Monday, May 17, 2010

Jahe dan Khasiat Anti Bakteri

Jahe adalah rempah-rempah yang banyak digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Tanaman ini selain digunakan sebagai bumbu dapur juga berkhasiat sebagai obat. Ciri khas jahe terdapat pada aroma dan rasanya yang tajam. Aroma pada jahe disebabkan oleh adanya minyak atsiri terutama golongan seskuiterpenoid sebanyak lebih dari 3 %. Sedangkan rasa yang pedas disebabkan oleh adanya senyawa gingerol dan shogaol. Di Indonesia, jahe diracik menjadi suatu minuman penghangat badan yang dikenal dengan nama wedang jahe. Minuman ini sangat bermanfaat untuk mengusir dingin terutama bagi mereka yang tinggal di daerah pegunungan.

Zingiberis officinale, nama latin tanaman jahe merupakan tanaman yang tumbuh tegak dan merumpun dengan tinggi mencapai 30 cm – 1m. Jahe biasanya ditanam pada dataran rendah sampai dataran tinggi (daerah subtropis dan tropis) pada ketinggian 1500 m diatas permukaan laut. Menurut Farmakope Belanda, Zingiber rhizoma (rimpang jahe) yang berupa umbi Zingiber officinale mengandung 6% bahan obat-obatan yang sering dipakai sebagi rumusan obat-obatan atau sebagai obat resmi di 23 negara. Menurut daftar prioritas WHO, jahe merupakan tanaman obat-obatan yang paling banyak dipakai di dunia.



Bijak Mengkonsumsi Obat Anti Nyeri

Pemahaman bahwa obat akan selalu bermanfaat baik bagi manusia kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun adalah salah. Kenyataan menunjukkan bahwa obat memiliki dua sisi berlawanan. Di satu sisi ia dapat memberi manfaat dan di sisi yang lain dapat membahayakan bagi penggunanya. Obat hanya akan memberi manfaat apabila digunakan secara tepat. Pada dosis yang dianjurkan, obat memiliki dua jenis efek yaitu efek yang diinginkan atau efek terapi dan efek yang tidak diinginkan yaitu efek samping. Semakin tinggi dosis, efek samping akan lebih terasa namun tidak semua pengguna obat merasakan efek tersebut. Hal ini bergantung pada kepekaan pengguna.

Obat anti nyeri merupakan obat yang ditujukan untuk mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri, misalnya pada sakit kepala, sakit kepala pada migren, sakit gigi, nyeri otot, nyeri haid (dismenorea primer). Beberapa obat anti nyeri atau analgesik memiliki khasiat sebagai penurun demam (antipiretik) dan mengurangi proses peradangan (anti inflamasi). Obat ini digolongkan sebagai obat anti inflamasi non steroid (OAINS). Obat anti nyeri yang beredar sebagai obat bebas adalah untuk sakit yang bersifat ringan, sedangkan untuk sakit yang berat (misalnya sakit karena batu empedu, kanker) perlu menggunakan jenis obat keras yang membutuhkan pemeriksaan dokter.

The Hidden Face Of Iran

Buku yang “recommended” ini, kata 3an, memang memikat luar biasa. Novel ini merupakan catatan perjalanan keluarga Irlandia berkewarganegaraan Amerika Serikat untuk mencari pembantu rumah tangganya sewaktu mereka tinggal 10 tahun di Teheran. Terence Ward dengan sangat apik menggambarkan perjalanannya yang penuh petualangan bersama kedua orang tuanya, Donna dan Patrick, serta ketiga saudara laki-lakinya, Kevin, Chris dan Richard. Dibesarkan di Iran, pada tahun 1960an, Terrence Ward dan seluruh anggota keluarganya tidak mampu melupakan ikatan erat yang menyatukan mereka dengan Hassan, sang koki keluarga, pengurus rumah tangga dan pemandu budaya mereka.

Setelah meninggalkan Iran selama 30 tahun, Ward kembali ke negara itu bersama seluruh anggota keluarganya untuk melakukan pencarian terhadap Hassan. Masa lalu yang indah yang mereka habiskan selama 10 tahun di negara Khomeini itu benar-benar menyentuh. Kasih sayang yang terjalin antara keluarga “barat”, yang notabene dianggap sebagai sosok jahat dibelakang Shah Pahlavi, digambarkan dengan sempurna. Bagaimana tidak, setelah berselang 30 tahun mereka bertekad mencari Hassan dan keluarganya di suatu desa tak terkenal di negara Iran yang berada dalam instabilitas politik pasca revolusi dan perang. Sinting, begitulah kesan pemandu sewaan mereka, Avo, selama perjalanan panjang itu.

