Thursday, October 29, 2009

Mudik Yang Pertama

Tampak terlambat sekali memposting tulisan ini. Sebab idul fitri sudah sebulan lebih berlalu. Namun banyak cerita yang menggantung menunggu untuk dirangkai. Mudik kali ini adalah mudik pertama bagi saya. Setelah menikah dengan seorang lelaki jawa, otomatis mudik menjadi bagian yang harus saya jalani. Sempat ragu untuk mudik sebab kandungan telah beranjak 7 bulan. Dan sebenarnya dokter pun tidak menyarankan. Namun selama sang bunda merasa nyaman dan dapat mengontrol segala sesuatunya maka mudik sah-sah saja untuk dilakukan. Memang mudik adalah suatu fenomena yang luar biasa. Terlepas dari kebiasaan menyambung silaturahmi yang tentu baik untuk dilestarikan, mudik juga memiliki sisi buruk. Sisi buruk tersebut bisa dihindari, namun ada pula yang tak mungkin untuk dihindari.

Sudah menjadi cerita biasa bahwa arus mudik telah merenggut ratusan nyawa. Umumnya mereka yang menggunakan kendaraan secara ugal-ugalan, tidak menaati peraturan, kurang persiapan menjadi korban dari fenomena tahunan ini di Indonesia. Sungguh memilukan jika niat mulia menjaga tali silaturahmi diakhiri dengan tragedi kecelakaan hanya karena faktor human error yang sebenarnya dapat dihindari. Suasana lebaran yang ceria menjadi pilu karena jerit dan tangis kehilangan.

Sisi buruk yang tidak dapat dihindari adalah harga tiket setiap jenis angkutan yang melambung tinggi, hingga dua kali lipat. Lebaran lalu, saya menggunakan jasa kereta api dari bandung ke madiun dengan harga tiket yang sama dengan bandung ke surabaya. Artinya harga tiket dibuat flat menyesuaikan dengan harga tiket dengan jarak paling jauh. Artinya lagi jika saya membeli tiket dengan jurusan bandung-madiun maka PT. KAI akan diuntungkan dengan adanya pembelian tiket terusan madiun-surabaya. Harga tiket kereta api bisa menyamai harga tiket pesawat di hari biasa, tapi tetap saja ludes tak tersisa.

Beberapa waktu sebelum berangkat, saya sempat ditegur dosen pembimbing agar tidak berangkat mudik. Jangan sampai ikut-ikutan menjadi korban kenaikan harga tiket yang menggila. Padahal silaturahmi bisa dilakukan kapan saja, tidak harus menunggu lebaran. Apalagi saya sedang mengandung, ungkapnya. Tapi rencana mudik ini sudah dipertimbangkan dengan matang, dan persiapannya pun sudah baik, jadi ya bismillah aja..:)

Alhamdulillah, akhirnya bisa bertemu dengan ibu dan bapak, serta saudara-saudara suami saya dari Magetan. Desa yang cukup panas, namun masih terbentang sawah hijau yang luas di sekelilingnya. Banyak kisah baru selama kami tinggal di desa jawa timur ini. Yang baru bagi saya tentu adalah kebiasaan-kebiasaan dan kehidupan masyarakat jawa yang berbeda dengan sunda. Inilah gambaran keseharian kami selama mudik..

Berjalan pagi bersama ibu

Menatap burung-burung di atas sawah

Di arena kolam renang banyu biru

3 comments:

machmoedsantoso said...

hohoho.. akhirnya.... menjadi "orang jawa" .. disahkan dengan mudik..he5

beruntung sekali dika berkesempatan mudik.
Tahun ini saya ga bisa mudik, mepet banget dengan jadwal masuk kerja..

anggun oktari said...

teteh..di fotonya aga gendutan skrang *dibanding trakhir ketemu*.. harus gendut lah yaa, demi dede bayi..hehehe :)

saya mah seumur hidup setiap tahun pasti mudik teh, ke garut.. heuu belum terbayang rasanya gimana kalo ga mudik, dan ga lebaran di garut..heu pasti aneh banget :P

asrieputri said...

Asri juga sekarang mudik ka, dari cimahi ke margahayu, hehehe...

Tapi tetep berasa beda banget juga sih, secara seumur2 kalo shalat ied pasti bareng keluarga besar di rumah nenek, sekarang bareng keluarga baru :)