Friday, July 31, 2009

Berteman Jakarta

Sudah lima kali ini saya melewati jalan dan tempat yang sama menuju Rawasari, Jakarta Timur, tempat saya memeriksakan hasil penelitian akhir tesis. Perjalanan Bandung-Jakarta, Jakarta-Bandung seperti perjalanan ke toilet saja, sering dan cepat. Dua kali perjalanan saya mulai dari Stasiun Depok Baru, sebab saat itu saya sedang berada di rumah, di Beji Depok (bukan di Bandung). Naik kereta KRL memang bukan hal yang baru, tapi sejak saat itu KRL menjadi bagian dari keseharian perjalanan saya. Pertama-tama saya kikuk, canggung untuk ikut berjejal bersama mereka yang sudah terlebih dahulu lama berteman Jakarta, berkawan dengan KRL dan deru mesinnya. Sudah barang tentu jika saya berangkat KRL pukul 10.00, maka saya harus rela berdiri, bergelantung pada ring-ring yang terpancang pada besi atap gerbong. Menelusuri Jakarta dengan KRL adalah petualangan sederhana yang kerap menyambangi hari-hari saya di Depok-Jakarta. Dari depok ke pondok cina, dari pondok cina ke UI, dari UI ke UP, dari UP ke lenteng agung, dari lenteng agung ke seterusnya….hingga sampai di manggarai. Bagaimana caranya supaya nama-nama stasiun itu dapat dihapal ya? Dan pastinya orang-orang tidak salah atau kelewatan untuk turun di stasiun tujuan. Itu karena mereka terbiasa..nanti kamu juga akan terbiasa, begitu kira-kira gumam saya dalam hati.

Dari Manggarai ke Rawasari naik taksi. Ya saat angkot sulit diandalkan, atau kita mengutamakan kecepatan di kota Jakarta, maka taksi bisa jadi solusi yang termudah dan tercepat.

Setelah urusan di Rawasari selesai, ingin sekali saya melanjutkan perjalanan berteman dengan Jakarta. Setidaknya saya tau jalan-jalan utama menuju tempat-tempat penting. Seperti jalan menuju kantor suami misalnya, atau mall yang bisa jadi tempat bersua dengan sahabat. Dari rawasari menuju Pancoran, naik angkot hingga Jl. Ahmad Yani, lalu naik bis ’bekas’ jepang 43, yang kecepatannya bukan kepalang, dan angin yang masuk begitu bebas, sampai kampus UKI. Nyebrang melewati jembatan penyeberangan, naik lagi bis ’bekas’ jepang 46 hingga sampai tugu pancoran. Nyebrang...dan berhati-hati.

Suatu hal yang mungkin lumrah bagi mereka yang telah lama tinggal di Jakarta. Tapi tidak bagi saya. Entah kenapa, saat menjalani petualangan mengenal jakarta seperti ini, ada suatu perasaan senang, puas.. Dan setelah berhasil mencapai tujuan, selalu ada kalimat kemenangan yang saya bisikan pada manusia kecil yang setia menemani saya bertualang ”Alhamdulillah, kita sampai, Sayang”.

Berteman Jakarta semoga tak hanya kemarin dan hari ini saja, karena Insya Allah cita-cita dan impian yang berada di depan dimulai dari kota ini, kota yang saya sebut kota petualangan.

2 comments:

Ulya Raniarti said...

Dika, mau memulai cita2x dari jakarta? berencana beraktifitas di jakarta? :)

Welcome to jakarta yaaa... :D
it's a tough city :p

Dika said...

hehe, insya allah, Ulya..
dk ingin membangun mimpi dk dari kota ini, depok-jakarta..

mohon bimbingannya ya, sebagai akhawat betawi asli :p