Bila Perempuan Tidak Ada Dokter

Di dunia ini, ada jutaan perempuan yang hidup di kota-kota dan desa-desa ‘yang tidak ada dokter’ atau kalaupun ada, layanan kesehatan di daerah itu umumnya tidak terjangkau. Oleh karena itu banyak di antara mereka yang menderita, bahkan banyak pula yang meninggal, hanya karena tidak terjangkaunya layanan perawatan dan pengobatan, serta tidak tersedianya informasi yang memadai tentang seluk beluk kesehatan perempuan. Untuk merekalah buku ini ditulis. Bagaimanakah faktanya di Indonesia ?

Lalu mengapa PEREMPUAN? Jawaban dari pertanyaan ini langsung anda dapatkan di Bab I, karena “kesehatan perempuan adalah persoalan masyarakat”. Bila seorang perempuan sehat, ia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan pekerjaannya sehari-hari, memenuhi banyak peran yang dimilikinya dalam keluarga dan masyarakat serta membangun hubungan yang memuaskan dengan orang lain. Setiap perempuan mempunyai hak atas perawatan kesehatan yang utuh sepanjang hidupnya, tidak hanya sebatas perannya sebagai istri dan ibu. Selain itu, kesehatan seorang perempuan bukan saja dipengaruhi oleh keunikan ragawi semata, melainkan juga dipengaruhi oleh seluruh kondisi sosial, kebudayaan dan ekonomi dimana dia berada. Intinya, jika kesehatan perempuan membaik, semua orang yakni perempuan itu sendiri, keluarganya, serta masyarakatnya akan menikmati manfaatnya.


Masyitoh

Membaca buku ini benar-benar membuat saya tidak bisa berhenti. Selain bahasanya yang agak puitis-melayu, juga hikmah dan kejadian sejarah yang mewarnainya. Tidak hanya pada inti ceritanya, tapi juga teror dibalik pembuatannya. Berdasarkan keterangan Taufik Ismail di buku Tirani dan Benteng, Ajip Rosidi, budayawan dan seniman angkatan 60an yang membuat buku Masyitoh ini menjadi bulan-bulanan maki-makian Lentera. Lentera merupakan ruang kebudayaan pimpinan Pramudia Ananta Toer yang selalu berkelit tidak mau dikaitkan organisatoris dengan Lekra/PKI. “Jadi apa sih sebenarnya isi buku Masyitoh itu? Mengapa ditentang oleh PKI?”. Alhamdulillah dapet juga bukunya dari pameran di PVJ, setelah tidak berhasil merasakan kegembiraan di bincang-bincang with Andrea Hirata.:’(

Well, ternyata buku itu bercerita tentang Masyitoh, atau Siti Masyitoh, tukang sisir putri Fir’aun. Mungkin teman-teman sudah pernah mendengar KISAHnya bukan? Yap betul, dialah Masyitoh, budak Fir’aun yang terkenal dengan pengorbanan agungnya. Drama Masyitoh ini hanya diperankan oleh 17 tokoh dengan latar yang sangat minim, tapi tidak mengurangi makna yang ingin dimunculkan secara langsung oleh penulis. Masyitoh menjadi lambang tauhid serta iman. Dalam mendirikan hak Alloh, ia bersedia mengorbankan dirinya sendiri. Namun, tafsiran umum yang selama ini berkembang terhadap kerelaan masyitoh berkorban ini umumnya terbatas pada kerelaan pengorbanan perseorangan yang bersifat agamawi dalam arti yang sempit. Padahal pengorbanan Masyitoh ini adalah suatu pengorbanan tanpa tawar-menawar lagi terhadap martabat manusia. Sungguh, nilai-nilai ini yang kita rasakan sudah semakin hilang, padahal masyarakat membutuhkan figur yang sanggup membuktikan pengorbanan logis bahwa Alloh lebih ia cintai daripada dirinya sendiri.

Teman, Andakah Orang Hebat Itu?

Pernahkah anda merasakan saat-saat dimana anda tidak merasa hebat? Apa yang membedakan kita dengan generasi sahabat Rasulullah sehingga mereka mampu mengantarkan umat menuju terang di bawah panji Alloh? Udara yang dihirup berkomposisi sama, waktu yang diberikan sama-sama 24 jam, tangan yang diberikan sama-sama dua, organ yang diamanahkan juga sama-sama sempurna.

Imam Syafi'i mampu memecahkan 72 masalah fiqh yang bermanfaat bagi kaum muslimin dalam semalam, Condoliza Rice meraih gelar doktor pada usia 25 tahun, Muhammad Fathy Farahat syahid di usianya yang masih belia, Sayyid Muhammad Husein Thabathaba’i hafizh pada usia 5 tahun dan mendapat gelar doktor honoris causa pada usia 7,5 tahun dan pesona orang-orang hebat lainnya. Bagaimana dengan saya dan anda?
Pernahkah anda merasa tertekan saat anda tak mampu menjadi orang hebat? Usah risau, coba simak tulisan Taufik Ismail yang tersohor itu:

Dari Pangandaran Hingga Palembang

Menjadi ‘pengantin jarak jauh’ memang tidak mudah. Dalam sebulan hanya sekitar 10 hari bertemu. Karena itu sebisa mungkin waktu yang sempit tersebut dimanfaatkan dengan baik. Kegiatan-kegiatan yang sifatnya pribadi maupun sosial direncanakan bersama-sama. Salah satunya adalah berjalan-jalan.

Alhamdulillah akhir februari lalu kami berkesempatan berjalan-jalan ke pantai pangandaran, pantai selatan yang beberapa tahun lalu diterjang tsunami. Kami berangkat menggunakan bis budiman Bandung-Pangandaran non AC dari terminal Cicaheum. Perjalanan ditempuh selama 5,5 jam dengan sekali pemberhentian istirahat di kota Tasikmalaya. Setelah itu kami memakai jasa tukang becak untuk mengantarkan kami ke penginapan. Hotel Sunset menjadi pilihan, karena lokasinya depan pantai dan harganya standar. Kelebihan hotel ini karena selain interior kamarnya yang nyaman juga dekat sekali dengan pantai. Sedangkan hotel lainnya ada yang jauh dari pantai dan ada juga yang berhadapan langsung dengan kios-kios yang berdempetan, sehingga dari segi pemandangan kurang bagus dibanding Sunset Hotel. Hanya saja kekurangan hotel ini adalah ’minim’nya sarana swimming pool (sempit) dan beberapa kekurangan yang sangat teknis, seperti keran air minum yang tersendat, handuk yang ternyata sedikit bolong, dan lemari yang beralas lantai..hehe. Tapi overall, jika teman2 sekeluarga berlibur ke Pangandaran, kami rekomendasikan hotel ini sebagai tempat peristirahatan.

Pagi-pagi saat matahari terbit adalah waktu yang tepat tuk berolahraga. Kami berlari-lari kecil di pantai, mengagumi hamparan laut tak berbatas, mengukir nama kami di pasir sambil tersenyum. Flash..blitz pun menyala, tak bosan memuaskan sifat narsis yang terkadang muncul :).

Ke Pangandaran rasanya tak lengkap jika tidak ke pasir putih. Arah barat laut dari Sunset hotel. Untuk mencapainya bisa dengan jalan darat atau jalan laut. Jika anda pilih jalan laut, yang tentunya lebih cepat dan menantang, anda harus lihai dalam menego supir perahu. Terdapat beberapa pilihan paket, yaitu hanya diantar ke pasir putih saja, mengelilingi pantai barat pangandaran saja atau paket setengah perjalanan, atau mengelilingi pantai barat hingga timur pangandaran atau paket kumplit. Pemandangan yang ditawarkan adalah gua sarang burung walet, karang-karang yang memiliki bentuk tertentu seperti batu kipas, karang iguana, karang buaya dan karang kodok lompat, gaban atau rumah kecil di tengah laut, tempat nelayan menjaring ikan di malam hari, dan tentunya yang tak kalah menantang adalah gempuran ombak di sepanjang perjalanan. Betapa Allah telah menundukkan laut dan juga bahtera untuk manusia, agar laut itu bisa dilintasi dan agar nelayan dapat mencari penghidupan dengannya, dan agar kami bisa berfoto..hehe.

Di pasir putih, petualangan takkan seru jika hanya berenang karena disana ada tempat wisata yang sayang jika tidak dikunjungi, diantaranya adalah gua-gua alam dan gua-gua jepang, tempat pertahanan diri dari tentara sekutu dan tempat pembantaian para pekerja romusha. Anda pun bisa tetap foto sambil bertualang asal pintar memilih tempat dan tema. Misalnya ”kemunculan dari gua bawah tanah” seperti kami :). Selama anda bisa menikmati setiap tempat yang anda kunjungi maka nikmatilah..sebelum itu hanya akan menjadi kenangan.


