Jahe dan Khasiat Anti Bakteri

Jahe adalah rempah-rempah yang banyak digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Tanaman ini selain digunakan sebagai bumbu dapur juga berkhasiat sebagai obat. Ciri khas jahe terdapat pada aroma dan rasanya yang tajam. Aroma pada jahe disebabkan oleh adanya minyak atsiri terutama golongan seskuiterpenoid sebanyak lebih dari 3 %. Sedangkan rasa yang pedas disebabkan oleh adanya senyawa gingerol dan shogaol. Di Indonesia, jahe diracik menjadi suatu minuman penghangat badan yang dikenal dengan nama wedang jahe. Minuman ini sangat bermanfaat untuk mengusir dingin terutama bagi mereka yang tinggal di daerah pegunungan.

Zingiberis officinale, nama latin tanaman jahe merupakan tanaman yang tumbuh tegak dan merumpun dengan tinggi mencapai 30 cm – 1m. Jahe biasanya ditanam pada dataran rendah sampai dataran tinggi (daerah subtropis dan tropis) pada ketinggian 1500 m diatas permukaan laut. Menurut Farmakope Belanda, Zingiber rhizoma (rimpang jahe) yang berupa umbi Zingiber officinale mengandung 6% bahan obat-obatan yang sering dipakai sebagi rumusan obat-obatan atau sebagai obat resmi di 23 negara. Menurut daftar prioritas WHO, jahe merupakan tanaman obat-obatan yang paling banyak dipakai di dunia.

Terdapat tiga jenis jahe yang popular di pasaran yaitu jahe gajah, jahe kuning dan jahe merah. Jahe gajah merupakan jahe yang paling disukai di pasaran internasional. Bentuknya besar gemuk dan rasanya tidak terlalu pedas. Daging rimpang berwarna kuning hingga putih. Jahe kuning merupakan jahe yang banyak dipakai sebagai bumbu masakan, terutama untuk konsumsi lokal. Rasa dan aromanya cukup tajam. Ukuran rimpang sedang dan berwarna kuning. Jahe merah merupakan jahe yang sering digunakan sebagai bahan dasar jamu karena kandungan minyak atsirinya tinggi dan rasanya paling pedas. Ukuran rimpangnya kecil berwarna merah, dengan serat lebih besar dibanding jahe biasa.

Secara empiris, jahe diketahui berkhasiat merangsang kelenjar pencernaan sehingga baik untuk membangkitkan nafsu makan. Minyak jahe yang berisi gingerol, berkhasiat mencegah dan mengobati mual dan muntah. Jahe segar yang ditumbuk halus juga dapat digunakan sebagai obat luar untuk mengatasi mulas. Beberapa khasiat jahe juga telah dibuktikan secara ilmiah melalui penelitian di laboratorium. Gingerol pada jahe bersifat antikoagulan, yaitu mencegah penggumpalan darah. Jadi mencegah tersumbatnya pembuluh darah, penyebab utama stroke dan serangan jantung. Jahe dapat mencegah mual melalui proses blokade serotonin, yaitu senyawa kimia yang dapat menyebabkan perut berkontraksi, sehingga timbul rasa mual.

Tidak hanya itu, jahe ternyata berkhasiat sebagai antibakteri. Bakteri Escherichia coli dan Bacillus subtilis yang bersifat patogen terhadap saluran pencernaan manusia dapat dihambat pertumbuhan koloninya dengan ekstrak jahe. Namun ekstrak jahe lebih aktif menghambat pertumbuhan koloni bakteri B.subtilis dibandingkan dengan bakteri E.coli (Nursal, 2006). Bakteri E.coli dapat menyebabkan gastroentritis pada manusia, sedangkan B.subtilis dapat menyebabkan kerusakan pada makanan kaleng yang juga dapat menyebabkan gastroentritis pada manusia yang mengkonsumsinya.

Jenis bakteri patogen lain yang dapat dihambat pertumbuhannya adalah bakteri penyebab tuberkulosis, bakteri periodontal yang menyebabkan periodontitis, dan bakteri yang menyerang saluran pernafasan. Ekstrak etanol rimpang jahe merah menunjukkan aktivitas antituberkulosis terhadap M.tuberkulosis galur H37Rv, Labkes-232, dan Labkes-450 masing-masing pada minggu ke-2,2 dan 3 (Neng, 2006). Melalui metode tertentu pada uji penapisan antibakteri, kita dapat mengetahui pada minggu keberapa aktivitas penghambatan pertumbuhan koloni bakteri terjadi. Ekstrak rimpang jahe dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dan Gram negatif seperti bakteri yang menyerang saluran pernafasan, diantaranya Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes, Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae (Akoachere et.al, 2002). [10]-gingerol dan [12]-gingerol, yaitu senyawa yang berhasil diisolasi dari rimpang jahe menunjukkan aktivitas antibakteri yang kuat secara in vitro melawan bakteri anaerob yang menyebabkan periodontitis pada rongga mulut manusia (Park, 2008).

Dari satu tanaman jahe, Yang Maha Kuasa menyediakan beragam manfaat untuk kesehatan manusia. Kini tinggal bagaimana usaha manusia memanfaatkannya dan tugas peneliti untuk terus mengeksplorasi manfaat dan pengembangannya guna mencapai hasil yang optimal.

Sumber :
Fisheri, Neng, 2006, Uji Aktivitas Ekstrak Etanol dan Fraksi Rimpang Jahe Merah (Zingiber officinale Rosc. Var. Sunti. Val.) Terhadap Mycobacterium tubeculosis Galur H37Rv, Galur Labkes-232, Galur Labkes-450, Beberapa Bakteri Lain, dan Jamur, Sekolah Farmasi ITB.

Park, Miri, 2008, Antibacterial Activity of [10]-Gingerol and [12]-Gingerol isolated from Ginger Rhizome Against Periodontal Bacteria, Phytother. Res. 22, 1446–1449.

Akoachere, 2002, Antibacterial Effect of Zingiber officinale and Garcinia kola on Respiratory Tract pathogens, East African Medical Journal, 79(11):588-92.


Bijak Mengkonsumsi Obat Anti Nyeri

Pemahaman bahwa obat akan selalu bermanfaat baik bagi manusia kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun adalah salah. Kenyataan menunjukkan bahwa obat memiliki dua sisi berlawanan. Di satu sisi ia dapat memberi manfaat dan di sisi yang lain dapat membahayakan bagi penggunanya. Obat hanya akan memberi manfaat apabila digunakan secara tepat. Pada dosis yang dianjurkan, obat memiliki dua jenis efek yaitu efek yang diinginkan atau efek terapi dan efek yang tidak diinginkan yaitu efek samping. Semakin tinggi dosis, efek samping akan lebih terasa namun tidak semua pengguna obat merasakan efek tersebut. Hal ini bergantung pada kepekaan pengguna.

Obat anti nyeri merupakan obat yang ditujukan untuk mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri, misalnya pada sakit kepala, sakit kepala pada migren, sakit gigi, nyeri otot, nyeri haid (dismenorea primer). Beberapa obat anti nyeri atau analgesik memiliki khasiat sebagai penurun demam (antipiretik) dan mengurangi proses peradangan (anti inflamasi). Obat ini digolongkan sebagai obat anti inflamasi non steroid (OAINS). Obat anti nyeri yang beredar sebagai obat bebas adalah untuk sakit yang bersifat ringan, sedangkan untuk sakit yang berat (misalnya sakit karena batu empedu, kanker) perlu menggunakan jenis obat keras yang membutuhkan pemeriksaan dokter.

OAINS selain memiliki efek terapi seperti yang telah disebutkan diatas juga memiliki efek samping pada berbagai organ, diantaranya adalah saluran cerna, ginjal, kulit dan hati. Tak ada satupun OAINS yang sama sekali aman, bahkan aspirin yang merupakan obat yang paling sering digunakan dan cukup efektif, mempunyai efek samping yang lebih sering dan lebih berbahaya jika diberikan dalam dosis yang berlebihan.

Mekanisme kerja utama OAINS adalah menghambat aktivitas enzim siklooksigenase dalam sintesis prostaglandin. Hambatan sintesis prostaglandin merupakan salah satu faktor yang berperan dalam mengurangi reaksi peradangan. Padahal berdasarkan penelitian, prostaglandin mempunyai peranan penting untuk mempertahankan mukosa saluran cerna terhadap pengaruh sekitarnya. Banyak zat iritan yang didapatkan pada mukosa saluran cerna yang merusak epitel bila sekresi prostaglandin terganggu. Hal ini yang menjadi dasar mengapa efek samping dari penggunaan OAINS yang menghambat siklooksigenase 1 atau COX-1 seperti aspirin, indometasin, natrium diklofenak, piroksikam, asam mefenamat adalah tukak lambung.

Berdasarkan studi epidemiologi, resiko relatif terjadinya tukak lambung akibat penggunaan OAINS termasuk rendah. Meskipun demikian, seringnya obat ini dikonsumsi dapat menyebabkan komplikasi tukak lambung. Komplikasi timbul akibat perbedaan respon individu terhadap OAINS. Jadi jika seorang penderita mengalami ulserasi (luka pada lambung) setelah penggunaan OAINS tertentu, tidak selalu berarti ulserasi akan kambuh jika ia menelan OAINS lain. Penggunaan OAINS harus benar-benar tepat, oleh karena itu jika anda benar-benar memerlukan OAINS konsultasikan pada dokter atau apoteker. Dokter dan apoteker berperan penting dalam mengoptimalkan pemilihan OAINS dan menjamin penggunaannya secara rasional dan tepat.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan OAINS adalah:
1. Konsultasikan dengan dokter atau apoteker mengenai riwayat penyakit sehingga pemilihan OAINS yang tepat akan lebih optimal. Selain itu, ceritakan juga riwayat obat yang telah digunakan selama ini. OAINS yang sudah pernah digunakan dan dapat ditoleransi dengan baik merupakan pilihan yang utama. Tetapi jika belum pernah menggunakan OAINS, dokter atau apoteker akan merekomendasikan suatu OAINS berdasarkan faktor-faktor seperti indikasi, profil efek samping, kebutuhan jadwal pemberian dan biaya.
2. OAINS diminum setelah makan untuk mengurangi efek samping terhadap lambung
3. Apabila terjadi gejala-gejala komplikasi saluran cerna seperti kembung, mual, nyeri lambung, feses berwarna kehitaman atau muntah berwarna seperti kopi maka segera sampaikan pada dokter
4. Jika anda mengkonsumsi obat lain seperti warfarin, siklosporin, antihipertensi golongan penghambat ACE seperti kaptopril, enalapril, lisinopril serta fenitoin maka sampaikan pada dokter. Obat-obat tersebut dapat berinteraksi negatif dengan OAINS.

Jika anda benar-benar membutuhkan OAINS dan memiliki riwayat tukak lambung maka solusi diantaranya adalah mengkonsumsi OAINS salut enterik, misalnya enteric-coated aspirin karena salutan mencegah tablet larut di lambung dan obat diserap cukup banyak di dalam usus kecil. Selain itu penggunaan mesoprostol, suatu derivate dari prostaglandin E1, bisa mengurangi tukak yang disebabkan oleh OAINS dan efektif dalam segi biaya bilamana OAINS diperlukan pada pasien-pasien yang beresiko tinggi mengalami pendarahan saluran cerna, misalnya wanita-wanita tua dan pasien-pasien yang mempunyai riwayat tukak lambung. Penghambat pompa proton, misalnya omeprazol, juga efektif dalam mengurangi toksisitas saluran cerna yang dipicu oleh OAINS.

Sekarang telah berkembang OAINS yang lebih selektif menghambat siklooksigenase-2 atau COX-2. Untuk mengurangi efek samping terhadap lambung dan ginjal, OAINS selektif COX-2 merupakan pilihan utama, karena COX-2 tidak terdapat pada mukosa lambung atau sel ginjal tetapi lebih banyak terdapat di otak. Obat-obat golongan ini yang telah dikembangkan dan banyak digunakan adalah meloxicam, nimesulide, celecoxib dan rofecoxib.

Tidak ada OAINS yang ideal. Penting untuk membiasakan diri dengan beberapa jenis obat ini dan menentukan OAINS yang paling sesuai untuk anda, tentunya dengan tetap berkonsultasi dengan dokter atau apoteker anda. Mengkonsumsi obat anti nyeri dengan bijak pada akhirnya akan menghindarkan anda dari resiko efek samping yang merugikan.

The Hidden Face Of Iran

Buku yang “recommended” ini, kata 3an, memang memikat luar biasa. Novel ini merupakan catatan perjalanan keluarga Irlandia berkewarganegaraan Amerika Serikat untuk mencari pembantu rumah tangganya sewaktu mereka tinggal 10 tahun di Teheran. Terence Ward dengan sangat apik menggambarkan perjalanannya yang penuh petualangan bersama kedua orang tuanya, Donna dan Patrick, serta ketiga saudara laki-lakinya, Kevin, Chris dan Richard. Dibesarkan di Iran, pada tahun 1960an, Terrence Ward dan seluruh anggota keluarganya tidak mampu melupakan ikatan erat yang menyatukan mereka dengan Hassan, sang koki keluarga, pengurus rumah tangga dan pemandu budaya mereka.

Setelah meninggalkan Iran selama 30 tahun, Ward kembali ke negara itu bersama seluruh anggota keluarganya untuk melakukan pencarian terhadap Hassan. Masa lalu yang indah yang mereka habiskan selama 10 tahun di negara Khomeini itu benar-benar menyentuh. Kasih sayang yang terjalin antara keluarga “barat”, yang notabene dianggap sebagai sosok jahat dibelakang Shah Pahlavi, digambarkan dengan sempurna. Bagaimana tidak, setelah berselang 30 tahun mereka bertekad mencari Hassan dan keluarganya di suatu desa tak terkenal di negara Iran yang berada dalam instabilitas politik pasca revolusi dan perang. Sinting, begitulah kesan pemandu sewaan mereka, Avo, selama perjalanan panjang itu.


Novel dengan tebal 579 halaman terbitan Rajut Publishing ini dilengkapi dengan foto keluarga Ward, masa kecil mereka bersama Hassan sekeluarga, perjalanan menembus jantung Iran, persepolis yang unik itu, dll. Tapi sayang, hitam putih.


Untuk mencapai Tudeskh, mereka harus melintasi kota Shiraz, Sivand, Yazd, Gurun Dasht-e Lut dan pegunungan Zagros. Masing-masing tempat memiliki cerita tersendiri yang membuat mereka tidak akan pernah melupakan Iran. Seperti di Shiraz, mereka mengenal Hafez, sang pujangga persia yang syairnya melekat di hati setiap penduduk Iran selama enam abad terakhir. Bangsa Iran memuja para pujangga mereka habis-habisan. Rumi, Hafezh dan Attar ketiganya berakar dari tradisi sufi yang menurutnya dapat disejajarkan dengan Dante, Shakespeare dan Yeats. Kemudian di Yazd, mereka mempelajari kebencian bangsa Iran terhadap Arab dari asisten pemandu mereka, Akbar. Kemunculan istilah Syiah dan Sunni yang hingga kini masih menjadi konflik yang selalu berkobar menjadi jurang pemisah yang tidak bisa dijembatani. Tak hanya itu, di Yazd mereka mendapat kesempatan menonton taziyeh, drama yang melukiskan penderitaan Husein, cucu Baginda Rasul dan putra Ali, yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan muharram. Pada tahun 680 bulan muharram, Husein bersama para pengikutnya menjadi korban pembantaian di Karbala. Beberapa orang wanita dan anak-anak yang bertahan hidup diseret ke Damaskus bersama kepala Husein untuk ditunjukkan kepada sang khalifah Yazid. Karena itu, jangan heran jika anda berkunjung ke Iran di 10 hari bulan muharram, anda akan lihat pemandangan muram di sepanjang jalan dan di setiap rumah. Dengan informasi yang kaya tentang budaya, sejarah, revolusi (yang dikomandoi Ayatulloh Khomeini) dan sastra, Ward menggambarkan perjalanannya dengan baik.

Hanya berbekal foto keluarga Ghasemi (Hasan, Fatimeh istrinya, Ali putranya dan Khorsid Ibunya) dan sedikit informasi tentang ciri khas desa tudeskh, keluarga Irlandia ini mencari sang koki. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, mereka akhirnya menemukan gerbang itu, Tudeskh!. Tapi mereka mendapat informasi bahwa Hassan dan Fatimeh sudah meninggal. Putus asa mulai menggelayuti perasaan mereka, kecuali donna, sang Ibu. Dengan kakinya yang pincang, ia berjalan menapaki jalan kecil desa tudeskh untuk bertanya tentang keberadaan Hassan. Ia tunjukkan foto itu pada setiap orang yang ia tanya. Hingga akhirnya seorang pria bertubuh besar mempertemukan mereka dengan Khorsid, ibunda Hassan. Setelah 30 tahun, mereka kembali menatap wajah khorsid, kini dengan atmosfer histeria. Dengan segera, Ward bersaudara melakukan perjalanan ke Isfahan untuk bertemu dengan Hassan yang telah pindah. Pertemuan yang mengharu biru itu dapat membuat anda tersenyum dan merasa gemuruh tersendiri. Sungguh indah dan langka..

Yang paling menyenangkan dari bagian buku ini adalah perjalanannya yang membuat iri, dan hari-hari keluarga Ward bersama Hassan. Di Iran, terkenal tradisi Taarof (taaruf), yaitu perjamuan istimewa yang dilakukan tuan rumah terhadap tamu-tamu mereka. Prinsip taarof “yang berlebihan” (menurut saya), adalah tuan rumah tidak boleh makan bersama tamu, tamu tidak boleh menolak setiap makanan yang disajikan tuan rumah meski sudah kenyang. Istilahnya “makan atau mati”..hehe. Bahkan Ward menambahkan “New Food For Life-Ancient Persian and Modern Iranian Cooking and Ceremonies” dalam daftar bibliografi yang disarankan. Coba baca, dan anda tiba-tiba akan merasakan lezatnya masakan-masakan itu dengan bumbu persianya yang kental.
Bersama Hassan, mereka kembali menapaki masa lalu yang indah sambil berjalan-jalan di kota Isfahan yang cantik. Hassan adalah Baba mereka yang selalu membacakan puisi, merawat bunga-bunga di taman dan pendongeng yang tiada duanya. Setelah 30 tahun, Ward, Chris dan Kevin meminta Hassan untuk mendongeng kembali. Dengan gayanya yang sama, ia mulai membacakan puisi Hafez, Sa’adi dan berdongeng kisah Nasrudin Hoja sang jenaka-bijak. Entahlah, mungkin di Indonesia, atau mungkin kita sendiri sangat jarang mendengarkan dongeng atau puisi dari orang tua. Padahal “inspiring word” tersebut yang memberi kekuatan pada Ward bersaudara untuk menghadang rintangan guna menemui Baba tercinta mereka. Bukankan kekuatan itu terletak pada kelembutan..?


Ikatan diantara Hassan yang beragama Islam dan keluarga Ward yang beragam katolik merupakan ikatan kemanusiaan yang tidak dapat diputus oleh simbol. Kejahatan politik, kecurangan dan nafsu kekuasaan para pemimpinlah yang memisahkan jarak mereka, tapi tidak hati mereka. Bukankan Islam adalah rahmat bagi semesta alam? Dengan penuh kejujuran, ward menampakkan simpatik yang sangat dalam pada Hassan, yang selalu terbangun setiap jam 3 malam untuk berdoa, selalu memenuhi panggilan azan dan masuk ke mesjid (setelah meminta ward kecil bersaudara menunggu di luar) sambil menyerukan Allohuakbar, Allohuakbar, Alloh Maha Besar. Peperangan yang panjang dengan Irak telah membuat guratan-guratan tua di wajah Hassan, sehingga ketampanan persianya memudar. Selama perang, Hassan bekerja sebagai kepala koki dapur umum yang bekerja 20 jam dalam sehari, berhadapan dengan gumpalan asap dan panas tungku masak. Dengan kondisi sekejam itu, tanpa jaminan pulang tuk dapat bertemu istri dan putra-putrinya, ia tetap menyisakan kearifan Iranian, melankolik seorang muslim.

Tiba saatnya bagi mereka untuk berpisah. Ward sekeluarga melanjutkan perjalanan ke Teheran, ke rumah masa lalu mereka. Yang mengesankan dari cerita itu adalah pengalaman mereka ke pasar mewah yang ada di Teheran. Di tengah hiruk pikuk pasar, mereka mendapati poster dalam bahasa Inggris yang berbunyi ”Mereka yang beriman tidak akan dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Alloh” (Q. 24/37). Adakah nasehat ini terpampang di pasar tempat ibunda kita belanja, atau Kota kembang dan gerbang marema nya Bandung yang ribut dengan tawar menawar dan sesakan para rojali (rombongan jarang meuli)? Ah.. :P


Catatan perjalanan lintas budaya ini ditutup dengan kisah 30 burung Attar menemukan Phoenix atau simorgh dalam bahasa persia dan kenyataan terakhir keluarga Ward, yaitu kematian Donna yang kemudian diikuti Patrick saat akan melakukan perjalanan kembali ke Iran. Ward telah membuat penduduk Iran menyambut hangat pesan kemanusiaan dalam bukunya, bahkan di kota-kota Eropa dan Amerika ia mendapat keramahan khas persia. Yang terpenting adalah bukunya telah membuat para pembaca mendapat keberanian untuk mengunjungi negara mereka yang telah lama hilang. Sungguh bermanfaat, itulah kekuatan tulisan.

