Monday, May 17, 2010

The Hidden Face Of Iran

Buku yang “recommended” ini, kata 3an, memang memikat luar biasa. Novel ini merupakan catatan perjalanan keluarga Irlandia berkewarganegaraan Amerika Serikat untuk mencari pembantu rumah tangganya sewaktu mereka tinggal 10 tahun di Teheran. Terence Ward dengan sangat apik menggambarkan perjalanannya yang penuh petualangan bersama kedua orang tuanya, Donna dan Patrick, serta ketiga saudara laki-lakinya, Kevin, Chris dan Richard. Dibesarkan di Iran, pada tahun 1960an, Terrence Ward dan seluruh anggota keluarganya tidak mampu melupakan ikatan erat yang menyatukan mereka dengan Hassan, sang koki keluarga, pengurus rumah tangga dan pemandu budaya mereka.

Setelah meninggalkan Iran selama 30 tahun, Ward kembali ke negara itu bersama seluruh anggota keluarganya untuk melakukan pencarian terhadap Hassan. Masa lalu yang indah yang mereka habiskan selama 10 tahun di negara Khomeini itu benar-benar menyentuh. Kasih sayang yang terjalin antara keluarga “barat”, yang notabene dianggap sebagai sosok jahat dibelakang Shah Pahlavi, digambarkan dengan sempurna. Bagaimana tidak, setelah berselang 30 tahun mereka bertekad mencari Hassan dan keluarganya di suatu desa tak terkenal di negara Iran yang berada dalam instabilitas politik pasca revolusi dan perang. Sinting, begitulah kesan pemandu sewaan mereka, Avo, selama perjalanan panjang itu.




Novel dengan tebal 579 halaman terbitan Rajut Publishing ini dilengkapi dengan foto keluarga Ward, masa kecil mereka bersama Hassan sekeluarga, perjalanan menembus jantung Iran, persepolis yang unik itu, dll. Tapi sayang, hitam putih.


Untuk mencapai Tudeskh, mereka harus melintasi kota Shiraz, Sivand, Yazd, Gurun Dasht-e Lut dan pegunungan Zagros. Masing-masing tempat memiliki cerita tersendiri yang membuat mereka tidak akan pernah melupakan Iran. Seperti di Shiraz, mereka mengenal Hafez, sang pujangga persia yang syairnya melekat di hati setiap penduduk Iran selama enam abad terakhir. Bangsa Iran memuja para pujangga mereka habis-habisan. Rumi, Hafezh dan Attar ketiganya berakar dari tradisi sufi yang menurutnya dapat disejajarkan dengan Dante, Shakespeare dan Yeats. Kemudian di Yazd, mereka mempelajari kebencian bangsa Iran terhadap Arab dari asisten pemandu mereka, Akbar. Kemunculan istilah Syiah dan Sunni yang hingga kini masih menjadi konflik yang selalu berkobar menjadi jurang pemisah yang tidak bisa dijembatani. Tak hanya itu, di Yazd mereka mendapat kesempatan menonton taziyeh, drama yang melukiskan penderitaan Husein, cucu Baginda Rasul dan putra Ali, yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan muharram. Pada tahun 680 bulan muharram, Husein bersama para pengikutnya menjadi korban pembantaian di Karbala. Beberapa orang wanita dan anak-anak yang bertahan hidup diseret ke Damaskus bersama kepala Husein untuk ditunjukkan kepada sang khalifah Yazid. Karena itu, jangan heran jika anda berkunjung ke Iran di 10 hari bulan muharram, anda akan lihat pemandangan muram di sepanjang jalan dan di setiap rumah. Dengan informasi yang kaya tentang budaya, sejarah, revolusi (yang dikomandoi Ayatulloh Khomeini) dan sastra, Ward menggambarkan perjalanannya dengan baik.

Hanya berbekal foto keluarga Ghasemi (Hasan, Fatimeh istrinya, Ali putranya dan Khorsid Ibunya) dan sedikit informasi tentang ciri khas desa tudeskh, keluarga Irlandia ini mencari sang koki. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, mereka akhirnya menemukan gerbang itu, Tudeskh!. Tapi mereka mendapat informasi bahwa Hassan dan Fatimeh sudah meninggal. Putus asa mulai menggelayuti perasaan mereka, kecuali donna, sang Ibu. Dengan kakinya yang pincang, ia berjalan menapaki jalan kecil desa tudeskh untuk bertanya tentang keberadaan Hassan. Ia tunjukkan foto itu pada setiap orang yang ia tanya. Hingga akhirnya seorang pria bertubuh besar mempertemukan mereka dengan Khorsid, ibunda Hassan. Setelah 30 tahun, mereka kembali menatap wajah khorsid, kini dengan atmosfer histeria. Dengan segera, Ward bersaudara melakukan perjalanan ke Isfahan untuk bertemu dengan Hassan yang telah pindah. Pertemuan yang mengharu biru itu dapat membuat anda tersenyum dan merasa gemuruh tersendiri. Sungguh indah dan langka..