Pilihan selain berenang adalah snorkling. Di pasir putih terdapat penyewaan alat snorkling lengkap, biasanya sudah sepaket dengan perjalanan naik perahu. Snorkling sambil menikmati taman laut kemudian pulang dengan menaiki kayu penyeimbang perahu berkecepatan tinggi di sisi kanan atau kiri tentu akan menjadi pengalaman tak terlupakan.

Ketika malam tiba, jangan lupa untuk berjalan-jalan ke pasar ikan di dekat pantai timur Pangandaran. Dari Sunset Hotel memang jauh, namun banyak becak yang setia menunggu. Konsep rumah makan di pasar ikan cukup unik, yaitu kita bisa pilih ikannya langsung di tempat. Tak lupa kami sarankan agar anda bertanya terlebih dahulu mengenai jumlah porsi untuk satu jenis makanan. Alih-alih anda hanya memesan 2 jenis makanan, malah terpaksa menghabiskan 4 porsi. Ya, karena 1 jenis makanan bisa dinikmati oleh 2 hingga 3 orang bahkan 4 orang.

First Flight..

2 hari telah berlalu, saatnya kami untuk pulang dan berbenah rumah. Namun agenda berubah setelah Mas Trian mendapat email undangan training di Palembang selama 2 hari. Ahad kami pulang ke Bandung, Selasa pagi kami berangkat ke Palembang. Sungguh ini pengalaman pertama saya naik pesawat, berada dekat dengan awan-awan putih yang melayang, ada yang tebal, ada yang tipis. Dari ujung timur, mentari mulai meninggi, sinarnya melukis cakrawala dengan warna keemasan. Indah tak dinyana, terimakasih ya Allah, terimakasih Mas.

Di palembang, kami berjalan-jalan ke tempat yang direkomendasikan seorang kawan, asli Palembang :). Tidak ada salahnya jika anda juga berkunjung ke tempat-tempat tersebut jika anda sekeluarga ke Palembang. Diantaranya adalah sentra songket yang tidak hanya menawarkan kain songket khas palembang tapi juga berbagai cindera mata. Untuk wisata kuliner, selain pempek ada martabak har, yaitu martabak mini semacam telur dadar yang berisi daging dengan bumbu kuah santan dan sambal. Untuk wisata religi, ada Mesjid Agung Palembang. Selain itu tentu anda harus menyempatkan diri untuk mengambil foto di tempat yang benar-benar khas Palembang. Apalagi jika bukan jembatan Ampera dan Sungai Musinya. Jembatan Ampera yang berdekatan dengan Benteng Kuto Besak dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II terlihat lebih indah di malam hari. Dan tampaknya warga disana tak mengenal hari kerja maupun libur, sebab baik weekend maupun weekdays, lokasi tempat melihat jembatan Ampera yang gagah menjulang terlihat ramai.



Waktu berjalan-jalan pun usai, kami harus kembali pada aktivitas rutin. Saya ke Bandung dan Mas Trian ke field. 2 minggu lagi baru bisa berjumpa. Alhamdulillah untuk kesempatan menikmati indahnya melintasi selat, Alhamdulillah untuk kesempatan memijak bumi sumatera selatan, Alhamdulillah...

-18 Maret 2009-

Belajar Dari Sel Darah Merah

Manusia memiliki sistem organ yang sangat kompleks. Salah satunya adalah sistem kardiovaskular atau sistem sirkulasi. Komponen dari sistem sirkulasi adalah darah sebagai transporter, pembuluh darah sebagai jalannya dan jantung sebagai pompanya. Darah berperan dalam proses transport, pengaturan pH dan komposisi elektrolit, pembekuan darah, pertahanan tubuh serta menjaga/menstabilisasi suhu tubuh. Darah terdiri dari bagian utama yaitu plasma darah (55%) dan elemen darah (45%). Plasma darah sebagian besar disusun oleh air (92%), sedangkan elemen darah terdiri dari eritrosit, leukosit, dan platelet. Sekarang, mari kita fokuskan bahasan kita pada eritrosit yang darinya kita belajar banyak hal.

Eritrosit berperan terutama dalam transport gas. Ukurannya sekitar 7,5┬Ám, bentuknya cakram bikonkaf atau cakram pipih dengan bagian pusat lebih tipis dan lebih terang dari bagian tepinya. Bentuk ini menguntungkan karena permukaannya menjadi lebih luas untuk proses difusi gas (dibandingkan bentuk bola atau kubus). Eritrosit merupakan sel tidak berinti, tidak punya organel seperti sel-sel lain. Ia seolah-olah merupakan kantung untuk hemoglobin (Hb). Hb adalah protein eritrosit yang berfungsi dalam mentransport O2.

