puitis-melayu, juga hikmah dan kejadian sejarah yang mewarnainya. Tidak hanya pada inti ceritanya, tapi juga teror dibalik pembuatannya. Berdasarkan keterangan Taufik Ismail di buku Tirani dan Benteng, Ajip Rosidi, budayawan dan seniman angkatan 60an yang membuat buku Masyitoh ini menjadi bulan-bulanan maki-makian Lentera. Lentera merupakan ruang kebudayaan pimpinan Pramudia Ananta Toer yang selalu berkelit tidak mau dikaitkan organisatoris dengan Lekra/PKI. “Jadi apa sih sebenarnya isi buku Masyitoh itu? Mengapa ditentang oleh PKI?”. Alhamdulillah dapet juga bukunya dari pameran di PVJ, setelah tidak berhasil merasakan kegembiraan di bincang-bincang with Andrea Hirata.:’(

Well, ternyata buku itu bercerita tentang Masyitoh, atau Siti Masyitoh, tukang sisir putri Fir’aun. Mungkin teman-teman sudah pernah mendengar KISAHnya bukan? Yap betul, dialah Masyitoh, budak Fir’aun yang terkenal dengan pengorbanan agungnya. Drama Masyitoh ini hanya diperankan oleh 17 tokoh dengan latar yang sangat minim, tapi tidak mengurangi makna yang ingin dimunculkan secara langsung oleh penulis. Masyitoh menjadi lambang tauhid serta iman. Dalam mendirikan hak Alloh, ia bersedia mengorbankan dirinya sendiri. Namun, tafsiran umum yang selama ini berkembang terhadap kerelaan masyitoh berkorban ini umumnya terbatas pada kerelaan pengorbanan perseorangan yang bersifat agamawi dalam arti yang sempit. Padahal pengorbanan Masyitoh ini adalah suatu pengorbanan tanpa tawar-menawar lagi terhadap martabat manusia. Sungguh, nilai-nilai ini yang kita rasakan sudah semakin hilang, padahal masyarakat membutuhkan figur yang sanggup membuktikan pengorbanan logis bahwa Alloh lebih ia cintai daripada dirinya sendiri.

Alkisah, di suatu rumah di bumi Mesir, seorang wanita bernama Masyitoh yang sedang meninabobokan putri kecilnya diselimuti kegalauan. Ia lantas menceritakan kisahnya pada suami dan seorang pendeta bani israil. Jadi, ketika ia menyisir rambut putri Taia, putri kesayangan Firaun, sisir yang ia pegang terjatuh ke bumi. Tanpa sengaja Masyitoh berucap “Demi Alloh, celakalah Firaun”. Putri Taia kaget bukan kepalang mendengarnya dan dengan berapi-api ia memburu Masyitoh dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan keimanan. “Bukankah Firaun, ayahanda, adalah Tuhanmu? Ia Tuhan sekalian alam”, ucap Taia. Masyitoh menjawab dengan berani "Bukan, Allah lah Tuhan sekalian alam, Dia adalah Tuhanku dan juga Tuhan ayahanda tuan putri, Firaun." Seketika saja Taia marah dan melaporkannya pada Firaun. Masyitoh pulang dengan wajah gelisah. Setelah mendengarkan cerita Masyitoh, Oded, suami masyitoh, dan pendeta berusaha menenangkan Masyitoh, sembari menenangkan diri mereka sendiri. Sebab bukan tidak mungkin, akibat dari pernyataan Masyitoh tersebut maka bani israil akan dibantai oleh Firaun. Padahal kehidupan mereka saja, dalam rangka membangun istana piramid sudah sangat mengenaskan.