Perjalanan yang mencerahkan telah lama menjadi pintu gerbang penemuan terhadap diri sendiri dan makna kehidupan. Bagi kami, perjalanan ini adalah petualangan besar terakhir keluarga kami, yang telah berhasil sepenuhnya mengubah diri kami. Seperti burung-burung Attar, jalan kami untuk menemukan keluarga Ghasemi membawa kami berhadapan dengan cinta..lebih jauh dari dunia politik dan sangkaan tak berdasar. Jauh lebih dalam daripada bumi dan lebih tinggi daripada langit. Jauh melewati kematian dan kelahiran kembali. Jauh dari setiap kebalikannya. Ketika pertama kali turun dari pesawat di Shiraz dan menginjakkan kaki di dataran tinggi Fars, kami tidak tahu bahwa berabad-abad sebelumnya, seorang pujangga abadi, Rumi, telah memetakan tujuan akhir kami :

Jauh melebihi Apa yang benar Dan apa yang salah Tersebutlah sebentang tanah Aku akan menemuimu disana -Jalaludin Rumi-

-30 Juni 2007-

Bila Perempuan Tidak Ada Dokter

Di dunia ini, ada jutaan perempuan yang hidup di kota-kota dan desa-desa ‘yang tidak ada dokter’ atau kalaupun ada, layanan kesehatan di daerah itu umumnya tidak terjangkau. Oleh karena itu banyak di antara mereka yang menderita, bahkan banyak pula yang meninggal, hanya karena tidak terjangkaunya layanan perawatan dan pengobatan, serta tidak tersedianya informasi yang memadai tentang seluk beluk kesehatan perempuan. Untuk merekalah buku ini ditulis. Bagaimanakah faktanya di Indonesia ?


Lalu mengapa PEREMPUAN? Jawaban dari pertanyaan ini langsung anda dapatkan di Bab I, karena “kesehatan perempuan adalah persoalan masyarakat”. Bila seorang perempuan sehat, ia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan pekerjaannya sehari-hari, memenuhi banyak peran yang dimilikinya dalam keluarga dan masyarakat serta membangun hubungan yang memuaskan dengan orang lain. Setiap perempuan mempunyai hak atas perawatan kesehatan yang utuh sepanjang hidupnya, tidak hanya sebatas perannya sebagai istri dan ibu. Selain itu, kesehatan seorang perempuan bukan saja dipengaruhi oleh keunikan ragawi semata, melainkan juga dipengaruhi oleh seluruh kondisi sosial, kebudayaan dan ekonomi dimana dia berada. Intinya, jika kesehatan perempuan membaik, semua orang yakni perempuan itu sendiri, keluarganya, serta masyarakatnya akan menikmati manfaatnya.

Seorang perempuan yang sehat memiliki peluang untuk mengangkat segenap potensinya. Suami dan anak-anaknya akan terpelihara dengan baik, ups,, maksudnya akan sehat, bahkan ia akan memberikan sumbangan besar bagi masyarakat di sekitarnya, baik itu kegiatan sosial, politik, budaya, pendidikan dan lain-lain. Oleh karena itu, wajar jika problem kesehatan perempuan dianggap sebagai masalah yang hampir selalu menyangkut orang lain. Kesehatan perempuan bukan hanya urusan perempuan yang bersangkutan, melainkan menjadi problema masyarakat seutuhnya.

Paradigma dimana perempuan ‘tidak setara’ dengan laki-laki ternyata tidak hanya menyangkut masalah peran, tapi juga kesehatan. Menurut penulisnya, ketidaksetaraan ini mengakibatkan kondisi seperti di bawah ini :
1. Lebih banyak perempuan didera kemiskinan ketimbang lelaki
2. Lebih banyak perempuan yang kekurangan pendidikan serta keterampilan untuk menunjang penghidupan mereka sendiri ketimbang laki-laki
3. Lebih banyak perempuan yang kekurangan akses ke informasi dan layanan kesehatan yang penting dibanding laki-laki
4. Lebih banyak perempuan kurang memegang kendali atas pengambilan keputusan-keputusan mengenai kesehatan dasar mereka sendiri ketimbang laki-laki

Benarkah? Seorang perempuan India bernama Chetna, memaparkan kisahnya dalam buku ini. Sebagian besar wilayah pedesaan di India, perempuan minum susu lebih sedikit ketimbang suami dan anak lelaki mereka, lagipula mereka baru makan bila semua lelaki dalam keluarganya telah dilayani. Biasanya ini mengakibatkan terbatasnya makanan yang diperoleh perempuan dan pola ini menunjukkan dengan gamblang seberapa rendah nilai perempuan itu di mata lingkungannya. Pengorbanan yang lambat laun akan ‘membunuh’ semua anggota keluarganya bukan? Jadi teringat tentang puisi perempuan, ah sakit sekali mendengarnya, rasanya tidak adil.

Buku ini sangat cocok baik untuk pekerja kesehatan maupun masyarakat umum yang ingin membantu mengatasi masalah kesehatan perempuan. Di dalamnya terdapat ragam informasi tentang upaya preventif, kuratif dan rehabilitatif kesehatan perempuan yang dilengkapi dengan ilustrasi (gambar dan kisah) –-meski sedikit ‘maksa’. Jika dibandingkan dengan buku “Dokter di Rumah Anda”, memang buku ini kurang lengkap dan kurang informatif. Tapi keunggulannya adalah filosofis ‘kekuatan=kesehatan perempuan’ yang menjadi kebaikan bagi semua orang, yang menjadi dasar dari pembuatan buku ini.

Hal yang menarik lagi selain dari perawatan pada perempuan hamil, menyusui, perempuan usia senja, perempuan penyandang cacat, kesehatan seksual perempuan, keluarga berencana, kekerasan terhadap perempuan, obat-obatan dan masih banyak lagi (biar penasaran..:p ), ada satu bahasan yang selalu ada di setiap bab dalam buku ini yakni “Berkarya demi perubahan”.

Keadaan perempuan di sebagian pedesaan di India (atau mungkin juga terjadi di negeri antah berantah ini dan belahan dunia lainnya) tidak harus terjadi jika kita mampu 1)mengawali perubahan dalam keluarga, 2)Mengupayakan perubahan dalam masyarakat.

“Membesarkan anak-anak bagi dunia yang lebih baik”, adalah salah satu dari gagasan perubahan dalam keluarga. Bagaimana peran ibu di dalamnya ?
1. Ajarkan kepada anak laki-laki agar bersikap baik dan penuh kasih sayang, sehingga kelak mereka akan menjadi suami, ayah dan saudara yang baik
2. Ajari anak perempuan agar menghargai diri mereka sendiri, sehingga mereka akan mendapatkan rasa hormat pula dari orang lain
3. Ajari anak lelaki agar berbagi pekerjaan rumah tangga, umpamanya mencuci piring, menyapu bahkan memasak, serta tanamkan rasa bangga dalam hati mereka bila mereka mereka mengerjakan tugas-tugas itu bersama dengan kakak atau adik perempuan mereka, sehingga kelak istri dan anak perempuan mereka tidak tertimpa beban kerja yang terlalu berat dan membahayakan kesehatan
4. Ajari anak perempuan agar mandiri, dengan cara memberikan kesempatan pada mereka untuk menamatkan pendidikan atau mempelajari keterampilan-keterampilan yang berguna untuk mencari nafkah sendiri..(hmm,,)
5. Ajari anak laki-laki untuk menghormati semua perempuan, dan agar mereka menjadi pasangan yang bertanggung jawab….
Lalu bagaimana mengupayakan perubahan dalam masyarakat? Diantaranya adalah:
1. Berbagi informasi
Bagi perempuan memang tidak berat, apalagi yang sudah terbiasa bergosip..ups :p. Tapi terkadang perempuan sulit atau malu untuk mengungkapkan masalah kesehatan pribadinya
2. Membentuk kelompok2 bantuan
3. Berupaya lebih mandiri
Misalnya dengan proyek-proyek yang membantu perempuan untuk memperoleh uang sendiri.
4. Mengembangkan proyek-proyek swadaya masyarakat
Contohnya adalah gerakan sabuk hijau di Kenya yang melibatkan banyak perempuan. Pencetusnya yang juga seorang perempuan mendapatkan nobel perdamaian.

Nah, bagaimana kesehatan dan kekuatan anda sekarang, wahai kaum hawa? Siapkah menjadi guru bagi dunia, karena ketahanan suatu negara bergantung pada kekuatanmu, begitu sabda Rasulullah terkasih. Dan engkau wahai kaum adam, masihkah engkau memberikan susu yang bersisa untuk istrimu? Atau mengapa tak kau bantu juga ibu, kakak dan adik perempuanmu memasak di dapur sesekali saja? :) Selamat sehat..!!

-22 Agustus 2007-

Masyitoh

Membaca buku ini benar-benar membuat saya tidak bisa berhenti. Selain bahasanya yang agak puitis-melayu, juga hikmah dan kejadian sejarah yang mewarnainya. Tidak hanya pada inti ceritanya, tapi juga teror dibalik pembuatannya. Berdasarkan keterangan Taufik Ismail di buku Tirani dan Benteng, Ajip Rosidi, budayawan dan seniman angkatan 60an yang membuat buku Masyitoh ini menjadi bulan-bulanan maki-makian Lentera. Lentera merupakan ruang kebudayaan pimpinan Pramudia Ananta Toer yang selalu berkelit tidak mau dikaitkan organisatoris dengan Lekra/PKI. “Jadi apa sih sebenarnya isi buku Masyitoh itu? Mengapa ditentang oleh PKI?”. Alhamdulillah dapet juga bukunya dari pameran di PVJ, setelah tidak berhasil merasakan kegembiraan di bincang-bincang with Andrea Hirata.:’(

Well, ternyata buku itu bercerita tentang Masyitoh, atau Siti Masyitoh, tukang sisir putri Fir’aun. Mungkin teman-teman sudah pernah mendengar KISAHnya bukan? Yap betul, dialah Masyitoh, budak Fir’aun yang terkenal dengan pengorbanan agungnya. Drama Masyitoh ini hanya diperankan oleh 17 tokoh dengan latar yang sangat minim, tapi tidak mengurangi makna yang ingin dimunculkan secara langsung oleh penulis. Masyitoh menjadi lambang tauhid serta iman. Dalam mendirikan hak Alloh, ia bersedia mengorbankan dirinya sendiri. Namun, tafsiran umum yang selama ini berkembang terhadap kerelaan masyitoh berkorban ini umumnya terbatas pada kerelaan pengorbanan perseorangan yang bersifat agamawi dalam arti yang sempit. Padahal pengorbanan Masyitoh ini adalah suatu pengorbanan tanpa tawar-menawar lagi terhadap martabat manusia. Sungguh, nilai-nilai ini yang kita rasakan sudah semakin hilang, padahal masyarakat membutuhkan figur yang sanggup membuktikan pengorbanan logis bahwa Alloh lebih ia cintai daripada dirinya sendiri.

Alkisah, di suatu rumah di bumi Mesir, seorang wanita bernama Masyitoh yang sedang meninabobokan putri kecilnya diselimuti kegalauan. Ia lantas menceritakan kisahnya pada suami dan seorang pendeta bani israil. Jadi, ketika ia menyisir rambut putri Taia, putri kesayangan Firaun, sisir yang ia pegang terjatuh ke bumi. Tanpa sengaja Masyitoh berucap “Demi Alloh, celakalah Firaun”. Putri Taia kaget bukan kepalang mendengarnya dan dengan berapi-api ia memburu Masyitoh dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan keimanan. “Bukankah Firaun, ayahanda, adalah Tuhanmu? Ia Tuhan sekalian alam”, ucap Taia. Masyitoh menjawab dengan berani "Bukan, Allah lah Tuhan sekalian alam, Dia adalah Tuhanku dan juga Tuhan ayahanda tuan putri, Firaun." Seketika saja Taia marah dan melaporkannya pada Firaun. Masyitoh pulang dengan wajah gelisah. Setelah mendengarkan cerita Masyitoh, Oded, suami masyitoh, dan pendeta berusaha menenangkan Masyitoh, sembari menenangkan diri mereka sendiri. Sebab bukan tidak mungkin, akibat dari pernyataan Masyitoh tersebut maka bani israil akan dibantai oleh Firaun. Padahal kehidupan mereka saja, dalam rangka membangun istana piramid sudah sangat mengenaskan.

Nyatalah kerisauan yang selama ini dirasakan. Seorang pendeta Firaun ditemani anak buahnya mendatangi rumah Masyitoh dan menyeretnya menuju ke istana. Ia, suami, Siteri (putri pertama mereka berusia 10-12 thn) dan Itamar (bayi kecil mereka) dihadapkan langsung pada Firaun. Dengan sombong, Firaun memaksa Masyitoh sekeluarga untuk mengakui ketuhanannya. Bahkan ia menyatakan perang dengan Tuhan Masyitoh, Alloh, yang tiada di hadapannya. Tak pelak, hukuman cambuk pun terjadi, menyisakan gurat-gurat merah berdarah di punggung Oded dan Masyitoh. Subhanalloh, mereka tetap tegar bahkan semakin kuat ketauhidannya. Ternyata itu tidak cukup bagi Firaun dan antek-anteknya. Lantas Siteri yang masih kecil itu dijadikan tumbal agar orangtuanya menyerah. Ia dicambuk oleh algojo firaun tanpa ampun. Perasaan ibu mana yang tak luka ketika menyaksikan anaknya tersiksa? Namun masyitoh, di tengah terpaan badai berusaha menenangkan Siteri dengan nasihat-nasihat tauhidnya. ”Lecutan cemeti hanya bisa membekas pada tubuh, hanya bisa mengelupas kulit, mungkin melukainya, tetapi hati yang teguh beriman tidaklah akan dapat diubahnya”, begitu pesan lembut masyitoh.

Akhirnya penuhlah sudah wadah kesabaran Firaun, ia lantas memerintahkan algojo untuk memasukkan Masyitoh sekeluarga ke dalam wajan panas raksasa. Wajan itu diisi dengan timah mendidih. Timbul sebersit ragu dalam diri masyitoh, ia mulai memikirkan Siteri, Itamar dan Oded suaminya. Bayi Itamar yang sedari tadi menangis dengan keras tiba-tiba berhenti dan berkata lantang ”Ibu, Ayah, janganlah bimbang dan janganlah ragu. Sebab cairan timah tidaklah panas kendatipun mendidih. Yang panas hanya dalam sangkaan, takkan terasa oleh orang yang sudah tunggal rasa, erat berpaut tauhid dengan Alloh yang Maha Agung”. Firaun dan antek-anteknya kaget bukan kepalang. Bukan..bukan hanya kaget. Mereka takut..takut pada ”sesuatu” yang menurut mereka tiada, namun bisa membuat Masyitoh rela digodog dalam timah panas.

Begitulah ihwal cerita singkat masyitoh. Akan lebih bagus kalo baca sendiri bukunya. Dia adalah salah satu simbol keagungan seorang muslimah yang kisahnya harum luar biasa. Adakah kita bisa mengikuti jejaknya? Karena kanvas dunia kini semakin semarak dengan warna karya perempuan. Mungkinkah karya 'Masyitoh' ini dibredel oleh PKI karena nuansa tauhidnya begitu kental? Wallahu'alam.

-13 Juli 2007-

Teman, Andakah Orang Hebat Itu?

Pernahkah anda merasakan saat-saat dimana anda tidak merasa hebat? Apa yang membedakan kita dengan generasi sahabat Rasulullah sehingga mereka mampu mengantarkan umat menuju terang di bawah panji Alloh? Udara yang dihirup berkomposisi sama, waktu yang diberikan sama-sama 24 jam, tangan yang diberikan sama-sama dua, organ yang diamanahkan juga sama-sama sempurna.

Imam Syafi'i mampu memecahkan 72 masalah fiqh yang bermanfaat bagi kaum muslimin dalam semalam, Condoliza Rice meraih gelar doktor pada usia 25 tahun, Muhammad Fathy Farahat syahid di usianya yang masih belia, Sayyid Muhammad Husein Thabathaba’i hafizh pada usia 5 tahun dan mendapat gelar doktor honoris causa pada usia 7,5 tahun dan pesona orang-orang hebat lainnya. Bagaimana dengan saya dan anda?
Pernahkah anda merasa tertekan saat anda tak mampu menjadi orang hebat? Usah risau, coba simak tulisan Taufik Ismail yang tersohor itu:

Kalau kau tidak sanggup menjadi beringin yang tegak di puncak bukit, jadilah saja belukar tapi belukar terbaik yang tumbuh di pinggir danau.
Kalau kau tidak sanggup menjadi belukar, jadilah saja rumput tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan.
Kalau kau tidak sanggup menjadi jalan raya, jadilah saja jalan setapak yang membawa orang ke mata air. Jadilah dirimu tapi jadilah saja dirimu sebaik-baik dirimu sendiri.

Menurut saya perbedaan antara kita dengan orang-orang hebat adalah tentang cara pandang terhadap diri sendiri. Orang-orang hebat menganggap bahwa dirinya berharga, begitu pun waktu dan potensinya, oleh karena itu menjadi manusia sia-sia tidak ada dalam kamusnya. Orang-orang hebat selalu menjadi inspirasi, sadar atau tidak.

Betapa banyak orang-orang yang seharusnya menjadi hebat malah memilih untuk menjadi biasa-biasa saja. Apatis dan hanya sanggup menonton kemudian kagum. Ini masalah cara berpikir, masalah mental.

Orang-orang hebat tidak banyak dilahirkan, tapi dibentuk. Ia dibentuk oleh cita-cita, disiplin, kerja keras, prinsip, keyakinan dan kesabaran serta pertolongan dari Alloh.

Mengutip karya Irfan Toni Herlambang :
Suatu hari di suatu taman, anak pipit malas mengepakkan sayap. Ia berkata "Sayapku masih kecil, Ayah, aku belum mau terbang, tempat ini terlalu tinggi, akan sakit sekali jika aku terjatuh"..Sang ayah pipit mengepakkan sayap, "Kita bangsa burung, pasti punya sayap. Tapi bukan sayap itu saja yang membuat kita terbang. Kepakan sayap lah yang membuat kita bertahan di udara. Cobalah, kepakan sayapmu jangan berhenti.." Cericit kecil dari induk pipit terdengar ramai, kepakan sayapnya tak henti-henti.

"Biarkan sayapmu berlatih. Biarkan angin dan udara yang membuatnya kuat. Biarkan sinar matahari yang membuatnya gesit. Biarkan tanah di bawah yang jauh itu sebagai ujiannya." Kepakan sayap ayah membuat si kecil terpesona. Ia mulai bangkit dari sarang dan berjalan meniti dahan. "Biarkan saja air hujan yang jatuh mengenai kedua sayapmu. Jadikan dahan-dahan ini tempatmu berkelit. Jangan pernah berhenti menggerakkan sayapmu jika ingin terbang seperti ayah, jangan berhenti .."

Pipit kecil mulai bergerak, plap..plap..plap..ya ..sedikit demi sedikit ia mulai belajar. Kemudian terbang. (Ayah, anakmu sudah bisa mengepakkan sayapnya, meski kadag terjatuh jua..)
Betapa indah perjuangan...saat burung terbang dan mengepakkan sayap di tengah terpaan angin dan panas terik matahari, atau ikan berenang dengan menggerakkan sirip di tengah deras arus sungai dan lekukan-lekukan karang. (Jadi inget Nemo..Uma, Hikmah, Ghina nonton lagi yuk!)
Orang-orang hebat mampu menghargai dirinya sendiri. Ia tidak pernah berhenti untuk membuat dirinya terus berarti.

”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ”Kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi” (Al-Ankabut : 2)

Tapi apakah orang-orang hebat itu harus selalu mendapat medali emas saat kompetisi, atau tampil di panggung megah, atau mendapat penghargaan skala nasional dan internasional? Itu tergantung paradigma kita tentang orang hebat. Hanya dengan menatap pesona orang-orang hebat tidaklah menjadikan kita hebat, jika kita hanya diam, tak bergerak. Seperti anak pipit, ia tidak akan terbang kalau tidak mengepakkan sayap, berkawan dengan angin, matahari, dahan dan kesabaran.

Tentukan amal yang akan menjadikanmu manusia hebat, Teman! Selamat terbang dan selamat tak henti mengepakkan sayap-sayapmu. Bagaimana menurutmu teman, bukankah engkau orang-orang hebat?

-27 Mei 2007-

Dari Pangandaran Hingga Palembang

Menjadi ‘pengantin jarak jauh’ memang tidak mudah. Dalam sebulan hanya sekitar 10 hari bertemu. Karena itu sebisa mungkin waktu yang sempit tersebut dimanfaatkan dengan baik. Kegiatan-kegiatan yang sifatnya pribadi maupun sosial direncanakan bersama-sama. Salah satunya adalah berjalan-jalan.