Eritrosit ‘didedikasikan sepenuhnya’ oleh Alloh untuk mentransport gas respirasi (O2 & CO2). O2 merupakan gas yang dibutuhkan oleh sel-sel tubuh kita untuk proses metabolisme. Sedangkan CO2 merupakan gas buangan yang harus dikeluarkan dari tubuh. Eritrosit tidak memiliki mitokondria sehingga energi yang diperolehnya berasal dari metabolisme anaerob (tidak membutuhkan O2). Oleh karena itu eritrosit tidak akan mengkonsumsi O2 yang ditransportnya. Hal ini membuat eritrosit sebagai pentransport yang ’efisien’ dan ’profesional’. Pelajaran pertama dari eritrosit adalah ”Amanah tanpa Pamrih”. Betapa sel yang suprakecil itu telah berbuat banyak untuk sel-sel sahabatnya yang lain. Mereka adalah sel-sel yang menyusun otak, lambung, usus, telinga, semuanya.. Eritrosit bekerja sesuai dengan perintah yang diberikan oleh sang Arsitek, yaitu ”mentransport”. Dan tidak ada korupsi, karena sekali korupsi ”energi”, maka tubuh akan lemah dan akan berdampak secara tidak langsung pada fungsi eritrosit itu sendiri. Subhanalloh..

Bagaimana eritrosit dibentuk? Pembentukan eritrosit atau disebut juga eritropoiesis terjadi di sumsum merah yang terletak pada tulang belakang, sternum (tulang dada), tulang rusuk, tengkorak, tulang belikat, tulang panggul serta tulang-tulang anggota badan (kaki dan tangan).

Eritrosit ini memiliki waktu hidup yang relatif pendek. Hal ini disebabkan gangguan mekanis dan kondisi internal eritrosit itu sendiri. Tidak adanya inti menyebabkan eritrosit memiliki sejumlah keterbatasan. Eritrosit tidak mampu mensintesis protein untuk tumbuh, atau untuk memperbanyak diri. Eritrosit lama kelamaan akhirnya menjadi tua dan kehilangan fleksibilitasnya. Eritrosit menjadi kaku dan rapuh.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 700 mil dalam 120 hari, membran selnya rusak dan hal ini dideteksi oleh sel-sel fagosit dan selanjutnya eristrosit ditelan. Lalu eritrosit baru memasuki sirkulasi dengan kecepatan yang sebanding dengan eliminasinya. Sekitar 1 persen dari eritrosit yang bersirkulasi diganti setiap hari, dan sekitar 3 juta eritrosit baru memasuki sirkulasi setiap detik untuk menggantikan peran ”pendahulu–pendahulu eritrosit”. Pelajaran kedua dari eritrosit adalah ”Kerja keras dan kaderisasi/regenerasi”. Eritrosit dalam 1 menit mengalami sirkulasi dari jantung ke seluruh bagian tubuh hingga akhirnya kembali ke jantung. Bukan pekerjaan yang ringan bagi makhluk Alloh yang mungil ini, itu sama halnya kita diminta berlari mengelilingi stadion senayan sampai ”KO” :p. Dan kelelahan ini pastinya akan sampai pada puncak sehingga harus ada yang menggantikan. Seperti panglima perang yang syahid di atas kudanya sambil memegang panji, maka harus ada yang kembali menjunjung panji itu hingga perang usai dan kemenangan di genggaman. Dan proses regenerasi tidak hanya dikenal dalam dunia manusia (makro) saja, tapi juga dunia sel (mikro) dimana markas sumsum merah atas perintah sistem pengaturan dan tentunya kehendak Alloh menjadi basis pencetak generasi fresh eritrosit yang akan kembali menunaikan ”amanah tanpa pamrih”. Dan begitu seterusnya.. wallahu’alam

Referensi :
1. Catatan kuliah ”Hematologi” (mata kuliah pilihan Farmasi ITB)
2. Essential Hematology, karangan A.V. Hoffbrand
3. Dinamika Obat, Edisi kelima, karangan Ernst Mutschler