Yang paling menyenangkan dari bagian buku ini adalah perjalanannya yang membuat iri, dan hari-hari keluarga Ward bersama Hassan. Di Iran, terkenal tradisi Taarof (taaruf), yaitu perjamuan istimewa yang dilakukan tuan rumah terhadap tamu-tamu mereka. Prinsip taarof “yang berlebihan” (menurut saya), adalah tuan rumah tidak boleh makan bersama tamu, tamu tidak boleh menolak setiap makanan yang disajikan tuan rumah meski sudah kenyang. Istilahnya “makan atau mati”..hehe. Bahkan Ward menambahkan “New Food For Life-Ancient Persian and Modern Iranian Cooking and Ceremonies” dalam daftar bibliografi yang disarankan. Coba baca, dan anda tiba-tiba akan merasakan lezatnya masakan-masakan itu dengan bumbu persianya yang kental.
Bersama Hassan, mereka kembali menapaki masa lalu yang indah sambil berjalan-jalan di kota Isfahan yang cantik. Hassan adalah Baba mereka yang selalu membacakan puisi, merawat bunga-bunga di taman dan pendongeng yang tiada duanya. Setelah 30 tahun, Ward, Chris dan Kevin meminta Hassan untuk mendongeng kembali. Dengan gayanya yang sama, ia mulai membacakan puisi Hafez, Sa’adi dan berdongeng kisah Nasrudin Hoja sang jenaka-bijak. Entahlah, mungkin di Indonesia, atau mungkin kita sendiri sangat jarang mendengarkan dongeng atau puisi dari orang tua. Padahal “inspiring word” tersebut yang memberi kekuatan pada Ward bersaudara untuk menghadang rintangan guna menemui Baba tercinta mereka. Bukankan kekuatan itu terletak pada kelembutan..?


Ikatan diantara Hassan yang beragama Islam dan keluarga Ward yang beragam katolik merupakan ikatan kemanusiaan yang tidak dapat diputus oleh simbol. Kejahatan politik, kecurangan dan nafsu kekuasaan para pemimpinlah yang memisahkan jarak mereka, tapi tidak hati mereka. Bukankan Islam adalah rahmat bagi semesta alam? Dengan penuh kejujuran, ward menampakkan simpatik yang sangat dalam pada Hassan, yang selalu terbangun setiap jam 3 malam untuk berdoa, selalu memenuhi panggilan azan dan masuk ke mesjid (setelah meminta ward kecil bersaudara menunggu di luar) sambil menyerukan Allohuakbar, Allohuakbar, Alloh Maha Besar. Peperangan yang panjang dengan Irak telah membuat guratan-guratan tua di wajah Hassan, sehingga ketampanan persianya memudar. Selama perang, Hassan bekerja sebagai kepala koki dapur umum yang bekerja 20 jam dalam sehari, berhadapan dengan gumpalan asap dan panas tungku masak. Dengan kondisi sekejam itu, tanpa jaminan pulang tuk dapat bertemu istri dan putra-putrinya, ia tetap menyisakan kearifan Iranian, melankolik seorang muslim.

Tiba saatnya bagi mereka untuk berpisah. Ward sekeluarga melanjutkan perjalanan ke Teheran, ke rumah masa lalu mereka. Yang mengesankan dari cerita itu adalah pengalaman mereka ke pasar mewah yang ada di Teheran. Di tengah hiruk pikuk pasar, mereka mendapati poster dalam bahasa Inggris yang berbunyi ”Mereka yang beriman tidak akan dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Alloh” (Q. 24/37). Adakah nasehat ini terpampang di pasar tempat ibunda kita belanja, atau Kota kembang dan gerbang marema nya Bandung yang ribut dengan tawar menawar dan sesakan para rojali (rombongan jarang meuli)? Ah.. :P


Catatan perjalanan lintas budaya ini ditutup dengan kisah 30 burung Attar menemukan Phoenix atau simorgh dalam bahasa persia dan kenyataan terakhir keluarga Ward, yaitu kematian Donna yang kemudian diikuti Patrick saat akan melakukan perjalanan kembali ke Iran. Ward telah membuat penduduk Iran menyambut hangat pesan kemanusiaan dalam bukunya, bahkan di kota-kota Eropa dan Amerika ia mendapat keramahan khas persia. Yang terpenting adalah bukunya telah membuat para pembaca mendapat keberanian untuk mengunjungi negara mereka yang telah lama hilang. Sungguh bermanfaat, itulah kekuatan tulisan.

Perjalanan yang mencerahkan telah lama menjadi pintu gerbang penemuan terhadap diri sendiri dan makna kehidupan. Bagi kami, perjalanan ini adalah petualangan besar terakhir keluarga kami, yang telah berhasil sepenuhnya mengubah diri kami. Seperti burung-burung Attar, jalan kami untuk menemukan keluarga Ghasemi membawa kami berhadapan dengan cinta..lebih jauh dari dunia politik dan sangkaan tak berdasar. Jauh lebih dalam daripada bumi dan lebih tinggi daripada langit. Jauh melewati kematian dan kelahiran kembali. Jauh dari setiap kebalikannya. Ketika pertama kali turun dari pesawat di Shiraz dan menginjakkan kaki di dataran tinggi Fars, kami tidak tahu bahwa berabad-abad sebelumnya, seorang pujangga abadi, Rumi, telah memetakan tujuan akhir kami :

Jauh melebihi Apa yang benar Dan apa yang salah Tersebutlah sebentang tanah Aku akan menemuimu disana -Jalaludin Rumi-

-30 Juni 2007-

2 comments:

Winny said...

artikel yg bagus, Dika. Di sini orang2 kebiasaan minum Panadol kalo sakit dikit.

Btw mau tanya, kalo salep corticosteroid efek sampingnya apa? Itu biasanya buat obat eczema (ngurangi inflamasi), tapi takut juga kalo dipake berkepanjangan

Lesly Septikasari said...

review buku yang menarik. Tentu bukunya menarik, namun cara dika menceritakannya membuat kesan buku ini begitu kuat...

looking forward to reading your next writting :)