Masyitoh

Membaca buku ini benar-benar membuat saya tidak bisa berhenti. Selain bahasanya yang agak puitis-melayu, juga hikmah dan kejadian sejarah yang mewarnainya. Tidak hanya pada inti ceritanya, tapi juga teror dibalik pembuatannya. Berdasarkan keterangan Taufik Ismail di buku Tirani dan Benteng, Ajip Rosidi, budayawan dan seniman angkatan 60an yang membuat buku Masyitoh ini menjadi bulan-bulanan maki-makian Lentera. Lentera merupakan ruang kebudayaan pimpinan Pramudia Ananta Toer yang selalu berkelit tidak mau dikaitkan organisatoris dengan Lekra/PKI. “Jadi apa sih sebenarnya isi buku Masyitoh itu? Mengapa ditentang oleh PKI?”. Alhamdulillah dapet juga bukunya dari pameran di PVJ, setelah tidak berhasil merasakan kegembiraan di bincang-bincang with Andrea Hirata.:’(

Well, ternyata buku itu bercerita tentang Masyitoh, atau Siti Masyitoh, tukang sisir putri Fir’aun. Mungkin teman-teman sudah pernah mendengar KISAHnya bukan? Yap betul, dialah Masyitoh, budak Fir’aun yang terkenal dengan pengorbanan agungnya. Drama Masyitoh ini hanya diperankan oleh 17 tokoh dengan latar yang sangat minim, tapi tidak mengurangi makna yang ingin dimunculkan secara langsung oleh penulis. Masyitoh menjadi lambang tauhid serta iman. Dalam mendirikan hak Alloh, ia bersedia mengorbankan dirinya sendiri. Namun, tafsiran umum yang selama ini berkembang terhadap kerelaan masyitoh berkorban ini umumnya terbatas pada kerelaan pengorbanan perseorangan yang bersifat agamawi dalam arti yang sempit. Padahal pengorbanan Masyitoh ini adalah suatu pengorbanan tanpa tawar-menawar lagi terhadap martabat manusia. Sungguh, nilai-nilai ini yang kita rasakan sudah semakin hilang, padahal masyarakat membutuhkan figur yang sanggup membuktikan pengorbanan logis bahwa Alloh lebih ia cintai daripada dirinya sendiri.



Alkisah, di suatu rumah di bumi Mesir, seorang wanita bernama Masyitoh yang sedang meninabobokan putri kecilnya diselimuti kegalauan. Ia lantas menceritakan kisahnya pada suami dan seorang pendeta bani israil. Jadi, ketika ia menyisir rambut putri Taia, putri kesayangan Firaun, sisir yang ia pegang terjatuh ke bumi. Tanpa sengaja Masyitoh berucap “Demi Alloh, celakalah Firaun”. Putri Taia kaget bukan kepalang mendengarnya dan dengan berapi-api ia memburu Masyitoh dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan keimanan. “Bukankah Firaun, ayahanda, adalah Tuhanmu? Ia Tuhan sekalian alam”, ucap Taia. Masyitoh menjawab dengan berani "Bukan, Allah lah Tuhan sekalian alam, Dia adalah Tuhanku dan juga Tuhan ayahanda tuan putri, Firaun." Seketika saja Taia marah dan melaporkannya pada Firaun. Masyitoh pulang dengan wajah gelisah. Setelah mendengarkan cerita Masyitoh, Oded, suami masyitoh, dan pendeta berusaha menenangkan Masyitoh, sembari menenangkan diri mereka sendiri. Sebab bukan tidak mungkin, akibat dari pernyataan Masyitoh tersebut maka bani israil akan dibantai oleh Firaun. Padahal kehidupan mereka saja, dalam rangka membangun istana piramid sudah sangat mengenaskan.

Nyatalah kerisauan yang selama ini dirasakan. Seorang pendeta Firaun ditemani anak buahnya mendatangi rumah Masyitoh dan menyeretnya menuju ke istana. Ia, suami, Siteri (putri pertama mereka berusia 10-12 thn) dan Itamar (bayi kecil mereka) dihadapkan langsung pada Firaun. Dengan sombong, Firaun memaksa Masyitoh sekeluarga untuk mengakui ketuhanannya. Bahkan ia menyatakan perang dengan Tuhan Masyitoh, Alloh, yang tiada di hadapannya. Tak pelak, hukuman cambuk pun terjadi, menyisakan gurat-gurat merah berdarah di punggung Oded dan Masyitoh. Subhanalloh, mereka tetap tegar bahkan semakin kuat ketauhidannya. Ternyata itu tidak cukup bagi Firaun dan antek-anteknya. Lantas Siteri yang masih kecil itu dijadikan tumbal agar orangtuanya menyerah. Ia dicambuk oleh algojo firaun tanpa ampun. Perasaan ibu mana yang tak luka ketika menyaksikan anaknya tersiksa? Namun masyitoh, di tengah terpaan badai berusaha menenangkan Siteri dengan nasihat-nasihat tauhidnya. ”Lecutan cemeti hanya bisa membekas pada tubuh, hanya bisa mengelupas kulit, mungkin melukainya, tetapi hati yang teguh beriman tidaklah akan dapat diubahnya”, begitu pesan lembut masyitoh.

Akhirnya penuhlah sudah wadah kesabaran Firaun, ia lantas memerintahkan algojo untuk memasukkan Masyitoh sekeluarga ke dalam wajan panas raksasa. Wajan itu diisi dengan timah mendidih. Timbul sebersit ragu dalam diri masyitoh, ia mulai memikirkan Siteri, Itamar dan Oded suaminya. Bayi Itamar yang sedari tadi menangis dengan keras tiba-tiba berhenti dan berkata lantang ”Ibu, Ayah, janganlah bimbang dan janganlah ragu. Sebab cairan timah tidaklah panas kendatipun mendidih. Yang panas hanya dalam sangkaan, takkan terasa oleh orang yang sudah tunggal rasa, erat berpaut tauhid dengan Alloh yang Maha Agung”. Firaun dan antek-anteknya kaget bukan kepalang. Bukan..bukan hanya kaget. Mereka takut..takut pada ”sesuatu” yang menurut mereka tiada, namun bisa membuat Masyitoh rela digodog dalam timah panas.

Begitulah ihwal cerita singkat masyitoh. Akan lebih bagus kalo baca sendiri bukunya. Dia adalah salah satu simbol keagungan seorang muslimah yang kisahnya harum luar biasa. Adakah kita bisa mengikuti jejaknya? Karena kanvas dunia kini semakin semarak dengan warna karya perempuan. Mungkinkah karya 'Masyitoh' ini dibredel oleh PKI karena nuansa tauhidnya begitu kental? Wallahu'alam.

-13 Juli 2007-

1 comments:

asanoer said...

Assalamu 'alaikum..

wah hampir susah nih kirim komentar ke blog ukhti. Ya, kisah ini ana dengar saat MTs dulu, bagus, dan ada yang bilang sampai kuburan siti masyitoh menjadi wangi dan harum...

Ohya ukhti, tolong theme-nya diutal atik lagi, biar orang lain bisa kasih komentar ke artikel diblog ukhti, soalbya link ke kirim komentar tidak kelihatan.

Demikian, terimakasih..

Wassalamu 'alaikum..

==Tambahan: Ini ana menawarkan widget hitcounter kalau ukhti mau menggunakan di blog, silahkan klik saja http://www.zaenalascom.netne.net/plugin/hitc

 
Kisah Blog Design by Ipietoon