I love U, Mom and Dad

“Harus ada yang kita ubah. Kalau kita mau mengingat nasihat Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah tentang anak-anak kita, tentang betapa mereka lahir untuk zaman yang akan datang dan bukan zaman saat kita menepuk dada hari ini, terasa betul bahwa kita harus membangun visi hidup mereka. Harus kita siapkan pendidikan mereka dengan pendidikan yang menghidupkan jiwa, menguatkan tekad, membangkitkan hasrat untuk berbuat baik, dan menempa sikap mental yang unggul untuk menentukan wajah masa depan dunia. Bukan hanya masa depan mereka”. Kalimat ini menjadi pembuka dalam buku Positive Parenting-nya Muhammad Fauzil Adhim. Kalimat yang cukup untuk mengantarkan pembacanya menuju lautan ilmu yang dalam mengenai cara-cara mengembangkan karakter positif pada anak.

Membaca buku ini bagi saya tidak hanya menjadi langkah persiapan menjadi orang tua, tapi juga napak tilas perjalanan orang tua saya dalam membesarkan putri-putrinya. Memang tidak sepenuhnya sama, namun justru ini yang menjadi celah bagi kita untuk belajar menyempurnakan pendidikan yang telah orang tua kita berikan. Siapa sih yang menginginkan generasi mendatang lebih buruk keadaannya? Teringatlah kita pada firman Alloh

”Dan hendaklah orang-orang pada takut kalau-kalau di belakang hari mereka meninggalkan keturunan yang lemah, dan mencemaskan (merasa ketakutan) akan mereka. Maka bertakwalah kepada Alloh dan berkatalah dengan perkataan yang benar” (Q.S An Nisa : 9)

Sudah menjadi fitrah bahwa salah satu tujuan pernikahan adalah mendapatkan keturunan. “Merupakan suatu kenikmatan yang hakiki jika suatu keluarga mendapat anugerah anak, dan itu perlu disyukuri. Namun apakah hanya sebatas mengucapkan hamdallah dan takjub dengan wujud bayi yang baru dilahirkan?”, begitu Bu Nia Raihanah S.Psi, Psych menyampaikan pendahuluan dalam parenting class yang diadakan oleh Salman ITB. Pertanyaan itu tentu menarik untuk dikaji bukan? Sebab betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya melahirkan. Sebagaimana banyak wanita disebut ibu semata-mata karena dialah yang melahirkan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orang tua. Bukan karena mereka memiliki kepatutan sebagai orangtua. Jadi tidak hanya sebatas hamdalah, itu hanya pembuka pintu gerbang menuju dunia yang sarat tantangan dan kemudahan, dihiasi tawa dan derai air mata, diiringi harapan dan ketakutan, hakikatnya dapat menjadi jalan ke surga atau ke neraka, yang disebut world of parenting.

Membaca buku dan mengikuti kelas yang sebagian besar muridnya adalah orang tua ini membuat saya ingin menyatakan “Ayah, Bunda, aku mencintai kalian”. Betapa tidak, tugas keayahbundaan yang bergantung di pundak mereka sejak saya lahir ke dunia begitu berat dan melelahkan, tapi mereka tak pernah berpikir menyesal memiliki saya. Dan rasa-rasanya, orang tua yang normal tidak akan pernah menyesal atas kehadiran seorang anak di dunia, meski kadang tak selalu sejalan dengan harapan mereka. Namun dengan membaca buku ini pula, terlintas keinginan bertanya “Mengapa aku tidak seperti mereka, Ayah, Bunda? Mengapa tak kau ajarkanku ini dan itu? Mengapa tak kau tanamkan padaku ini dan itu sedari kecil? Mengapa tak kau didik aku seperti ini dan itu?”. Bukan salah bunda mengandung, jika saya adalah saya apa adanya. Tapi ini bukan ajang pembenaran atas segala karakter saya yang buruk, bukan, apalagi menyalahkan mereka yang telah berpayah-payah membesarkan saya. Pertanyaan-pertanyaan ini justru harus menjadi landasan saya untuk membesarkan generasi yang lebih baik, lebih baik dari ibu dan ayahnya, kakek dan neneknya.

Ah, kenapa tidak saya gunakan subjek ‘kita’ atau ‘seseorang’ dalam tulisan ini? Kenapa saya gunakan subjek dan sekaligus objek ‘saya’? Tidak lain karena ingin berbagi hikmah secara langsung dengan teman-teman secara jujur. Mengapa saya menulis tema parenting ini? Agar kita mau menyisihkan sebagian waktu untuk belajar ilmu yang membuat kita bersyukur akan ayah-bunda kita sekaligus menyiapkan generasi yang akan memberi bobot pada bumi dengan serangkaian kebaikan dan keshalihan.

-18 Desember 2007-

Perang Bubat Di Parijs Van Java

Menyoroti perdebatan tentang Perang Bubat di berbagai milis memang asyik (menurut sebagian orang) apalagi bagi mereka yang mencintai sejarah atau hendak menguak tabir sejarah yang telah mereka warisi dari para leluhur. Tapi belum lengkap rasanya jika tidak menghadiri diskusi antara Langit Kresna Hariadi dan Hermawan Aksan tentang buku mereka berdua di PVJ (Parijs Van Java) Bandung, 4 Juli kemarin. Acara yang menjadi bagian dari pameran buku seminggu ini memang sengaja dihadirkan, selain untuk mengupas tuntas buku Perang Bubat nya mas Langit Kresna dan Dyah Pitaloka nya Kang Hermawan juga untuk mempersilakan pembaca “mengapresiasi” atau bahkan “menghakimi” kedua penulis.

Di awal diskusi, moderator bertanya pada audiens perihal siapa yang telah membaca novel Dyah Pitaloka atau Perang Bubat. Tersebutlah 2 orang yang mengacungkan tangan sambil malu-malu, salah satu diantaranya adalah saya. Karena itu, saya dan mas galih (salah seorang audiens yang juga mengacungkan tangan) diminta untuk menceritakan kesan terhadap buku tersebut. Deg degan bukan main. Yang saya sampaikan adalah pertama:permohonan maaf pada mas Langit Kresna karena belum sempat membaca bukunya, kedua:lebih suka membaca novel sejarah dibandingkan teori sejarah yang menjemukan, ketiga:ending Dyah pitaloka yang menjadikan Gajah Mada sebagai penguasa yang tidak memiliki cinta nampaknya terlalu emosional, bukankah catatan sejarah Gajah Mada memang misterius? Karena di balik kedigdayaan seorang Patih idola Indonesia itu juga tersimpan cinta, karena fitrahnya adalah manusia biasa?, keempat:dari kisah itu saya baru menyadari bahwa mitos pertentangan “jawa-sunda” begitu mengurat akar, dan butuh waktu hingga ribuan putaran rembulan bertengger di langit malam.

*Sayangnya cuma dapet dorprize berupa voucher dari greenherbs, dikirain bakal dapet buku plus tandatangan mereka berdua

Akhirnya diskusi dimulai dengan penyebaran hand out 3 lembar tentang Perang Bubat. “Hand out ini dibuat oleh Trian Hendro, dia secara pribadi berdiskusi dengan saya tentang sejarah Jawa-Sunda, beliau bahkan menangis karena tidak bisa hadir disini”, aku Hermawan Aksan. Ck.ck.ck..salut lah. (ck..ck..ck sekarang Mas Hendro ini nak jadi suamiku :)..tak disangka..tak diduga)

Langit Kresna dan Hermawan Aksan punya latar belakang yang berbeda tentang tema sentral tulisan. “Mau anda sebut ini novel yang menguras emosi atau catatan tentang politik gajah mada, itu terserah”, tandas mas Langit. Sedangkan kang Her menyebutkan, “Saya hanya mau mengungkapkan makna yang sederhana, yaitu cinta. Dan salah satu faktor perang bubat adalah gajah mada tidak memiliki cinta”. Mas Langit memang sempat mendapatkan kritikan bahwa novel yang dibuatnya mengada-ada, tidak berdasarkan pada riset yang valid. Namun dalam kata pengantar di buku Perang Bubat karangannya, dia mengakui bahwa mempelajari sejarah untuk menelurkan buku tersebut sangatlah membutuhkan waktu dan perhatian ekstra, tidak hanya proses pengerjaan dan risetnya saja.

Mas Langit yang jawa dan beristrikan wanita sunda asli dayeuh kolot mengarahkan pendengar pada 1 pertanyaan, siapakah yang menyerang lebih dahulu? “Yang lebih dahulu tersinggung, dia yang menyerang”,ungkapnya. Dari kalimat itu saya tangkap, Sunda lah yang menyerang duluan. Lalu siapakah yang salah? “Ini bukan persoalan orang jawa atau sunda, atau siapa yang salah dan yang benar, tapi ini masalah sudut pandang. Sudut pandang satu adalah gajah mada jengkel dengan kerajaan sunda yang tidak mau bergabung (menjadi taklukan majapahit) padahal ongkos yang dikeluarkan majapahit untuk mengamankan pertahanan kelautan sangat besar, sudut pandang yang lain adalah kerajaan sunda merasa dilecehkan”, jawab Mas Langit. Sedangkan kang Her, yang ternyata asli brebes itu (lho..?), menjawab bahwa “Secara umum, sunda dan jawa tidak salah. Namun agar alur cerita lebih dramatis, kesalahan ditimpakan pada satu orang”. ”Saya tidak begitu hafal silsilah kerajaan jawa-sunda yang ternyata bersaudara itu, namun yang namanya cerita kan harus ada pemeran antagonisnya agar lebih seru”, tambah Kang Her.Well, ternyata itulah Gajah Mada.

Bagaimana sih komposisi fakta dan fiksi dalam kedua buku ini? Jika ini fiksi, apalah yang diperdebatkan? Perdebatan yang akhir-akhir ini marak di milis adalah seputar peran Gajah Mada. Yang jelas, masing-masing buku menyimpan kekuatan karakter dari setiap penulisnya. Tentunya, pembaca juga menginginkan fakta yang jujur tentang perang bubat itu yang konon tidak tercatat dalam negarakertagama. ”Memang sebagian besar adalah fiksi, namun ada beberapa fakta yang tidak saya ganggu gugat, misalnya Dyah pitaloka kawin lari dengan wirayudha, itu kan gak mungkin”, jelas Kang Her. Ya,yang namanya kisah tidak semua berakhir dengan bahagia, sama halnya kita mengenal Surga dan Neraka.

Stereotip budaya yang berkembang adalah mengenai perkawinan jawa-sunda, bahwa pria sunda jika menikah dengan wanita jawa maka akan awet rajet, bertengkar terus, dan juga sebaliknya. Buku Dyah Pitaloka hadir untuk menumbangkan stereotip tersebut dengan filosofi ”cinta” nya. Tentu saja, mitos ini tidak berlaku bagi kedua penulis karena ternyata keduanya beristrikan perempuan sunda (dengan asal usul kang Her yang ternyata Brebes..lho). Tapi bagi mas Langit, ia harus melampaui 12 bulan untuk diterima di keluarga sang istri, mengharukan.

Diskusi sudah berlangsung 1 jam hingga akhirnya kedua penulis membeberkan rahasianya. Langit kresna saat ini sedang membuat proyek gila-gilaan, yaitu menerbitkan novel 3 bulan sekali, sebanyak 10 jilid dengan tebal halaman masing-masing 832 halaman. Rumusnya adalah, bangun tidur kemudian menulis 3 halaman lalu berkativitas, lalu istirahat lagi, lalu menulis lagi 3 halaman, begitu seterusnya selama 24 jam seharian di dalam rumah. Sedikit ia membocorkan tema novelnya yaitu tentang beliung dari timur, kisah tentang candi murca. Hermawan Aksan tidak kalah produktif, ia berencana akan menulis novel lagi yang mengisahkan tentang pengembaraan Wastukencana, adik Dyah Pitaloka Citraresmi, menyusuri jawa timur untuk membalaskan dendam keluarganya. Tentunya ini fiksi. Wuih, kami tunggu karya bapak-bapak semua.

Diskusi ditutup dengan pernyataan dari mas Langit tentang pesan dari buku tersebut, ”Saya hendak meluruskan pernyataan Trian bahwa saya tengah menjadikan prajurit-prajurit Gajah Mada sebagai kambing hitam. Menurut saya, secara realistis di sekeliling kekuasaan selalu terdapat penjilat. Mahapatih punya pendukung dan juga penentang. Kemudian jangan ragu jika anda jatuh cinta dengan orang jawa dan sebaliknya”. Hm, pesan yang tidak begitu saja dapat meruntuhkan bangunan paradigma kebuadayaan yang menjulang tinggi, antara tanah jawa dan sunda. Sedangkan Kang Her menutup dengan ungkapan membesarkan hati bahwa buku ini tidak ia buat hanya untuk orang sunda, atau untuk orang jawa tapi untuk rakyat Indonesia.

Begitulah liputan singkat perang bubat di parijs van java. Tidak ada samudra merah yang menenggelamkan mentari senja, atau lautan darah di tanah tegal bubat. Tidak ada kilatan keris yang beradu dengan kujang, atau deru teriakan para kesatria kerajaan. Yang ada adalah pengumuman bahwa tanggal 7 juli Andrea Hirata akan ngobrol bareng Riri Reza tentang ”Aspek Filmis Tetralogi Laskar Pelangi” jam 4 sore, tetap di parijs van java, bandung tercinta.

-5 Juli 2007-