Sunday, October 30, 2016

"Berpisah" Di Eropa

Hari itu, jam di stasiun Central Amsterdam menunjukkan pukul 10.30. Saya, Mas Trian dan Safa sudah siap naik kereta menuju Stasiun Paris Nord. Tanpa bertanya2, kami langsung naik kereta yang sedang parkir di jalur yang bertuliskan Brussel. Info dari app Eurail, kereta tujuan Paris akan berhenti di Brussel (lupa nama Stasiunnya). Saya duduk di samping Safa, sedangkan ayahnya menyimpan ransel dan koper di kabin. Masih 20 menit menjelang berangkat, Mas Trian meminta izin untuk membeli roti di Albert Heijn (AH), semacam indomaret, di lantai bawah. Tentu saja kami izinkan, kebetulan si bumil juga lapar.

Safa sudah siap dengan buku kecil dan pensil, hobinya adalah menulis selama di kereta. Sekitar 5 menit sejak Mas Trian pergi, tiba-tiba, kereta yang kami tumpangi, bergerak..pelan...bergerak dan kereta terus melaju. Saya bengong, bingung, panik, takut, semua campur jadi satu. Ini kereta mau kemana? Kenapa sudah berangkat? Suami saya manaaa? Dan paling penting bagaimana nasib saya dan Safa? 

Sebelum logika dan nalar bekerja, tentu saja saya nangis dulu, nangis yang diatur supaya Safa gak ikut panik, gak ikutan khawatir kalau ternyata ayahnya 'ketinggalan'. Alhamdulillah untungnya semua dokumen perjalanan ada di tas, di kabin kereta. Mas Trian hanya membawa dompet ketika pergi ke AH. Sambil mengatur nafas saya buka tas, saya baca itinerary, saya buka ticket Eurail kami, saya cek App Eurail yg sudah jauhari terinstall di hape kami masing-masing, saya tanya penumpang di belakang tujuan akhir kereta yang kami tumpangi. Di tengah pencarian itu, saya coba telepon dan WA Mas Trian, tapi belum berhasil. Seketika saya menyesal kenapa tadi saya izinkan Mas Trian beli roti, kenapa kami harus pisah? Berpisah di Eropa... 

Saya coba cocokkan info destinasi dan waktu perjalanan yang tertera di ticket kami dengan data di app Eurail, gimana caranya supaya Mas Trian bisa menyusul, Mas Trian harus naik kereta apa? Padahal tiketnya ada di Saya. Bagaimana kalau Mas Trian gak boleh naik kereta kalau gak punya tiket? Kalau bisa naik dimana kami harus bertemu? Bagaimana jika kereta saya bergerak ke Selatan sedangkan Mas Trian ke Timur? (Haha..lebay). Saya percaya Allah pasti akan menolong kami, entah bagaimana caranya. Dan air mata gak berhenti ngalir...huhuhu.. (usap perut)

Sampai akhirnya ada notifikasi WA di hape saya, dari pak suami yang saya rindukan sekaligus ingin saya marahiiiii. Isinya singkat :"Bunda, maaf ya, kita jadi terpisah". "Bunda jangan panik". "Bunda nanti turun di stasiun Anvers Berchem ya". "Ayah ada di belakang bunda". Nafas saya masih belum teratur, sesak, ingin meledak, tapi saya ingat ada bayi di dalam perut, saya atur nafas kembali. 

Kereta berhenti di suatu stasiun, saya perhatikan tulisan nama stasiunnya, sambil mencocokkan dengan data di App Eurail. Data di App Eurail memang lengkap, tidak hanya informasi nama stasiun yang akan dilewati kereta tapi juga waktu singgah di setiap stasiun. Dan waktu singgah di Stasiun Anvers Berchem itu hanya sekitar 4-5 menit sajahh. 

Kereta lalu berhenti di Stasiun yang saya tuju, dengan segera saya pakai tas ransel besar, lalu mengambil koper, tas backpack, tas jinjing, tangan kanan memegang erat tangan Safa yang baru berhasil Saya bangunkan sesaat sebelum sampai, tangan kiri mengelus janin 6 bulan dalam perut. (Haha.. dramatis pisan). Melihat kami ibu hamil dan anak berwajah Asia yang tampaknya kerepotan, ada 2 orang penumpang yang membantu kami turun ke platform. Gak terbayang apa jadinya jika saya tidak dibantu oleh mereka, karena saya, dengan segenap babawaan harus cepat2 keluar dalam waktu yang sangat tidak manusiawi untuk singgah.

Lalu kami menunggu di kursi peron sambil memerhatikan setiap kereta yang berhenti dan memastikan kereta mengangkut pimpinan perjalanan kami yang ketinggalan di Amsterdam. Hiks

Akhirnya satu kereta berhenti, salah satu pintunya terbuka tepat di hadapan kami. Satu persatu penumpang keluar hingga muncullah sosok Sang Ayah. Dia tersenyum, menghampiri kami, bergegas memeluk kami sebelum saya marahh. Saya balik memeluknya  sambil berpesan penting, "Nanti-nanti kita gak boleh berpisah, Ayah, walau hanya satu detik". Bumil lebay..

Drama pun usai.. nafas saya kembali teratur. Alhamdulillah kami bisa berkumpul lagi.

Kami melanjutkan perjalanan dengan kereta lain menuju Paris. 

Tiba-tiba Mas Trian bertanya "Bun, keresek yang isinya oleh2 mana ya? 

Saya cari.. gak ketemu.. sepertinya tertinggal di kabin kereta tadi yang menuju Brussel.

Dan nafas saya mulai tidak teratur lagi..  

-The End- 

No comments: