Saturday, May 15, 2010

Biarkan Aku Pulang

Musim semi nanti
Izinkan aku pulang
Ke rumah seribu merpati
Dan seribu matahari

Aku hanya ingin pulang
Ke rumah permata dan para peri
Yang tak jemu berbagi mimpi

Maka biarkan aku pulang
Ke rumah bertaman sederhana
Yang tumbuh dengan mata air keimanan

Sebentar lagi aku pulang
Ke rumah itu mengetuk pintu
Disambut mereka yang mencintaiku

-7 Juni 2009-

Pernahkah Kusampaikan Padamu?

Pernahkah kusampaikan padamu
Tentang air mata yang berjumpa senja
Kala ia menggenggam cinta?

Jatuhnya terurai diam
saat menatap gemintang
yang bergelak pelan
di angkasa raya

Maka kita pun mengeja semesta
Menunjuk satu demi satu gugusan bintang
yang berkilau di langit selatan

Seketika tasbih dan takbir membuncah
Dari dada-dada kita
Meniup suasana malam
Dengan hawa syukur nan dalam

Pernahkah kusampaikan padamu
Arti air mata itu?
Ia adalah jelmaan kalimat
Yang ingin kusampaikan padamu setiap waktu
”Aku mencintaimu"

- Planetarium, 2009 -

Hujan

Hujan
Sedari tadi dinanti
Oleh bumi yang mati
Kering terbakar matahari
Ditambah sapuan angin

Awan kelabu bergumpalan
Di langit bulan Juli
Mengajak burung-burung tuk menari
Berpesta dengan hujan sore hari

Apa gerangan kabar darinya yang gerimis?
Tetesannya adalah rahmat dan kabar gembira
Bagi kehidupan..
Sayup terdengar bisikannya kepada tanah
”aku diutus oleh Sang Maha Pengasih, kawan”

Terimakasih hujan
Telah menemaniku berpuisi
Bisikanmu kubaca selalu
Di lembaran surat Sang Pengutusmu itu

16 Juli 2007

Ada Kalanya Kerinduan Lebih Bermakna

Dalam proses perkenalan dengan calon pasangan hidup, salah satu yang menjadi pertimbangan bagi setiap perempuan adalah apakah calon pasangannya berpenghasilan atau tidak, baik itu tetap maupun tidak tetap. Hal itu juga yang menjadi pertimbangan orang tua perempuan, selain agama tentunya, ketika calon menantunya datang mengajukan niat menikahi putrinya. Seperti halnya yang saya alami ketika dulu berkenalan dengan suami saya sekarang. Ia bekerja di bidang oil and gas dengan sistem on-off, 2 minggu di field (palembang) dan 12 hari off. Jadi selama sebulan, kami hanya bertemu sekitar 12 hari bahkan terkadang kurang. Kenyataan tersebut juga sudah dipertimbangkan, dalam arti ketika menikah berarti siap untuk ’ditinggal’.

Pada awalnya hal tersebut terasa biasa-biasa saja, sebab ketika ia di field, saya mengerjakan tesis di bandung, jadi tak terasa waktu cepat berlalu. Namun ada saja momen-momen yang membuat saya melow, merasa tidak tegar untuk berpisah. Mungkin terkesan konyol, tapi momen itu akhir-akhir ini semakin banyak dan mengantri. Momen itu adalah momen menghadiri undangan pernikahan teman. Kenapa bisa seperti itu?

Hampir di setiap undangan yang saya hadiri, saya selalu ditanya ”Dika sendiri?”, dan pertanyaan itu lebih tepat terdengar ”Dika gak sama suami?”. Hal itu tidak masalah pada awalnya, namun menjadi masalah ketika saya merasa memang sendirian di tengah para pasangan-pasangan baru yang juga datang ke undangan. Sempat ada yang nyeletuk ”Dika baru ditinggal suami 2 minggu aja udah ngelamun gitu” (ayo ngaku ini siapa :p). Masya Allah, rasa rindu saya pada suami saya semakin besar. Entah itu perasaan rindu atau sebenarnya hanya emosi cemburu melihat pasangan lain yang bisa datang bersama dan begitu mesra. Aneh bukan, padahal dari rumah niatnya adalah memenuhi undangan sahabat..tapi godaan syaitan yang menghembuskan rasa iri selalu mengintai di setiap tempat, setiap waktu.

Saat perjalanan pulang, yang tentunya sendirian, saya tuangkan kesedihan tersebut di sms dan saya kirimkan pada suami saya. Lama sms tak terjawab dan ada perasaan menyesal di hati saya, suami saya tidak bisa menemani saya karena sedang bekerja mencari nafkah dan kini saya membebaninya lagi dengan curahan emosi seperti itu. Astagfirullah, maaf Mas. Beberapa waktu setelah itu hp berbunyi, masuk sms jawaban dari suami saya ”Sabar ya, tidak semua yang terlihat indah itu sejatinya indah, adakalanya mungkin kerinduan kita lebih indah dari kebersamaan..i love u”..

Subhanallah Alhamdulillah, kalimat itu terasa seperti tetesan air di padang hati saya yang sedang kering terbakar rasa cemburu..sejuk sekali..dan saat itu juga saya merasa rindu yang sangat dalam yang kemudian mewujud dalam sebuah doa untuk dirinya. Ya adakalanya rasa rindu lebih bermakna dari sebuah kebersamaan..

Terimakasih ya Rabb,

Terimakasih Mas..


-Tulisan setahun lalu (Mei 2009) -