Alhamdulillah akhir februari lalu kami berkesempatan berjalan-jalan ke pantai pangandaran, pantai selatan yang beberapa tahun lalu diterjang tsunami. Kami berangkat menggunakan bis budiman Bandung-Pangandaran non AC dari terminal Cicaheum. Perjalanan ditempuh selama 5,5 jam dengan sekali pemberhentian istirahat di kota Tasikmalaya. Setelah itu kami memakai jasa tukang becak untuk mengantarkan kami ke penginapan. Hotel Sunset menjadi pilihan, karena lokasinya depan pantai dan harganya standar. Kelebihan hotel ini karena selain interior kamarnya yang nyaman juga dekat sekali dengan pantai. Sedangkan hotel lainnya ada yang jauh dari pantai dan ada juga yang berhadapan langsung dengan kios-kios yang berdempetan, sehingga dari segi pemandangan kurang bagus dibanding Sunset Hotel. Hanya saja kekurangan hotel ini adalah ’minim’nya sarana swimming pool (sempit) dan beberapa kekurangan yang sangat teknis, seperti keran air minum yang tersendat, handuk yang ternyata sedikit bolong, dan lemari yang beralas lantai..hehe. Tapi overall, jika teman2 sekeluarga berlibur ke Pangandaran, kami rekomendasikan hotel ini sebagai tempat peristirahatan.

Pagi-pagi saat matahari terbit adalah waktu yang tepat tuk berolahraga. Kami berlari-lari kecil di pantai, mengagumi hamparan laut tak berbatas, mengukir nama kami di pasir sambil tersenyum. Flash..blitz pun menyala, tak bosan memuaskan sifat narsis yang terkadang muncul :).

Ke Pangandaran rasanya tak lengkap jika tidak ke pasir putih. Arah barat laut dari Sunset hotel. Untuk mencapainya bisa dengan jalan darat atau jalan laut. Jika anda pilih jalan laut, yang tentunya lebih cepat dan menantang, anda harus lihai dalam menego supir perahu. Terdapat beberapa pilihan paket, yaitu hanya diantar ke pasir putih saja, mengelilingi pantai barat pangandaran saja atau paket setengah perjalanan, atau mengelilingi pantai barat hingga timur pangandaran atau paket kumplit. Pemandangan yang ditawarkan adalah gua sarang burung walet, karang-karang yang memiliki bentuk tertentu seperti batu kipas, karang iguana, karang buaya dan karang kodok lompat, gaban atau rumah kecil di tengah laut, tempat nelayan menjaring ikan di malam hari, dan tentunya yang tak kalah menantang adalah gempuran ombak di sepanjang perjalanan. Betapa Allah telah menundukkan laut dan juga bahtera untuk manusia, agar laut itu bisa dilintasi dan agar nelayan dapat mencari penghidupan dengannya, dan agar kami bisa berfoto..hehe.

Di pasir putih, petualangan takkan seru jika hanya berenang karena disana ada tempat wisata yang sayang jika tidak dikunjungi, diantaranya adalah gua-gua alam dan gua-gua jepang, tempat pertahanan diri dari tentara sekutu dan tempat pembantaian para pekerja romusha. Anda pun bisa tetap foto sambil bertualang asal pintar memilih tempat dan tema. Misalnya ”kemunculan dari gua bawah tanah” seperti kami :). Selama anda bisa menikmati setiap tempat yang anda kunjungi maka nikmatilah..sebelum itu hanya akan menjadi kenangan.


Pilihan selain berenang adalah snorkling. Di pasir putih terdapat penyewaan alat snorkling lengkap, biasanya sudah sepaket dengan perjalanan naik perahu. Snorkling sambil menikmati taman laut kemudian pulang dengan menaiki kayu penyeimbang perahu berkecepatan tinggi di sisi kanan atau kiri tentu akan menjadi pengalaman tak terlupakan.

Ketika malam tiba, jangan lupa untuk berjalan-jalan ke pasar ikan di dekat pantai timur Pangandaran. Dari Sunset Hotel memang jauh, namun banyak becak yang setia menunggu. Konsep rumah makan di pasar ikan cukup unik, yaitu kita bisa pilih ikannya langsung di tempat. Tak lupa kami sarankan agar anda bertanya terlebih dahulu mengenai jumlah porsi untuk satu jenis makanan. Alih-alih anda hanya memesan 2 jenis makanan, malah terpaksa menghabiskan 4 porsi. Ya, karena 1 jenis makanan bisa dinikmati oleh 2 hingga 3 orang bahkan 4 orang.

First Flight..

2 hari telah berlalu, saatnya kami untuk pulang dan berbenah rumah. Namun agenda berubah setelah Mas Trian mendapat email undangan training di Palembang selama 2 hari. Ahad kami pulang ke Bandung, Selasa pagi kami berangkat ke Palembang. Sungguh ini pengalaman pertama saya naik pesawat, berada dekat dengan awan-awan putih yang melayang, ada yang tebal, ada yang tipis. Dari ujung timur, mentari mulai meninggi, sinarnya melukis cakrawala dengan warna keemasan. Indah tak dinyana, terimakasih ya Allah, terimakasih Mas.

Di palembang, kami berjalan-jalan ke tempat yang direkomendasikan seorang kawan, asli Palembang :). Tidak ada salahnya jika anda juga berkunjung ke tempat-tempat tersebut jika anda sekeluarga ke Palembang. Diantaranya adalah sentra songket yang tidak hanya menawarkan kain songket khas palembang tapi juga berbagai cindera mata. Untuk wisata kuliner, selain pempek ada martabak har, yaitu martabak mini semacam telur dadar yang berisi daging dengan bumbu kuah santan dan sambal. Untuk wisata religi, ada Mesjid Agung Palembang. Selain itu tentu anda harus menyempatkan diri untuk mengambil foto di tempat yang benar-benar khas Palembang. Apalagi jika bukan jembatan Ampera dan Sungai Musinya. Jembatan Ampera yang berdekatan dengan Benteng Kuto Besak dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II terlihat lebih indah di malam hari. Dan tampaknya warga disana tak mengenal hari kerja maupun libur, sebab baik weekend maupun weekdays, lokasi tempat melihat jembatan Ampera yang gagah menjulang terlihat ramai.



Waktu berjalan-jalan pun usai, kami harus kembali pada aktivitas rutin. Saya ke Bandung dan Mas Trian ke field. 2 minggu lagi baru bisa berjumpa. Alhamdulillah untuk kesempatan menikmati indahnya melintasi selat, Alhamdulillah untuk kesempatan memijak bumi sumatera selatan, Alhamdulillah...

-18 Maret 2009-

Belajar Dari Sel Darah Merah

Manusia memiliki sistem organ yang sangat kompleks. Salah satunya adalah sistem kardiovaskular atau sistem sirkulasi. Komponen dari sistem sirkulasi adalah darah sebagai transporter, pembuluh darah sebagai jalannya dan jantung sebagai pompanya. Darah berperan dalam proses transport, pengaturan pH dan komposisi elektrolit, pembekuan darah, pertahanan tubuh serta menjaga/menstabilisasi suhu tubuh. Darah terdiri dari bagian utama yaitu plasma darah (55%) dan elemen darah (45%). Plasma darah sebagian besar disusun oleh air (92%), sedangkan elemen darah terdiri dari eritrosit, leukosit, dan platelet. Sekarang, mari kita fokuskan bahasan kita pada eritrosit yang darinya kita belajar banyak hal.

Eritrosit berperan terutama dalam transport gas. Ukurannya sekitar 7,5µm, bentuknya cakram bikonkaf atau cakram pipih dengan bagian pusat lebih tipis dan lebih terang dari bagian tepinya. Bentuk ini menguntungkan karena permukaannya menjadi lebih luas untuk proses difusi gas (dibandingkan bentuk bola atau kubus). Eritrosit merupakan sel tidak berinti, tidak punya organel seperti sel-sel lain. Ia seolah-olah merupakan kantung untuk hemoglobin (Hb). Hb adalah protein eritrosit yang berfungsi dalam mentransport O2.

Eritrosit ‘didedikasikan sepenuhnya’ oleh Alloh untuk mentransport gas respirasi (O2 & CO2). O2 merupakan gas yang dibutuhkan oleh sel-sel tubuh kita untuk proses metabolisme. Sedangkan CO2 merupakan gas buangan yang harus dikeluarkan dari tubuh. Eritrosit tidak memiliki mitokondria sehingga energi yang diperolehnya berasal dari metabolisme anaerob (tidak membutuhkan O2). Oleh karena itu eritrosit tidak akan mengkonsumsi O2 yang ditransportnya. Hal ini membuat eritrosit sebagai pentransport yang ’efisien’ dan ’profesional’. Pelajaran pertama dari eritrosit adalah ”Amanah tanpa Pamrih”. Betapa sel yang suprakecil itu telah berbuat banyak untuk sel-sel sahabatnya yang lain. Mereka adalah sel-sel yang menyusun otak, lambung, usus, telinga, semuanya.. Eritrosit bekerja sesuai dengan perintah yang diberikan oleh sang Arsitek, yaitu ”mentransport”. Dan tidak ada korupsi, karena sekali korupsi ”energi”, maka tubuh akan lemah dan akan berdampak secara tidak langsung pada fungsi eritrosit itu sendiri. Subhanalloh..

Bagaimana eritrosit dibentuk? Pembentukan eritrosit atau disebut juga eritropoiesis terjadi di sumsum merah yang terletak pada tulang belakang, sternum (tulang dada), tulang rusuk, tengkorak, tulang belikat, tulang panggul serta tulang-tulang anggota badan (kaki dan tangan).