Nyatalah kerisauan yang selama ini dirasakan. Seorang pendeta Firaun ditemani anak buahnya mendatangi rumah Masyitoh dan menyeretnya menuju ke istana. Ia, suami, Siteri (putri pertama mereka berusia 10-12 thn) dan Itamar (bayi kecil mereka) dihadapkan langsung pada Firaun. Dengan sombong, Firaun memaksa Masyitoh sekeluarga untuk mengakui ketuhanannya. Bahkan ia menyatakan perang dengan Tuhan Masyitoh, Alloh, yang tiada di hadapannya. Tak pelak, hukuman cambuk pun terjadi, menyisakan gurat-gurat merah berdarah di punggung Oded dan Masyitoh. Subhanalloh, mereka tetap tegar bahkan semakin kuat ketauhidannya. Ternyata itu tidak cukup bagi Firaun dan antek-anteknya. Lantas Siteri yang masih kecil itu dijadikan tumbal agar orangtuanya menyerah. Ia dicambuk oleh algojo firaun tanpa ampun. Perasaan ibu mana yang tak luka ketika menyaksikan anaknya tersiksa? Namun masyitoh, di tengah terpaan badai berusaha menenangkan Siteri dengan nasihat-nasihat tauhidnya. ”Lecutan cemeti hanya bisa membekas pada tubuh, hanya bisa mengelupas kulit, mungkin melukainya, tetapi hati yang teguh beriman tidaklah akan dapat diubahnya”, begitu pesan lembut masyitoh.

Akhirnya penuhlah sudah wadah kesabaran Firaun, ia lantas memerintahkan algojo untuk memasukkan Masyitoh sekeluarga ke dalam wajan panas raksasa. Wajan itu diisi dengan timah mendidih. Timbul sebersit ragu dalam diri masyitoh, ia mulai memikirkan Siteri, Itamar dan Oded suaminya. Bayi Itamar yang sedari tadi menangis dengan keras tiba-tiba berhenti dan berkata lantang ”Ibu, Ayah, janganlah bimbang dan janganlah ragu. Sebab cairan timah tidaklah panas kendatipun mendidih. Yang panas hanya dalam sangkaan, takkan terasa oleh orang yang sudah tunggal rasa, erat berpaut tauhid dengan Alloh yang Maha Agung”. Firaun dan antek-anteknya kaget bukan kepalang. Bukan..bukan hanya kaget. Mereka takut..takut pada ”sesuatu” yang menurut mereka tiada, namun bisa membuat Masyitoh rela digodog dalam timah panas.

Begitulah ihwal cerita singkat masyitoh. Akan lebih bagus kalo baca sendiri bukunya. Dia adalah salah satu simbol keagungan seorang muslimah yang kisahnya harum luar biasa. Adakah kita bisa mengikuti jejaknya? Karena kanvas dunia kini semakin semarak dengan warna karya perempuan. Mungkinkah karya 'Masyitoh' ini dibredel oleh PKI karena nuansa tauhidnya begitu kental? Wallahu'alam.

-13 Juli 2007-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Teman, Andakah Orang Hebat Itu?

Pernahkah anda merasakan saat-saat dimana anda tidak merasa hebat? Apa yang membedakan kita dengan generasi sahabat Rasulullah sehingga mereka mampu mengantarkan umat menuju terang di bawah panji Alloh? Udara yang dihirup berkomposisi sama, waktu yang diberikan sama-sama 24 jam, tangan yang diberikan sama-sama dua, organ yang diamanahkan juga sama-sama sempurna.

Imam Syafi'i mampu memecahkan 72 masalah fiqh yang bermanfaat bagi kaum muslimin dalam semalam, Condoliza Rice meraih gelar doktor pada usia 25 tahun, Muhammad Fathy Farahat syahid di usianya yang masih belia, Sayyid Muhammad Husein Thabathaba’i hafizh pada usia 5 tahun dan mendapat gelar doktor honoris causa pada usia 7,5 tahun dan pesona orang-orang hebat lainnya. Bagaimana dengan saya dan anda?
Pernahkah anda merasa tertekan saat anda tak mampu menjadi orang hebat? Usah risau, coba simak tulisan Taufik Ismail yang tersohor itu:

Kalau kau tidak sanggup menjadi beringin yang tegak di puncak bukit, jadilah saja belukar tapi belukar terbaik yang tumbuh di pinggir danau.
Kalau kau tidak sanggup menjadi belukar, jadilah saja rumput tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan.
Kalau kau tidak sanggup menjadi jalan raya, jadilah saja jalan setapak yang membawa orang ke mata air. Jadilah dirimu tapi jadilah saja dirimu sebaik-baik dirimu sendiri.

