Wednesday, July 29, 2009

Karena Cinta

Ada beberapa tingkatan motivasi seseorang melakukan suatu hal, dan motivasi paling tinggi adalah karena cinta. Menjelang akhir tahun perkuliahan saya, ada beberapa kejadian yang membuat saya merenung dan mencoba bercermin diri. Akhir tahun perkuliahan adalah waktu yang penuh dengan aktivitas di lab (terutama farmasi), apalagi kalau bukan mengerjakan tugas akhir (TA). Tugas akhir dianggap sebagai sesuatu yang menyeramkan karena harus bertemu dengan dosen-dosen yang biasanya dihindari, harus cari data, kirim sample ke luar kota, belum kalo hasilnya jelek bisa diminta ulang lagi.. dan lain-lain. TA adalah tugas individu, bukan tugas kelompok, yang artinya segala persiapan, hipotesis, dana, manajemen pengerjaan dilakukan sendirian, kecuali jika tergabung dalam sebuah proyek. Karena itu segala macam resiko ya ditanggung sendiri.

Nah ada yang menarik dari ciri-ciri rekan-rekan yang sedang mengerjakan tugas akhir. Mungkin ini adalah pandangan yang subjektif, tapi mungkin teman-teman bisa share disini juga, baik sebagai subjek atau objek. Rekan-rekan yang sedang tugas akhir saking concern dengan tugasnya sendiri, ia bisa lupa dengan rekan-rekannya yang lain. Misalnya, setelah menggunakan alat, ia tidak mencucinya lagi sehingga alat menjadi rusak, atau setelah menggunakan alat di ruangan tertentu, ia membiarkan barang-barang berceceran di ruangan tersebut, atau saking kepepetnya bisa jadi suatu barang diambil begitu saja tanpa meminta atau bertanya terlebih dahulu (bukankah itu namanya mencuri?), atau saking bingung dengan data tugas akhirnya dia sibuk merecoki temannya yang juga sedang berkutat dengan tugas akhir. Dari populasi kecil itu, saya melihat bahwa ketika seseorang sedang “kepepet”, manusia bisa jadi sangat egois. Hal kecil saja, membereskan kembali barang-barang yang telah digunakan bisa terlupa. Lalu siapa yang terkena imbasnya? Para karyawan lab yang harus senang hati menyisakan waktu dalam seminggu untuk urusan cuci mencuci barang yang bukan bekas dipakainya. “Kan karyawan memang tugasnya untuk itu” pikir sebagian orang. (oh my god, plis atuh lah).

Saat kita kepepet, mungkin kita menjadi bagian dari kumpulan orang-orang egois tersebut, karena kita berlaku sebagai subjek. Lain halnya pendapat seorang objek, atau tepatnya pemerhati seperti dosen. Suatu hari saya sedang di lab instrumen bersama dengan pembimbing tesis untuk menjalankan alat HPLC. Ia perhatikan keadaan sekitar kemudian mengkritik penempatan suatu alat yang menurutnya salah. Wajar saja, sebab yang ia lihat adalah electrode pH meter dalam keadaan steady yang dicelup ke dalam aquadest yang warnanya sudah keruh. Entah berapa abad tidak diganti..dan saya juga termasuk orang-orang yang tak ambil pusing, toh saya gak pernah pakai. Namun setelah itu, Pak Krasno, pembimbing saya mengatakan dengan sangat dalam, “Hal ini gak akan terjadi kalo mahasiswa farmasi mencintai farmasi”.

Saya seperti tersadarkan, betapa masih banyak orang-orang yang mengerjakan sesuatu bukan atas keinginan pribadi, apalagi karena cinta. Karena jika sesuatu dikerjakan atas dasar cinta, maka sesuatu yang sulit akan mudah, sesuatu yang repot akan enteng dan sesuatu yang berkaitan dengan apa yang ia cintai takkan sempat ia lewatkan begitu saja.

Sedang belajar mencintai peran baru dan mencintai bidang farmasi..

Mengungkap Fakta Kolesterol

Penyakit stroke dan jantung jarang terpisahkan dengan faktor resiko yang satu ini yakni kolesterol. Ya, kolesterol yang tinggi dapat menyumbat pembuluh darah atau aterosklerosis. Penyumbatan ini dapat menghambat aliran darah ke organ-organ utama, misalnya jantung (penyakit jantung koroner) dan otak (stroke). Di Indonesia, terdapat sekitar 36 juta penduduk atau sekitar 18% dari total penduduk Indonesia yang menderita kelainan lemak darah ini. Dari jumlah tersebut, 80% pasien meninggal mendadak akibat serangan jantung, dan 50%-nya tidak menampakkan gejala sebelumnya. Namun jangan salah, kolesterol tidak selamanya ‘jahat’. Kolesterol adalah lemak kompleks yang terdapat dalam aliran darah atau berada dalam sel tubuh yang sebenarnya dibutuhkan untuk pembentukan dinding sel, metabolisme vitamin-vitamin yang larut lemak (vitamin A,D,E,K), sebagai bahan baku pembentukan vitamin D dan hormon-hormon steroid (termasuk di dalamnya hormon progesteron, estrogen dan testosteron). Secara alami kolesterol bisa dibentuk oleh tubuh sendiri yakni di dalam hati, selebihnya didapat dari makanan hewani, seperti daging, unggas, ikan, margarin, keju dan susu. Kolesterol yang berada dalam zat makanan yang kita makan dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Tetapi, sejauh pemasukan ini seimbang dengan kebutuhan, tubuh kita akan tetap sehat. Kolesterol yang normal harus di bawah 200 mg/dL. Apabila di atas 240, maka beresiko tinggi terkena serangan jantung atau stroke. Kolesterol sendiri tidak larut dalam darah, untuk itu perlu berikatan dengan pengangkutnya yaitu lipoprotein diantaranya low density lipoprotein (LDL) dan high density lipoprotein (HDL).

LDL bertugas untuk mengirimkan kolesterol dari hati ke dalam sel-sel tubuh yang memerlukan seperti sel otak, sel otot jantung dan lain-lain agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Jenis kolesterol ini berbahaya, karena dapat menyebabkan pelekatan kolesterol di dinding pembuluh darah, sehingga sering disebut juga sebagai kolesterol “jahat”. Bila kadar LDL terlalu tinggi, maka akan menyebabkan penyumbatan pada bagian dalam pembuluh darah (aterosklerosis), yang kemudian dapat meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke. Kolesterol LDL yang optimal adalah bila kadarnya dalam darah dibawah 100 mg/dL. Kolesterol LDL 100-129 mg/dL dimasukkan ke dalam kategori normal, 130-159 mg/dL merupakan batas tertinggi, sedangkan di atas 160 mg/dL disertai faktor resiko lain seperti merokok, gemuk, diabetes, tidak olahraga perlu segera diberi obat.

HDL bertugas untuk mengambil kelebihan kolesterol dalam tubuh untuk dibawa kembali ke hati yang selanjutnya akan diuraikan lalu dibuang ke dalam kantung empedu sebagai asam (cairan) empedu. Jenis kolesterol ini sering disebut sebagai lemak yang “baik”, sebab dapat membersihkan dan mengangkut timbunan lemak dari dinding pembuluh darah ke hati. Kolesterol HDL yang ideal harus lebih tinggi dari 40 mg/dL untuk pria, atau di atas 50 mg/dL untuk wanita. HDL kolesterol yang rendah dapat disebabkan oleh kebisaan merokok, badan terlalu gemuk dan kurang gerak.

Selain kedua bentuk kolesterol diatas, terdapat satu lagi jenis lemak yang disebut trigliserida. Trigliserida adalah satu jenis lemak dalam darah dan berbagai organ dalam tubuh. Meningkatnya kadar trigliserida dalam darah juga dapat meningkatkan kadar kolesterol. Orang yang sakit jantung, diabetes, atau obesitas biasanya mempunyai kadar trigliserida yang tinggi. Trigliserida dalam darah yang normal harus di bawah 150 mg/dL. Beberapa orang mempunyai trigliserida yang tinggi lantaran penyakit lain atau keturunan. Bila memang ada faktor keturunan, maka gaya hidup harus diubah, mulai dari diet rendah lemak, olahraga teratur, menurunkan berat badan, tidak merokok, juga tidak minum alkohol, bahkan dianjurkan mengurangi konsumsi karbohidrat (misalnya nasi, mie atau roti) sampai kurang dari 50% dari jumlah kalori total. Dalam sebuah penelitian dalam Journal of The American Heart Association yang dilakukan selama 7 tahun dengan melibatkan 11 ribu lebih responden, diketahui bahwa 487 responden yang mengalami stroke ringan mempunyai kadar trigliserida yang tinggi dan kolesterol HDL yang rendah. Oleh karena itu, dalam pemeriksaan kadar lemak darah rutin, trigliserida selalu diukur bersamaan dengan kolesterol, karena ternyata trigliserida juga dapat menjadi faktor resiko aterosklerosis.

Kolesterol tinggi atau hiperkolesterolemia bisa menimpa siapa saja. Orang yang bertubuh gemuk bukan berarti mempunyai kadar kolesterol lebih tinggi daripada orang bertubuh kurus. Kadar kolesterol sangat bergantung kepada jenis makanan yang dikonsumsi. Selain itu, hiperkolesterolemia tidak hanya diderita oleh orang tua saja, bahkan usia anak-anak pun atau remaja bisa mengalaminya. Pembentukan plak (sumbatan pada pembuluh darah) dapat dijumpai pada anak-anak, dan kejadiannya meningkat seiring dengan pertambahan usia. Oleh karena itu, upayakan kolesterol darah di bawah 170 mg/dL dan kolesterol LDL paling tinggi 110 mg/dL untuk anak dan remaja.

Sebagian besar hiperkolesterolemia tidak menimbulkan gejala. Kadar kolesterol yang tinggi menyebabkan aliran darah menjadi kental sehingga oksigen menjadi kurang, akibatnya gejala yang timbul adalah gejala kekurangan oksigen seperti sakit kepala dan pegal-pegal. Namun, karena banyak yang tanpa gejala, maka dianjurkan untuk periksa kadar lemak darah rutin minimal 1 tahun sekali. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui hiperkolesterolemia sedini mungkin sehingga dapat mencegah penyakit yang diakibatkan. Agar kolesterol total, LDL dan trigliserida terkontrol maka perlu pengaturan asupan makanan dan melakukan aktivitas. Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengurangi kolesterol dalam makanan diantaranya pilih minyak nabati seperti minyak jagung atau minyak soya (kedelai) daripada minyak hewani; gantikan daging dengan tahu, kacang atau sayuran; pilih daging kurus daripada daging sosis atau daging kaleng; buang lemak pada daging dan pisahkan kulit dari ayam dan bebek; pilih susu rendah lemak (low fat) daripada susu fullcream; kurangi masak dengan cara menggoreng, lebih baik mengkukus, rebus, bakar atau panggang; batasi konsumsi makanan goreng yang kaya lemak hanya dua kali per minggu; hindari makanan babi, kambing, jeroan, atau yang banyak mengandung lemak; batasi makan udang, kepiting atau kerang; jauhi kue yang banyak krim atau minyak; carilah buah segar setiap hari; banyak mengkonsumsi makanan kaya serat seperti sayur, buah-buahan, padi-padian dan kacang-kacangan. Selain mengontrol asupan makanan, berolahraga secara teratur dapat menurunkan kadar kolesterol total dan meningkatkan kadar kolesterol HDL. Olahraga membantu membakar kolesterol/lemak dalam tubuh menjadi energi.

Berbagai fakta bahwa kolesterol sering menjadi faktor resiko penyakit yang mematikan seperti jantung koroner dan stroke semoga menjadi motivasi agar kita mengatur pola hidup lebih sehat. Terlebih lagi setelah mengetahui bahwa kolesterol juga memiliki manfaat bagi tubuh dan dapat dikontrol melalui pemilihan menu makanan dan ragam aktivitas. Jika kadar kolesterol anda sudah terlanjur tinggi, sebaiknya anda mencoba berbagai tips diatas dan menghindari faktor-faktor yang dapat memperburuk kesehatan anda. Salam sehat :)..

Waspada Kolesterol Pada Anak

Mungkinkah anak anda mengalami hipekolesterol? Jawabannya adalah mungkin. Kolesterol berlebih dapat terjadi pada siapa saja, tidak hanya orang tua, bahkan anak-anak atau remaja pun bisa mengalaminya. Tingginya kadar kolesterol pada anak-anak dapat menimbulkan terjadinya penyakit jantung dan stroke setelah mereka dewasa. Berdasarkan penelitian Bogalusa Heart Study dan PDAY research group, proses plak (penimbunan lemak) dalam pembuluh darah (aterosklerosis) telah dimulai sejak masa anak-anak dan dipercepat oleh adanya gangguan hiperkolesterolemia. Anak-anak dapat mengalami kolesterol tinggi (hiperkolesterolemia) apabila mengonsumsi makanan lemak jenuh tinggi, lemak trans, kolesterol tinggi, karbohidrat sederhana dan karbohidrat olahan tinggi. Hal ini terutama terjadi pada anak yang kegemukan (obesitas). Selain itu anak bisa terkena kolesterol tinggi apabila orang tuanya mempunyai riwayat kolesterol tinggi, pernah menderita penyakit jantung koroner atau stroke. Para orang tua yang kadar kolesterolnya tinggi, lebih dari 200 mg/dL, perlu memeriksakan kadar kolesterol anaknya sejak dini.

Hiperkolesterolemia ada yang diturunkan kepada anak (familial) dan ada yang tidak (poligenik). Hiperkolesterol poligenik terjadi karena beberapa gen pengatur berat badan tidak berfungsi dengan baik. Kasus semacam ini lebih banyak daripada kasus hiperkolesterol familial. Hiperkolesterol familial terjadi karena kekurangan gen yang mengatur reseptor kolesterol “jahat” LDL di hati.

Hiperkolesterolemia pada anak bisa muncul ketika usia lima tahun tanpa gejala. Oleh karena itu untuk mengetahuinya perlu pemeriksaan darah sejak dini. Pemeriksaan ini dapat dimulai saat usianya dua tahun, terutama bagi anak yang memiliki resiko tinggi kolesterol. Anak yang mempunyai orangtua menderita penyakit jantung koroner atau kolesterol tinggi harus mempunyai kadar kolesterol total kurang dari 170 mg/dL dan kadar kolesterol LDL kurang dari 110 mg/dL, nilai tersebut termasuk kategori normal. Anak yang mempunyai kadar kolesterol lebih dari 200 mg/dL dan atau kadar LDL kolesterol melebihi 130 mg/dL dikategorikan sebagai kelompok beresiko. Kadar lemak darah yang berada di antara nilai normal dan beresiko dianggap intermediet.

Bagi anak-anak yang kadar kolesterolnya dikategorikan sebagai normal, tidak ada tindakan khusus yang dianjurkan kecuali merencanakan melakukan pemeriksaan kolesterol total setiap lima tahun. Sedangkan bagi mereka yang kadar kolesterolnya tergolong intermediet dan beresiko perlu dilakukan pemeriksaan kadar lemak darah yang hasilnya kemudian ditindaklanjuti sesuai analisa.

Anak-anak dengan usia kurang dari dua tahun tidak perlu mengurangi lemak dan kolesterol dalam makanan sebab mereka sedang berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan sehingga memerlukan energi yang tinggi, selain itu kadar lemak mereka masih belum menetap akibat kebutuhan kolesterol yang relatif tinggi.

Anak-anak dengan kolesterol normal hendaknya diberikan pemahaman mengenai nutrisi dan pola makan yang baik dengan harapan bahwa mereka dapat membiasakan diri mengonsumsi makanan-makanan sehat. Edukasi ini juga penting untuk diberikan pada anak-anak yang kadar kolesterolnya tergolong intermediet. Selain edukasi, kepada kelompok ini perlu pula dimulai tindakan diet dan penatalaksanaan terhadap faktor-faktor resiko lain yang mungkin diidap sang anak. Sedangkan bagi mereka yang memiliki kadar kolesterol-LDL yang beresiko, penatalaksanaan yang dilakukan adalah diet. Diet yang dianjurkan adalah sebaiknya mengonsumsi makanan pokok berasal dari biji-bijian seperti nasi atau roti gandum. Lauk pauk hewani dan nabati berupa ikan, ayam tanpa kulit, daging tanpa lemak, kacang-kacangan, tahu, tempe ditambah sayuran. Anak-anak juga mulai diperkenalkan kebiasaan mengonsumsi buah-buahan dan menghindari snack yang sarat kolesterol seperti coklat. Selain itu, anak-anak sebaiknya menggunakan susu rendah lemak sebagai sumber kalsium dan protein.

Pemberian obat-obatan baru dipertimbangkan pada anak usia lebih dari 10 tahun dengan kegagalan diet selama 6-12 bulan. Anak usia 5-10 tahun diberikan pengobatan bila kadar kolesterol total lebih dari 300 mg/dL. Berdasarkan penelitian, obat penurun kolesterol secara umum aman untuk anak-anak. Namun tetap saja penggunaannya harus di bawah anjuran dan pengawasan dokter dan apoteker.