Eritrosit ini memiliki waktu hidup yang relatif pendek. Hal ini disebabkan gangguan mekanis dan kondisi internal eritrosit itu sendiri. Tidak adanya inti menyebabkan eritrosit memiliki sejumlah keterbatasan. Eritrosit tidak mampu mensintesis protein untuk tumbuh, atau untuk memperbanyak diri. Eritrosit lama kelamaan akhirnya menjadi tua dan kehilangan fleksibilitasnya. Eritrosit menjadi kaku dan rapuh.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 700 mil dalam 120 hari, membran selnya rusak dan hal ini dideteksi oleh sel-sel fagosit dan selanjutnya eristrosit ditelan. Lalu eritrosit baru memasuki sirkulasi dengan kecepatan yang sebanding dengan eliminasinya. Sekitar 1 persen dari eritrosit yang bersirkulasi diganti setiap hari, dan sekitar 3 juta eritrosit baru memasuki sirkulasi setiap detik untuk menggantikan peran ”pendahulu–pendahulu eritrosit”. Pelajaran kedua dari eritrosit adalah ”Kerja keras dan kaderisasi/regenerasi”. Eritrosit dalam 1 menit mengalami sirkulasi dari jantung ke seluruh bagian tubuh hingga akhirnya kembali ke jantung. Bukan pekerjaan yang ringan bagi makhluk Alloh yang mungil ini, itu sama halnya kita diminta berlari mengelilingi stadion senayan sampai ”KO” :p. Dan kelelahan ini pastinya akan sampai pada puncak sehingga harus ada yang menggantikan. Seperti panglima perang yang syahid di atas kudanya sambil memegang panji, maka harus ada yang kembali menjunjung panji itu hingga perang usai dan kemenangan di genggaman. Dan proses regenerasi tidak hanya dikenal dalam dunia manusia (makro) saja, tapi juga dunia sel (mikro) dimana markas sumsum merah atas perintah sistem pengaturan dan tentunya kehendak Alloh menjadi basis pencetak generasi fresh eritrosit yang akan kembali menunaikan ”amanah tanpa pamrih”. Dan begitu seterusnya.. wallahu’alam

Referensi :
1. Catatan kuliah ”Hematologi” (mata kuliah pilihan Farmasi ITB)
2. Essential Hematology, karangan A.V. Hoffbrand
3. Dinamika Obat, Edisi kelima, karangan Ernst Mutschler

I love U, Mom and Dad

“Harus ada yang kita ubah. Kalau kita mau mengingat nasihat Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah tentang anak-anak kita, tentang betapa mereka lahir untuk zaman yang akan datang dan bukan zaman saat kita menepuk dada hari ini, terasa betul bahwa kita harus membangun visi hidup mereka. Harus kita siapkan pendidikan mereka dengan pendidikan yang menghidupkan jiwa, menguatkan tekad, membangkitkan hasrat untuk berbuat baik, dan menempa sikap mental yang unggul untuk menentukan wajah masa depan dunia. Bukan hanya masa depan mereka”. Kalimat ini menjadi pembuka dalam buku Positive Parenting-nya Muhammad Fauzil Adhim. Kalimat yang cukup untuk mengantarkan pembacanya menuju lautan ilmu yang dalam mengenai cara-cara mengembangkan karakter positif pada anak.

Membaca buku ini bagi saya tidak hanya menjadi langkah persiapan menjadi orang tua, tapi juga napak tilas perjalanan orang tua saya dalam membesarkan putri-putrinya. Memang tidak sepenuhnya sama, namun justru ini yang menjadi celah bagi kita untuk belajar menyempurnakan pendidikan yang telah orang tua kita berikan. Siapa sih yang menginginkan generasi mendatang lebih buruk keadaannya? Teringatlah kita pada firman Alloh

”Dan hendaklah orang-orang pada takut kalau-kalau di belakang hari mereka meninggalkan keturunan yang lemah, dan mencemaskan (merasa ketakutan) akan mereka. Maka bertakwalah kepada Alloh dan berkatalah dengan perkataan yang benar” (Q.S An Nisa : 9)

Sudah menjadi fitrah bahwa salah satu tujuan pernikahan adalah mendapatkan keturunan. “Merupakan suatu kenikmatan yang hakiki jika suatu keluarga mendapat anugerah anak, dan itu perlu disyukuri. Namun apakah hanya sebatas mengucapkan hamdallah dan takjub dengan wujud bayi yang baru dilahirkan?”, begitu Bu Nia Raihanah S.Psi, Psych menyampaikan pendahuluan dalam parenting class yang diadakan oleh Salman ITB. Pertanyaan itu tentu menarik untuk dikaji bukan? Sebab betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya melahirkan. Sebagaimana banyak wanita disebut ibu semata-mata karena dialah yang melahirkan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orang tua. Bukan karena mereka memiliki kepatutan sebagai orangtua. Jadi tidak hanya sebatas hamdalah, itu hanya pembuka pintu gerbang menuju dunia yang sarat tantangan dan kemudahan, dihiasi tawa dan derai air mata, diiringi harapan dan ketakutan, hakikatnya dapat menjadi jalan ke surga atau ke neraka, yang disebut world of parenting.

Membaca buku dan mengikuti kelas yang sebagian besar muridnya adalah orang tua ini membuat saya ingin menyatakan “Ayah, Bunda, aku mencintai kalian”. Betapa tidak, tugas keayahbundaan yang bergantung di pundak mereka sejak saya lahir ke dunia begitu berat dan melelahkan, tapi mereka tak pernah berpikir menyesal memiliki saya. Dan rasa-rasanya, orang tua yang normal tidak akan pernah menyesal atas kehadiran seorang anak di dunia, meski kadang tak selalu sejalan dengan harapan mereka. Namun dengan membaca buku ini pula, terlintas keinginan bertanya “Mengapa aku tidak seperti mereka, Ayah, Bunda? Mengapa tak kau ajarkanku ini dan itu? Mengapa tak kau tanamkan padaku ini dan itu sedari kecil? Mengapa tak kau didik aku seperti ini dan itu?”. Bukan salah bunda mengandung, jika saya adalah saya apa adanya. Tapi ini bukan ajang pembenaran atas segala karakter saya yang buruk, bukan, apalagi menyalahkan mereka yang telah berpayah-payah membesarkan saya. Pertanyaan-pertanyaan ini justru harus menjadi landasan saya untuk membesarkan generasi yang lebih baik, lebih baik dari ibu dan ayahnya, kakek dan neneknya.

Ah, kenapa tidak saya gunakan subjek ‘kita’ atau ‘seseorang’ dalam tulisan ini? Kenapa saya gunakan subjek dan sekaligus objek ‘saya’? Tidak lain karena ingin berbagi hikmah secara langsung dengan teman-teman secara jujur. Mengapa saya menulis tema parenting ini? Agar kita mau menyisihkan sebagian waktu untuk belajar ilmu yang membuat kita bersyukur akan ayah-bunda kita sekaligus menyiapkan generasi yang akan memberi bobot pada bumi dengan serangkaian kebaikan dan keshalihan.

-18 Desember 2007-

Perang Bubat Di Parijs Van Java

Menyoroti perdebatan tentang Perang Bubat di berbagai milis memang asyik (menurut sebagian orang) apalagi bagi mereka yang mencintai sejarah atau hendak menguak tabir sejarah yang telah mereka warisi dari para leluhur. Tapi belum lengkap rasanya jika tidak menghadiri diskusi antara Langit Kresna Hariadi dan Hermawan Aksan tentang buku mereka berdua di PVJ (Parijs Van Java) Bandung, 4 Juli kemarin. Acara yang menjadi bagian dari pameran buku seminggu ini memang sengaja dihadirkan, selain untuk mengupas tuntas buku Perang Bubat nya mas Langit Kresna dan Dyah Pitaloka nya Kang Hermawan juga untuk mempersilakan pembaca “mengapresiasi” atau bahkan “menghakimi” kedua penulis.

Di awal diskusi, moderator bertanya pada audiens perihal siapa yang telah membaca novel Dyah Pitaloka atau Perang Bubat. Tersebutlah 2 orang yang mengacungkan tangan sambil malu-malu, salah satu diantaranya adalah saya. Karena itu, saya dan mas galih (salah seorang audiens yang juga mengacungkan tangan) diminta untuk menceritakan kesan terhadap buku tersebut. Deg degan bukan main. Yang saya sampaikan adalah pertama:permohonan maaf pada mas Langit Kresna karena belum sempat membaca bukunya, kedua:lebih suka membaca novel sejarah dibandingkan teori sejarah yang menjemukan, ketiga:ending Dyah pitaloka yang menjadikan Gajah Mada sebagai penguasa yang tidak memiliki cinta nampaknya terlalu emosional, bukankah catatan sejarah Gajah Mada memang misterius? Karena di balik kedigdayaan seorang Patih idola Indonesia itu juga tersimpan cinta, karena fitrahnya adalah manusia biasa?, keempat:dari kisah itu saya baru menyadari bahwa mitos pertentangan “jawa-sunda” begitu mengurat akar, dan butuh waktu hingga ribuan putaran rembulan bertengger di langit malam.

*Sayangnya cuma dapet dorprize berupa voucher dari greenherbs, dikirain bakal dapet buku plus tandatangan mereka berdua

Akhirnya diskusi dimulai dengan penyebaran hand out 3 lembar tentang Perang Bubat. “Hand out ini dibuat oleh Trian Hendro, dia secara pribadi berdiskusi dengan saya tentang sejarah Jawa-Sunda, beliau bahkan menangis karena tidak bisa hadir disini”, aku Hermawan Aksan. Ck.ck.ck..salut lah. (ck..ck..ck sekarang Mas Hendro ini nak jadi suamiku :)..tak disangka..tak diduga)

Langit Kresna dan Hermawan Aksan punya latar belakang yang berbeda tentang tema sentral tulisan. “Mau anda sebut ini novel yang menguras emosi atau catatan tentang politik gajah mada, itu terserah”, tandas mas Langit. Sedangkan kang Her menyebutkan, “Saya hanya mau mengungkapkan makna yang sederhana, yaitu cinta. Dan salah satu faktor perang bubat adalah gajah mada tidak memiliki cinta”. Mas Langit memang sempat mendapatkan kritikan bahwa novel yang dibuatnya mengada-ada, tidak berdasarkan pada riset yang valid. Namun dalam kata pengantar di buku Perang Bubat karangannya, dia mengakui bahwa mempelajari sejarah untuk menelurkan buku tersebut sangatlah membutuhkan waktu dan perhatian ekstra, tidak hanya proses pengerjaan dan risetnya saja.

Mas Langit yang jawa dan beristrikan wanita sunda asli dayeuh kolot mengarahkan pendengar pada 1 pertanyaan, siapakah yang menyerang lebih dahulu? “Yang lebih dahulu tersinggung, dia yang menyerang”,ungkapnya. Dari kalimat itu saya tangkap, Sunda lah yang menyerang duluan. Lalu siapakah yang salah? “Ini bukan persoalan orang jawa atau sunda, atau siapa yang salah dan yang benar, tapi ini masalah sudut pandang. Sudut pandang satu adalah gajah mada jengkel dengan kerajaan sunda yang tidak mau bergabung (menjadi taklukan majapahit) padahal ongkos yang dikeluarkan majapahit untuk mengamankan pertahanan kelautan sangat besar, sudut pandang yang lain adalah kerajaan sunda merasa dilecehkan”, jawab Mas Langit. Sedangkan kang Her, yang ternyata asli brebes itu (lho..?), menjawab bahwa “Secara umum, sunda dan jawa tidak salah. Namun agar alur cerita lebih dramatis, kesalahan ditimpakan pada satu orang”. ”Saya tidak begitu hafal silsilah kerajaan jawa-sunda yang ternyata bersaudara itu, namun yang namanya cerita kan harus ada pemeran antagonisnya agar lebih seru”, tambah Kang Her.Well, ternyata itulah Gajah Mada.

Bagaimana sih komposisi fakta dan fiksi dalam kedua buku ini? Jika ini fiksi, apalah yang diperdebatkan? Perdebatan yang akhir-akhir ini marak di milis adalah seputar peran Gajah Mada. Yang jelas, masing-masing buku menyimpan kekuatan karakter dari setiap penulisnya. Tentunya, pembaca juga menginginkan fakta yang jujur tentang perang bubat itu yang konon tidak tercatat dalam negarakertagama. ”Memang sebagian besar adalah fiksi, namun ada beberapa fakta yang tidak saya ganggu gugat, misalnya Dyah pitaloka kawin lari dengan wirayudha, itu kan gak mungkin”, jelas Kang Her. Ya,yang namanya kisah tidak semua berakhir dengan bahagia, sama halnya kita mengenal Surga dan Neraka.

Stereotip budaya yang berkembang adalah mengenai perkawinan jawa-sunda, bahwa pria sunda jika menikah dengan wanita jawa maka akan awet rajet, bertengkar terus, dan juga sebaliknya. Buku Dyah Pitaloka hadir untuk menumbangkan stereotip tersebut dengan filosofi ”cinta” nya. Tentu saja, mitos ini tidak berlaku bagi kedua penulis karena ternyata keduanya beristrikan perempuan sunda (dengan asal usul kang Her yang ternyata Brebes..lho). Tapi bagi mas Langit, ia harus melampaui 12 bulan untuk diterima di keluarga sang istri, mengharukan.

Diskusi sudah berlangsung 1 jam hingga akhirnya kedua penulis membeberkan rahasianya. Langit kresna saat ini sedang membuat proyek gila-gilaan, yaitu menerbitkan novel 3 bulan sekali, sebanyak 10 jilid dengan tebal halaman masing-masing 832 halaman. Rumusnya adalah, bangun tidur kemudian menulis 3 halaman lalu berkativitas, lalu istirahat lagi, lalu menulis lagi 3 halaman, begitu seterusnya selama 24 jam seharian di dalam rumah. Sedikit ia membocorkan tema novelnya yaitu tentang beliung dari timur, kisah tentang candi murca. Hermawan Aksan tidak kalah produktif, ia berencana akan menulis novel lagi yang mengisahkan tentang pengembaraan Wastukencana, adik Dyah Pitaloka Citraresmi, menyusuri jawa timur untuk membalaskan dendam keluarganya. Tentunya ini fiksi. Wuih, kami tunggu karya bapak-bapak semua.

Diskusi ditutup dengan pernyataan dari mas Langit tentang pesan dari buku tersebut, ”Saya hendak meluruskan pernyataan Trian bahwa saya tengah menjadikan prajurit-prajurit Gajah Mada sebagai kambing hitam. Menurut saya, secara realistis di sekeliling kekuasaan selalu terdapat penjilat. Mahapatih punya pendukung dan juga penentang. Kemudian jangan ragu jika anda jatuh cinta dengan orang jawa dan sebaliknya”. Hm, pesan yang tidak begitu saja dapat meruntuhkan bangunan paradigma kebuadayaan yang menjulang tinggi, antara tanah jawa dan sunda. Sedangkan Kang Her menutup dengan ungkapan membesarkan hati bahwa buku ini tidak ia buat hanya untuk orang sunda, atau untuk orang jawa tapi untuk rakyat Indonesia.

Begitulah liputan singkat perang bubat di parijs van java. Tidak ada samudra merah yang menenggelamkan mentari senja, atau lautan darah di tanah tegal bubat. Tidak ada kilatan keris yang beradu dengan kujang, atau deru teriakan para kesatria kerajaan. Yang ada adalah pengumuman bahwa tanggal 7 juli Andrea Hirata akan ngobrol bareng Riri Reza tentang ”Aspek Filmis Tetralogi Laskar Pelangi” jam 4 sore, tetap di parijs van java, bandung tercinta.

-5 Juli 2007-

Aku Ingin..

Aku ingin hati ini
Seperti bumi yang sabar
membentang samudra tak bertepi

Aku ingin hati ini
Seperti langit yang tegar
Menyentuh arak-arakan awan

Aku ingin hati ini
Seperti rembulan yang tulus
Menyampaikan pesan kerinduan

Aku ingin
Jiwa yang luas
Agar tak penuh ia
Menampung cinta

- 28 Oktober 2007-

Membaca Catatan Hati Seorang Istri

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membaca buku karya Asma Nadia yang menjadi best seller di tahun 2007. Judulnya adalah Catatan Hati Seorang Istri. Entah mengapa buku itu menjadi best seller, yang pasti dari 3 buku karangan mbak Asma yang berjejer di hadapan saya, buku itu yang saya pilih.


Lembar demi lembar kisah nyata dalam buku itu membuat saya tersadar akan sesuatu. Bahwa pengkhianatan, betapapun kecilnya, adalah menyakitkan. Dan maaf, yang saya saksikan selama ini, pengkhianatan itu lebih banyak dilakukan oleh pihak Bapak. Tentu ada alasan mengapa Bapak seperti itu. Entah dari pihak ibu yang tidak baik dalam mengurus rumah tangga atau dari pihak bapak sendiri yang tidak sanggup mengendalikan diri, atau dari pihak luar yang berusaha menggoyahkan ikatan diantara mereka. Apapun penyebabnya, ketika pengkhianatan itu berujung pada perpisahan maka sang pengkhianat lah yang akan menerima akibatnya. Ia akan dibenci oleh orang-orang yang selama ini mencintainya dan sedihnya lagi ia tidak berhak mencicipi masa depan anak yang telah ditinggalkannya. Apakah bapak mau menggadaikan masa tua bapak demi kenikmatan sesaat yang itu semua seharusnya bisa bapak dapatkan di rumah? Duhai para bapak, apakah engkau tidak bisa sedikit bersabar dengan kulit ibu yang memang semakin tua dan pelayanannya yang tidak lagi prima, padahal dulu kau susah payah meraih cintanya ? Dan Pak, apakah ibu tidak berhak mendapat teguran jika selama ini ia telah mengabaikanmu, berkurang perhatiannya padamu karena pekerjaan-pekerjaannya, mengapa kau diamkan saja dan mencari yang lain?


Perceraian meski dibolehkan tapi itu adalah perbuatan yang dibenci oleh Alloh. Ironis bukan jika sepasang insan yang saling mencintai harus saling berhadapan di meja hijau, membela diri sekuat tenaga dan menyalahkan satu sama lain. Dan tragedi ini dirasakan oleh anak, didengar dan disaksikan. Membuat guratan luka pada hatinya yang terus menganga sepanjang hidupnya dan semakin pedih pada saat-saat tertentu. Seperti halnya merpati yang kehilangan satu sayapnya. Tentu ia akan terbang dengan terseok, tak selincah kawan-kawannya yang ‘lengkap’ sayapnya. Lalu Pak, adilkah jika merpati yang lengkap sayapnya terbang bersama merpati yang kehilangan satu sayap? Bukankah berat untuk menerima kenyataan itu? Ah Pak, cinta, tetap saja tak kehilangan rasio.


Tak terasa saya sampai pada halaman terakhir. Langit sudah semakin gelap dan suara mesin kereta semakin jelas saja di malam hari. Helaan nafas yang panjang seolah menjadi tanda bahwa mata saya sudah lelah dan harus segera tidur. Entah mengapa buku itu menjadi best seller, mungkin buku itu telah menjadi salah satu pelipur lara jutaan hati kaum hawa atau karena dalam buku itu tersirat sebuah nasihat. Bahwa ketika engkau sakit hanya Allohlah tempatmu meminta kekuatan...Laa haula walaa quwwata illa billah.


-23 Agustus 2008-

Berpuisi Dengan Hati

Sekiranya engkau mengalami
Apa yang mereka alami
Maka kau pun kan berpuisi

Sekiranya engkau merasakan
Apa yang mereka rasakan
Maka kau pun kan beruntai kata

Pengalaman nyata atau khayal
Usahlah menjadi perdebatan
Karena masing-masing ditanggapi
Oleh hati dan pikiran

Puisi picisan itu tidak ada
Karena setiap kalimat kau maknai benar
Tersusun seperti Dia merangkai kisahmu
Dalam antologi syair kehidupan

Bukanlah menjadi pujangga
Yang mengantarkan kita pada kearifan
Tapi menulis kalimatmu dengan jiwa
Yang membawa hangatmu dalam keabadian

"Dan ajarkan sastra kepada anak-anakmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani (Umar Bin Khattab)"

-16 Mei 2007-

Tentang Cinta

Dialah Cinta
Mahar tuk wujudkan bahagia
Diberikan bersama mawar-mawar asa
Yang kau tanam dan mekar di taman jiwa

Tabiat cinta
Simfoni yang senada dengan fitrah manusia
Asal ia terjaga sempurna
Sesempurna pengharapanmu pada surga

Dialah Cinta
Yang mengubahmu menjadi pujangga
Merangkai hikmah atas kehadirannya di dunia
Saat pekat kaulah taburan cahaya
Kala dahaga kau oase di hamparan sahara

Sejatinya cinta
Menemanimu menyusuri rimba dunia
Sarat bahaya, sarat nestapa
Namun tak henti cinta tersenyum setia

Begitulah Cinta
Atas dua jiwa

-31 Januari 2007-

Road To S.Si, Apt.

Tulisan ini dibuat untuk adik-adik dan kawan-kawan yang akan mengikuti jejak perjuangan menuju S.Si Apt, juga untuk sahabat-sahabat yang ingin mengetahui sekelumit aktivitas ujian apoteker di ITB..

----------------------------------

TAHAP 1 : UJIAN PENELUSURAN PUSTAKA

Hari 1

Akhirnya hari yang (tidak) dinanti itu tiba :). “Bismillah..Ya Alloh bimbing tangan kanan hamba untuk mengambil soal yang mampu hamba kerjakan”. Alhamdulillah, akhirnya keluarlah soal SUSPENSI KETOKONAZOL. Yup, my lucky morning. Dimulai dengan membuka FI IV, yes ada, FI III, yah..gak ada, GG 10 th, yes ada, AHFS 2005, ya Alloh indeksnya ilang :(, alhamdulillah ada neng citra di depan bangku ujian (Pesan 1 : PERHATIKAN INDEKS BUKU SEBELUM ANDA BERTARUNG), jangan seperti saya, pas Hari H baru ketahuan indeksnya kurang.

Monografi ketokonazol ini ternyata sedikit. Dan di pasaran hanya ada dalam bentuk tablet, krim dan shampoo. Jadi pagi-pagi sebelum tiba giliran akses buku pool, saya kerjakan sedikit monografi, undang-undang dan farmakologi. Kalo di daftar undang-undang, obat ketokonazol itu termasuk DOWA II (Daftar Obat Wajib Apotek). Namun setelah di cek lagi di daftar perubahan golongan obat, ketokonazol yang semula DOWA II menjadi OBT (Obat Bebas Terbatas II). Itu permenkes terbaru. TAPI, terdapat pembatasan yaitu hanya untuk pemakaian luar. Pertanyaannya, apakah bentuk solida atau likuida yang oral juga berubah golongannya? Awalnya saya menggolongkan suspensi ketokonazol ini sebagai OBT, mengikuti permenkes tersebut, tapi setelah memperhatikan dst, menimbang dst, meninjau dst, obat ini digolongkan Obat Keras. Kenapa? Indikasi dan efek samping banyak, peringatan banyak, lagipula penggunaan secara sistemik berbeda dengan lokal, dan di ISO/MIMS semuanya G. Akhirnya ganti lagi undang-undang setelah istirahat. (Pesan 2 : PERHATIKAN UU TERBARU OBAT KITA, PAHAMI ARTI PEMBATASAN DALAM PERATURAN TERSEBUT, LIHAT FARMAKOLOGI DAN KEMUNGKINAN2 LAIN YANG DAPAT DIJADIKAN DASAR PENGGOLONGAN OBAT KITA)

UU selesai, akhirnya masuk pada bagian yang paling panjang dalam ujian penelusuran pustaka. Siapkan kamus bahasa inggris ya. (Pesan 3 : JIKA PUNYA KAMUS KEDOKTERAN DORLAND, AKAN SANGAT LEBIH BAIK), karena sering ada istilah yang tidak ada padanannya dalam 1 kata bahasa Indonesia. Yang agak pening, ya saat menulis interaksi obat yang banyak, penggunaan pada kondisi khusus yang takut kebalik dengan peringatan, dan menerjemahkan toksisitas. Tiba giliran ke pool dan indeks zat aktif, alhamdulillah sebagian datanya ada, tapi lagi-lagi yang ditakutkan terjadi, dimana-mana tidak menemukan data stabilitanya. Florey juga gak ada, padahal kalo kata Pak Iim, Florey itu seperti Shahih Bukhari Muslim yang kalo gak pernah disentuh rasanya gak afdhal. Tapi gimana lagi, ketokonazolku tak ada di Florey. Oya, terjadi kekacauan saat akses buku pool, diantaranya inkonsistensi jatah waktu, lupa cara baca indeks Merck Index, mati lampu (hehe..). (Pesan 4 : BERSIKAP RILEKS SAAT AKSES BUKU POOL, PERHATIKAN PJ LAJUR, KENALI BUKU POOL SEBELUM ANDA BERTARUNG).

Yup, tiba waktu istirahat. Bukannya sibuk mereview, malah cari ivan, pj catering. Maklum selain menjadi peserta juga merangkap sebagai ibu konsumsi. (Pesan 5: PJ KONSUMSI HARUS MENYELESAIKAN SEGALA SESUATUNYA SEBELUM HARI PERTARUNGAN YA).

Setelah istirahat hari pertama selesai, siang hingga sore hari adalah waktunya menyelesaikan UU yang tadi salah dan evaluasi sediaan (yang harus siap salin). Alhamdulillah beres.

Waktu terus berlalu dan malam pun datang, mata ingin segera terpejam dan beristirahat di peraduan, tapi apa daya, hari esok belum ada jaminan ketenangan, karena hingga tengah malam formulasi belum jua kelar. Alhamdulillah ada Fetri, Sinta, dkk yang memberiku advice yang tepat tentang farmakologi dan teknologinya, thanks berat ya teman2.

--------------------------------


Hari 2

Untuk hari kedua persiapkan tenaga ekstra untuk menulis, menulis dan menulis. Jangan sisakan waktu untuk diam, tetaplah menulis meski pegal tak dinyana. Artinya, pada malam sebelumnya segala yang akan ditulis harus siap sedia. Baik itu evaluasi sediaan, formulasi, metode pembuatan, bahkan pengujian mutu, kedua terpanjang setelah farmakologi dalam ujian ini. Tapi perhatikan juga tulisannya, jangan sampai dosen2 tidak jadi memberi nilai sempurna hanya karena tulisan tangan anda yang tak konsisten. (Pesan 6 : tidurlah untuk mempersiapkan hari ke-2, dan siapkan segala folder siap salin, ingat harus siap salin, hari ke-2 hanya menyisakan sedikit waktu untuk berpikir).

Lalu…

Alhamdulillah, lulus tanpa peringatan. Tumpah ruahlah air mata kami yang entah kesekian kali. Air mata yang keluar terakhir ini menumbuhsuburkan semangat di perkarangan hati kami untuk menuntaskan perjuangan tahap 2 yang akan kami hadapi.SEGERA….


TAHAP 2 : UJIAN LABORATORIUM

Ujian laboratorium adalah ujian yang lebih berat dibandingkan ujian penelusuran pustaka. Selain berat persiapan teknisnya, juga berat konsekuensi yang harus dihadapi jika tahap 2 ini gagal. Tapi kebahagiaan datang dari hati, karena itu yang paling berat adalah bagaimana membuat hati bahagia menghadapi tribulasi-tribulasi ujian laboratorium.

Yang paling penting dari ujian tahap 2 ini adalah siapkan bahan untuk pembuatan jurnal laboratorium. Buat pengaturan yang baik dalam pembagian penggunaan alat evaluasi, pembagian pj ruang, pembagian alat dan bahan ujian. (Pesan 7 : Persiapkan diri anda untuk bekerja dalam tim sekaligus menyelaraskannya dengan kepentingan anda sendiri).

Pada hari pertama, alhamdulillah bisa mengerjakan beberapa evaluasi sediaan. Dan suspensiku jadi, berwarna kuning dan beraroma jeruk. Tapi kurang kental dan rasanya juga kurang manis. Kalo saya jadi anak-anak, mungkin saya akan memilih obat yang lain, hehe. (Pesan 8 : Selama diaduk, perhatikan kekentalan suspensi dan uji organoleptik, terutama ‘rasa’ saat itu juga. Oya, yang jangan dilupakan adalah SELALU lapor jika akan melakukan evaluasi atau penambahan bahan).

Hari kedua, uji stabilitas volume sedimentasi saya jelek sekali. Nilai F nya meurun drastis, jauhhhh sekali dibandingkan hari pertama. “ya Alloh, semoga gak cacking”, gumamku dalam hati. Akhirnya saya lapor pada Bu Jessi kalo evaluasi volume sedimentasinya sudah selesai dan saya ingin menguji apa terjadi cacking atau tidak. Alhamdulillah ketakutanku tidak terjadi.

Hari ketiga adalah mengerjakan evaluasi yang belum sempat dikerjakan, diantaranya rheologi dan uji distribusi partikel. Oya, sebelum anda bertarung dalam ujian ini, upayakan sudah bert’aruf alias berkenalan bahkan saling paham dengan alat-alat evaluasi. Jangan habiskan waktu anda untuk membaca manual alat pas hari H, dijamin stress. Paham system alat juga penting, karena dosen mungkin saja akan bertanya tiba-tiba saat anda lengah. Hal ini beneran terjadi pada saya loh… Dan yang terakhir adalah pengemasan sediaan. Upayakan buat nama yang bagus, relevan, mudah diingat berikut dengan desain yang elegan. JIka anda tidak bisa, serahkan pada ahlinya. :P (Dengan ini sekali lagi saya ucapkan makasih banyak untuk Manda yang telah mendesain kemasanku, desain yang bersahaja namun unik memesona)



Lalu..

Alhamdulillah kembali lisan ini memuji Alloh, akhirnya lulus juga tanpa peringatan. Kali ini, air mata menetes membasahi bunga-bunga senyum yang bermekaran, berbahagia, karena tinggal satu langkah lagi menuju salah satu cita-cita kami:).

--------------------------------


TAHAP 3 : UJIAN LISAN

Persiapan ujian lisan ini bisa dibilang sangat minim, karena saya dan teman2 sudah mulai kuliah S2. Tapi alhamdulillah, 2 hari terakhir saya belajar sangat ekstra (kalo gak bisa dibilang Sistem Kebut 2 hari), dan sempat menginap belajar di rumah Amanda (Makasih ya, Manda).

Finally, tahap 3 tiba. Blazer ibu pun dipakai untuk menambah kesan serius dan siap untuk menjawab pertanyaan para pakar dan praktisi itu. (Pesan 8 :Pakaian yang kita kenakan mendukung rasa percaya diri lho, serius). Alhamdulillah pertanyaan-pertanyaan penguji dapat dijawab, meski terkadang disertai cengengesan dan ada beberapa yang out of my brain, alias gua kagak tahu ada teori kaya gitu. Yang penting, kuasai terlebih dahulu KP kita selama 2 semester dan share dengan kawan2 yang KP di tempat lain. Seperti halnya sidang sarjana, cool dan pakailah logika anda jika anda lupa teori yang sempat menjejali otak anda selama beberapa tahun di bangku kuliah. Lalu ucapkan tidak tahu jika anda memang benar-benar tidak tahu, sebab anda berhadapan dengan praktisi yang tidak hanya berbekal teori tapi juga pengalaman praktis bertahun-tahun.

Akhirnya…

Saat yang mendebarkan pun tiba, beberapa wajah tertunduk lesu menanti selembar kertas yang 2 tahap lalu ditempel biasa di papan pengumuman. Ada pula yang masih bisa tertawa riang karena pada umumnya tahap 3 hanyalah formalitas, ujian sebenarnya adalah tahap 1 dan 2. Lalu dimanakah aku? Ah, percaya saja bahwa Alloh akan memberikan hasil terbaik. Yang penting sudah ikhtiar semaksimal mungkin, baik itu materi, raga, jiwa, otak, akal, persahabatan, keluarga, semua……..:)


Hasilnya, semua lulus menjadi S.Si Apt. Kembali kami terpekur sujud menerima hadiah yang sangat besar dari pencipta langit dan bumi. Terimakasih, untuk semuanya yang telah mengantarkan kami menuju gerbang ini, tolong jangan tinggalkan kami untuk melangkah menuju gerbang cita-cita selanjutnya yaitu Indonesia Sehat Merdeka. Majulah apoteker-apoteker Nusantara..!!


-19 Oktober 2007-

About Me

My Photo
young, simple, cheerful, sometimes quiet, lot of energy, patient, unstructure