Menurut saya perbedaan antara kita dengan orang-orang hebat adalah tentang cara pandang terhadap diri sendiri. Orang-orang hebat menganggap bahwa dirinya berharga, begitu pun waktu dan potensinya, oleh karena itu menjadi manusia sia-sia tidak ada dalam kamusnya. Orang-orang hebat selalu menjadi inspirasi, sadar atau tidak.

Betapa banyak orang-orang yang seharusnya menjadi hebat malah memilih untuk menjadi biasa-biasa saja. Apatis dan hanya sanggup menonton kemudian kagum. Ini masalah cara berpikir, masalah mental.

Orang-orang hebat tidak banyak dilahirkan, tapi dibentuk. Ia dibentuk oleh cita-cita, disiplin, kerja keras, prinsip, keyakinan dan kesabaran serta pertolongan dari Alloh.

Mengutip karya Irfan Toni Herlambang :
Suatu hari di suatu taman, anak pipit malas mengepakkan sayap. Ia berkata "Sayapku masih kecil, Ayah, aku belum mau terbang, tempat ini terlalu tinggi, akan sakit sekali jika aku terjatuh"..Sang ayah pipit mengepakkan sayap, "Kita bangsa burung, pasti punya sayap. Tapi bukan sayap itu saja yang membuat kita terbang. Kepakan sayap lah yang membuat kita bertahan di udara. Cobalah, kepakan sayapmu jangan berhenti.." Cericit kecil dari induk pipit terdengar ramai, kepakan sayapnya tak henti-henti.

"Biarkan sayapmu berlatih. Biarkan angin dan udara yang membuatnya kuat. Biarkan sinar matahari yang membuatnya gesit. Biarkan tanah di bawah yang jauh itu sebagai ujiannya." Kepakan sayap ayah membuat si kecil terpesona. Ia mulai bangkit dari sarang dan berjalan meniti dahan. "Biarkan saja air hujan yang jatuh mengenai kedua sayapmu. Jadikan dahan-dahan ini tempatmu berkelit. Jangan pernah berhenti menggerakkan sayapmu jika ingin terbang seperti ayah, jangan berhenti .."

Pipit kecil mulai bergerak, plap..plap..plap..ya ..sedikit demi sedikit ia mulai belajar. Kemudian terbang. (Ayah, anakmu sudah bisa mengepakkan sayapnya, meski kadag terjatuh jua..)
Betapa indah perjuangan...saat burung terbang dan mengepakkan sayap di tengah terpaan angin dan panas terik matahari, atau ikan berenang dengan menggerakkan sirip di tengah deras arus sungai dan lekukan-lekukan karang. (Jadi inget Nemo..Uma, Hikmah, Ghina nonton lagi yuk!)
Orang-orang hebat mampu menghargai dirinya sendiri. Ia tidak pernah berhenti untuk membuat dirinya terus berarti.

”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ”Kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi” (Al-Ankabut : 2)

Tapi apakah orang-orang hebat itu harus selalu mendapat medali emas saat kompetisi, atau tampil di panggung megah, atau mendapat penghargaan skala nasional dan internasional? Itu tergantung paradigma kita tentang orang hebat. Hanya dengan menatap pesona orang-orang hebat tidaklah menjadikan kita hebat, jika kita hanya diam, tak bergerak. Seperti anak pipit, ia tidak akan terbang kalau tidak mengepakkan sayap, berkawan dengan angin, matahari, dahan dan kesabaran.

Tentukan amal yang akan menjadikanmu manusia hebat, Teman! Selamat terbang dan selamat tak henti mengepakkan sayap-sayapmu. Bagaimana menurutmu teman, bukankah engkau orang-orang hebat?

-27 Mei 2007-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS